Memaknai hidup dengan memberi arti untuk hal-hal yang kecil ..... Menjalani hidup dengan apa adanya ..... Mensyukuri dan menikamati kekurangan yang ada

Tuesday, November 26, 2013

Bus Tak Berhenti Henti dan Berhawa Dingin

Cuaca hari pertamaku di Malaysia sangat bersahabat. Seharusnya dengan kondisi geografis yang tidak berbeda dengan Indonesia jam jam segini ini sedang teriknya matahari, namun hari ini tidak, awan diatas Kota Pontian mampu menahan cahaya matahari tidak sampai kebumi, sementara angin berhembus semilir menerpa lembut riap rambutku yang agak panjang, Aku duduk tenang dibangku panjang dengan pandangan menghadap tempat parkir bis, lenggang. Jam 4 sore bis baru berangkat, kata Bu Tin tadi sehabis dari loket pembelian tiket bis, 2 jam lagi, kataku dalam hati.
Dibangku panjang aku masih sendirian, Bu Tin pergi ke Surau di komplek terminal, aku sendiri sudah menjalankan kewajibanku sesampainya kami tiba di terminal bis. Kuputar pandanganku mengelilingi terminal,
Hamparan luas dengan bangunan ruang tunggu nyaman (seperti) berada ditengah tengah, dibelakang tempat aku duduk, tempat masuk, parkir dan keluar kereta sapu, lahannya sedikit kurang luas dibanding dengan
tempat pemberangkatan bis, komplek terminal yang terjaga kebersihannya, benar benar bersih tanpa sampah berserakan, lantaipun berkeramik putih mengkilat, pasti tiap hari tak lupa untuk dipel, kalau saja ada abu rokok jatuh dilantai pasti akan nampak. Ditempat strategis dan mudah dilihat orang terpampang tulisan besar : No Smoking Area, atau Clean and Carry, yang saya lihat orang orang yang ada disini patuh, dari tadi tidak ada kulihat orang menghisap rokok. Anak kecil yang duduk dibangku, 'rela' berjalan menuju tempat sampah membuang bungkus kembang gulanya.
Selama aku duduk, sudah beberapa bis masuk untuk menurunkan penumpang, lalu menaikkan penumpang, kemudian keluar meninggalkan terminal. Dari papan trayeknya kubaca, jurusan Johor Bahru dan Muar. Penumpang yang turun dan naik tidak begitu banyak, kuperhatikan dari bis yang pertama hingga terakhir (sebelum bis yang akan membawaku ke Kuala Lumpur datang) paling banyak 5 orang. Dari kebiasaanku belajar dari melihat inilah aku memperoleh pelajaran cara memasuki bis. Orang pertama berdiri agak kebelakang didepan pintu masuk supaya tak menghalangi penumpang yang turun, orang kedua akan menyusul berdiri dibelakang orang pertama, orang ketiga dibelakang orang kedua begitu seterusnya. Mereka baru naik setelah penumpang yang turun sudah tidak ada lagi. .. Tertib dan disiplin (taat pada peraturan), belakangan aku mengetahui kebiasaan yang diwarisi Inggris ini sudah tertanam dan berurat berakar pada warga Malaysia dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.
Karena kebiasaan antri ini sudah membudaya bagi penduduk Malaysia, mereka secara otomatis akan sabar menunggu hingga kegilirannya tiba, tanpa harus dipaksa tertib misalnya antrian dijaga satpam seperti di Indonesia (he .. he ..). Jadi .. kalau toh ada tulisan SILA BERATUR didepan loket pembelian tiket bis Naela, mungkin hanya pemanis saja atau diperuntukkan bagi warga negara lain yang tidak biasa mengantri. Lain halnya dengan Bu Tin yang memang syarat pengalaman hidup di Malaysia. Dia tetap menunggu giliran dibelakang orang yang sedang dilayani penjual tiket, padahal bisa saja berdiri disamping orang  pertama tadi, karena pembeli tiket waktu itu cuma 2 orang.
Kegemaran akan bacaan dan atau tulisan apa saja dan dimana saja ada tulisan pasti akan kubaca, dan sedikit banyak membuat aku berusaha untuk memahami arti tulisan tersebut. Nah .. ketika Bu Tin menyodorkan 2 tiket untuk kubawa. Aku membaca tulisan yang ada ditiket. Lembaran tiketnya sih sama seperti tiket bis di Indonesia, berupa  formulir (borang orang sini bilang) yang harus diisi nama penumpang, tujuan kemana, dari mana, berangkat tanggal dan jam, Nopol bis. Yang beda pada keterangan dibawahnya :  Bas Tak Berhenti Henti (Patas-Indonesia), Bas Berhawa Dingin (AC-Indonesia), yang membuat aku geli adalah : Beli 10 tiket, percuma 1, maksudnya beli tiket 10, gratis 1 tiket.
 10 menit sebelum pukul 4 sore, Bis Naela memasuki terminal.
"Ayo Pak Pri, itu bisnya datang", Bu Tin mengajakku berjalan kearah bis mengikuti calon penumpang lainnya.
Satu persatu kami memasuki Bis yang akan mengantar kami ke Ibu Kota Negara. Aku dan Bu Tin mendapat tempat agak ketengah. Setelah penumpang naik semua, ada pengecekan, tak berapa lama Bis meluncur meninggalkan Kota Pontian tepat jam 4 waktu setempat.
Kalau kelelahan fisik sih tak seberapa, mungkin karena pikiranku yang terbebani selama dipenampungan para calon TKI ilegal ini yang membuat otakku luar biasa capai, ini kerugian bagiku karena aku kehilangan kesempatan untuk menikmati perjalanku. Ya .. aku tertidur pulas diatas Bas Tak Berhenti Henti dan Berhawa Dingin.
...
(Berikutnya : BisKota itu Intra Kota)

Monday, November 25, 2013

Kereta Sapu

Setelah sukses melewati pintu masuk Negara Malaysia, Pelabuhan penyeberangan antar negara, Kukup, Kami (Aku dan Bu Tin, pengantar sekaligus pengatur perjalananku hingga sampai aku bekerja dinegara tetangga ini) berjalan kaki menyusuri jalan beraspal terawat, dikiri kanan jalan berderet rumah penduduk yang sekaligus merangkap kedai (warung), ada kedai runcit (menyediakan barang keperluan sehari), kedai makan, kedai penukaran uang. Aku kadang tersenyum simpul membaca berbagai tulisan yang terpampang disetiap papan promosi yang kujumpai, sedangkan Bu Tin acuh saja, berjalan cepat, maklum dia 'kan biasa keluar masuk Malaysia.
Dikedai penukaran uang yang agak kecil Bu Tin Masuk, tanpa berbicara banyak wanita lincah separuh baya ini mengeluarkan segepok uang rupiah, tak berapa lama 'gepokan' rupiah sudah berubah jadi lembaran ringgit. Kebiaasanku, jarang bertanya tapi belajar dari melihat, saat sipemilik kedai menghitung uang sempat kulihat beberapa lembar uang Rm.10,00 satu lembar uang warna merah Rm.5,00 warna keunguan dan 2 lembar  Rm.2,00 warna coklat. Ada keinginanku untuk memegang uang dari lain negara ini, tapi Bu Tin tak memahami keinginanku. Enak sekali lembaran ringgit itu  masuk kedalam tasnya. Kalau saja ada uang rupiahku, pasti aku sudah tukar sendiri. Aku mengelus dadaku .. 2 bulan lebih, selama aku dipenampungan (sama sekali) tak pernah pegang uang.
"Pak Pri, kita tunggu kereta sapu yang dari Pontian", kata Bu Tin sambil keluar dari kedai.
Aku diam saja tidak paham arah pembicaraan Bu Tin.
Sekitar 15 menit kami duduk dibangku panjang diluar kedai. Tiba tiba didepan kami, sedan berwarna kuning bagian atas dan hitam dibagian bawah berputar dan berhenti didepan kami.
"Pontian ..?" teriak sopir dari belakang kemudi.
"Ayo Pak Pri ..", Bu Tin mengajakku menaiki kereta.
Didalam sedan aku duduk diam, memikirkan dua keanehan yang kualami, yang pertama, sedan dengan warna yang sama, sempat kulihat tadi sekeluar dari gerbang pelabuhan, mungkin lebih dari 5, tapi bu Tin memilih berjalan kaki dulu hampir 200 m, kalau alasannya mau menukarkan uang, toh disitupun ada kedai penukaran uang, bahkan kedainya lebih besar.
Sepertinya Bu Tin tahu apa yang kupikirkan, dengan berbahasa Jawa dia menerangkan :
"Pak Pri, kereka sapu yang didepan gerbang tadi, ongkosnya mahal, kadang sampai 20 ringgit, kalau disini cuma 2 ringgit sudah sampai di Pontian. Lha wong kedai penukaran uangnya saja 'mahal' kok, makanya Bu Tin pilih disini sekaligus nunggu kereta."
Aku masih diam.
"Sopirnya juga kadang maksa untuk mengantar sampai ditempat tujuan kita, ongkosnya ..? jangan tanya, mahalnya minta ampun" lanjutnya.
Yang kugaris bawahi dari keterangan Bu Tin tadi, Nilai mata uang rupiah akan lebih rendah jika ditukar dikedai yang dekat pelabuhan.
Untuk keanehan yang kedua, masih ada dalam pikiranku dan (yang ini) Bu Tin tidak tahu apa yang kupikirkan.
Kereta sapu berjalan pelan, sementara penumpangnya baru kami berdua, Kukup tidaklah begitu besar, hanya beberapa menit saja kendaraan kami sudah melintasi perkebunan kelapa sawit. Aku kagum, kebun kelapa sawit dikiri kanan jalan ini terawat baik, bahkan boleh dibilang memperhatikan kebersihan dan keindahan, rumput dibawahnya seperti dipotong rapi. seperti rumput lapangan sepak bola. Tak ada pemandangan lain selain tumbuhan kelapa sawit, terkadang ada juga 1 atau dua rumah yang berhalaman luas dan juga terawat, yang kuperhatikan disetiap rumah pasti terparkir mobil entah itu sedan atau mini bis.
Disetiap jalan lorong masuk kebun kelapa sawit pak sopir akan memperlambat laju sedannya dan menyempatkan melongok kelorong, awalnya aku tidak tahu kenapa dia berbuat begitu. Nah .. dilorong yang kesekian barulah aku tahu, ternyata dilorong kadang ada penumpang yang menyetop. Jumlah penumpang jadi 4 orang, 3 dibelakang, 1 didepan bersebelah dengan pengemudi.
Dengan bertambahnya penumpang, sang sopir berjalan ngebut, tak peduli biar didepannya ada lorong, jangankan lorong ada orang nyetoppun kereta tetap laju.
Sampailah kami di Bus Stand (terminal kecil) Pontian. kami turun, dan kulihat Bu Tin menerima uang kembalian Rm. 6,00 setelah dia angsurkan 10 ringgit.
Sahabat .. pasti penasaran dengan apa yang kupikirkan yang satunya lagi dikereta sapu tadi. Sebetulnya sih nggak penting penting amat, itu lho kenapa sedan angkutan penumpang ini disebut kereta sapu, kenapa kok nggak taksi saja. .. Jawabannya kuketahui setelah berbulan bulan aku tinggal di Kuala Lumpur.
Waktu itu aku mau pulang dan hari sudah jam 10 malam, tentu akan lama sekali kalau aku menunggu bis Kota (disini disebut Intra Kota), cuma satu angkutan yang masih agak banyak, taksi. Ditempat aku berdiri aku selalu menghentikan taksi yang lampu diatas atas atapnya (bertuliskan taxi) menyala. Setiap ku stop, taksi akan berhenti kira2 20 m dari tempat berdiri. Selalu begitu. Ternyata kekeliruanku (aku tidak tahu kalau aku keliru) diperhatikan pemilik rumah yang masih duduk diteras rumahnya.
"Awak nak naik taksi ke ..?"
"Iye encik"
" Awak kene jalan sikit ketempat penghentian teksi kat sane, di KL ini takde lah kereta sapu yang berhenti dimerate tempat"
"Iye encik, .. terime kasih", kata tersipu malu.
Dipenghetian taksi yang berupa 2 pagar stenlis satu lajur aku berdiri, tak berapa lama tanpa aku menyetop taksi, taksi sudah berhenti persis pintu belakang ada didepanku.
"Turun kat mane encik ..?", tanya sopir taksi setelah aku duduk.
"Green Wood", jawabku.
Kereta Sapu .. eh .. taksi warna putih diatas dan merah dibawah ini meluncur membelah malam.
...
(berikutnya : Bus Tak Berhenti Henti dan Berhawa Dingin)