Memaknai hidup dengan memberi arti untuk hal-hal yang kecil ..... Menjalani hidup dengan apa adanya ..... Mensyukuri dan menikamati kekurangan yang ada

Wednesday, October 7, 2015

Episode Akhir Sang Bomoh Sungai Pelong

Tahun 1997 - akhir 1998, negara-negara di Asia Tenggara mengalami krisis ekonomi, tak juga luput negara maju seperti Malaysia juga terkena. Menurut pakar ekonomi, musibah ini dikarenakan ulah seorang pialang asal negeri nun diseberang sana, George Soros, sampai-sampai, karena kesal dan kelewat jengkel, PM Malaysia, yang dikenal santun, bijak dan berwibawa, melontarkan perkataan mengejutkan, bahwa George Soros, adalah perampok. Untuk menyelematkan keuangan negaranya, PM. Tan Sri Mahathir Muhammad mengambil jurus jitu yang pro rakyat, rakyat diminta untuk menahan diri untuk berbelanja yang tidak perlu dan dihimbau untuk meminum teh tanpa gula hingga siutuasi ekonomi membaik. Sifatnya himbauan, tapi jangan salah anjuran ini ditaati oleh warga Malaysia. Kebijkasanaan yang diambil pemerintah sangat sederhana dan mudah untuk diterjemahkan oleh seluruh warganya, makanya  tidak heran kalau krisis ekonomi dinegara ini cepat teratasi. (Maaf, kalau saya sempat membandingkannya dengan anjuran Pemerintah Indonesia dalam pidatonya saat itu, bahwa rakyat Indonesia diminta untuk mengencangkan ikat pinggang. Saya mengartikannya, kami harys siap menahan lapar (?). Waduh ..)

Tidak bisa tidak, kami para pekerja dari Indonesiapun terkena imbas dari situasi ini, proyek binaan dihentikan semenatara, kami diistirahatkan. Bagi yang memiliki permit kerja masih menerima gaji separo perharinya, sedangkan yang pekerja ilegal, tidak menerima gaji sama sekali, hanya saja kami diberi pinjaman untuk keperluan sehari-hari yang akan dibayar ketika kami kerja nanti. Meskipun tak ada pekerjaan, tapi kami tak perlu mengencangkan ikat pinggang. masih ada uang pinjaman, walau kita harus pandai mengatur pengeluaran keuangan kami.

Aku.. diminta Herman untuk tinggal dirumahnya, Kg. Changkat,  kurang lebih 2 km masuk kedalam dari GBC (Gombak base Camp), ini sesuai rencananya sewaktu kami, aku dan Herman masih tinggal di Sungai Pelong. Sedangkan Om Anton, Sukarman dan Toni, tinggal diproyek binaan di Batu Caves, ikut Pak Mul, tangan kanan Touke A Kiong pemborong kerja kayu, yang lebih suka dipanggil A Pek. Kalau pekerjaan sudah berjalan Sukarman berjanji untuk menjemputku.
Rencana yang kami susun yaitu meneruskan profesiku (pura-pura) sebagai dukun. Kenapa harus dirumah Herman ? Ternyata disini pernah tinggal seorang dukun (kata Herman dukun palsu) Bentar namanya,  berasal dari satu daerah dengan Herman. Pertimbangannya dengan aku berdukun dirumahnya akan cepat dikenal, karena masih banyak pasien Bentar yang berdatangan untuk dimaterai,  padahal Sang Bomoh sudah lama pulang ke Indonesia. 
Ide yang cemerlang (he .. he .. ternyata aku mulai menikmati pekerjaan bohongku), aku menyetujuinya dengan satu syarat segala yang diakibatkan oleh ulahku ini akan ditanggung sendiri - sendiri tanpa melibatkan teman.

Aku buka praktek sore hari, sebelum azan maghrib aku sudahi pekerjaanku, kalau masih ada pasien, Herman yang bertugas penerima tamu (?) akan mempersilahkan datang esok hari, dengan saran untuk datang lebih awal. Dari hasil kerjaku ini, terasa hidupku tercukupi (hanya untuk hidup di Malaysia, tidak ada hasil dari berdukun ini kukirim ke Indonesia), bahkan lebih dari layak. Hal ini karena aku menggunakan aji mumpung dengan mengkomersilkan keahlianku mempengaruhi jalan pikiran mereka. Apa lagi yang datang kebanyakan bukan pasien sakit, tapi orang berduit yang  ingin beristri lagi, pengin tambah ditakuti bawahan, pengin diterima bekerja atau pengin naik jabatan. Jika yang datang ingin berobat, adalah tugas Herman untuk menolaknya. Ha .. karena aku sama sekali nggak paham tentang penyakit apalagi menyembuhkannya.

Untuk memuluskan usahaku, kepada para tamu aku tak segan-segan mengaku sebagai ajudan bomoh yang dulu pernah tinggal disini. Kuceritakan juga selama ini aku buka praktek di Sungai Pelong, lalu pindah ke Kp. Changkat untuk menggantikan Bentar. Karea aku orang dekat Bentar, mereka makin percaya keahlianku, ini bisa kutahu karena mereka berkali-kali datang. Hanya saja aku salah duga, pengakuanku yang kukira membuat aku makin sakti dimata mereka, ternyata  berujung celaka.

Seseorang diluar rumah mengucapkan salam. Herman membuka pintu dan mempersilahkan masuk ternyata bukan seorang tapi 3 orang tamu, semuanya pria. Aku mempersilahkan duduk, dikarpet. ruang tamu kami tidak bermeja dan berkursi tamu, bukan sekedar alasan praktis, lebih pada pertimbangan ekonomis. Kalau kami pindah rumah tak perlu kami repot mengusungnya, begitu juga  perabotan lainnya, kalau memang bisa dijual, kami jual, kalau tidak laku ya .. ditinggal.
Mula mula tamu kami ini bersifat ramah, mereka mengatakan perihal kedatangannya, rupanya mereka merasa menjadi korban Bentar, yang dimintai uang mahar untuk sebongkah batu yang berkasiat,  sayangnnya hingga sekarang azimat itu tidak pernah mereka terima. Dan aku sebagai ajudannya diminta untuk bertanggung jawab harus mengembalikan uang mereka. Aku tidak langsung menolak permintaan mereka, kawatir terjadi keributan. Kusuruh mereka bersabar, bulan depan Bentar akan datang dari Indonesia (satu alasan yang kucari-cari, tidak ada kebenarannya sama sekali). Ke-3 orang ini tidak mau tahu, pokoknya malam ini juga mereka harus pulang dengan membawa tuntutan mereka.

Terjadi perdebatan. Situasi memanas. Tiba-tiba dengan kecepatan layaknya pesilat tangguh, tamu yang tepat didepanku melesat dan mencengkeram kerah bajuku dan tangan kanannya mengancam mukaku dengan kepalan tinjunya.
"Nak ini ..!", teriaknya.
Herman langsung melompat dan duduk diantara aku dan penantangku, lalu mendorong lelaki yang mau meninjuku, hingga terjatuh telentang, namun dengan sigap dia berdiri, disusul Herman ikut berdiri. Situasi tambah runyam, karena dua laki-laki lainnya ikut berdiri dan mulai mengepung Herman.
Ditengah suasana genting, tak disangka 4 orang masuk dalam rumah yang tak tertutup pintunya. Dengan tampang seram 4 orang yang baru masuk ini matanya melotot kearah dan mendorong-dorong keluar ketiga tamuku tadi.
"Pulanglah, tak payah balik sini lagi",
"Ok, kami pulang, tapi persoalan belum lagi selesai".
"Hah .. apa awak cakap ? Awak nak ugut kami, Jangan awak tampakkan batang hidung awak di Changkat ini kalau nak selamat. Camkan ini", kali ini giliran sipenolongku yang mengacam.
Dua orang kawannya cepat menarik keluar, dari pada perekelahian tak seimbang, mundur tentu saja lebih aman.
"Padam muke ..", Herman dengan logat kental kejawa-timurannya berteriak tertahan.

Esok harinya, aku dan Herman bersiap pergi, pintu sudah kami gembok. Sementara kami akan mengungsi dulu di GBC.
"Jum .. berangkat",
"Jum .."
Aku masih terpaku didepan pintu, membaca lagi tulisan disecarik karton yang kami siapkan tadi malam : BOMOH TAK BERLESEN, MASUK LOKAP, artinya dukun tak berijin dipenjara.

***
(Berikutnya : Sukarman Menyerahkan Diri)

Catatan :
Siapakah keempat penolongku tadi ?
Mereka adalah anak-anak kampung yang berlagak preman. Hampir setiap malam mereka datang mengunjungi kami, untuk sekedar merokok, minum air tin serta kue. Kami tak keberatan dengan kedatangan mereka, toh .. rokok, air tin dan kue yang kami suguhkanpun kami peroleh dengan gratis dari tetamu kami.













Sunday, October 4, 2015

Bomoh Sungai Pelong (Bagian 3)

Dari Kuala Lumpur ke Sungai Pelong kami bisa naik kereta api (KTM) atau Bis PO. Selangor. Kami lebih memilih naik bis dari pada kereta api dengan pertimbangan bis akan berhenti di bas stop Sungai Pelong, selain itu, ini yang utama, bila kami naik kereta api, turun di Stasiun Sungai Buloh, lalu berjalan kaki ke bus stop, jalannya sih tidak jauh, tapi dipenantian bis Selangor itu yang membuat jantung kami terpacu cepat, harus waspada, bergaya seperti cuek tapi mata mengawasi setiap mobil yang akan melewati kami, siapa tahu yang akan melintas itu mobil polisi. Padahal kemunculan bis yang akan membawa kami ke Sungai Pelong berkisar 15 menit bahkan lebih, waktu yang kami rasa sangat lama, mengingat (menurut kami pendatang haram) situasi kami anggap genting. 

Aku dan Sukarman turun dari bis, kemudian berbalik arah menuju lorong kampung, pas dimulut lorong ada kedai kopi dan juadah berupa kari pap dan ubi goreng, bila sore hari aku atau Sukaraman akan singgah dan meminum segelas kopi serta beberapa kue. Pemilik kedai seorang lelaki 35 an tahun, sangat ramah kepada kami, tak pernah sekalipun dalam setiap pembicaraannya menyinggung kami yang pendatang haram, dengan menanyakan dokumen kelengkapan kerja. Hal mana yang sering dilakukan oleh sembarang Orang Melayu, padahal bagi mereka tidak ada kepentingannya. Pakcik kedai kopi ini menunggu warungnya hanya sore hari, pagi dan siangnya pakcik dinas dikesatuannya, ya .. pakcik seorang asykar (Tentara Diraja Malaysia).

"Dari KL ..?"
"Iye pakcik"
"Dah hampir siap binaan 'tu"
"Iye .. dah siapun, setakat ripe-ripe yang kami kerje"
"Dimane lagi kerje selepas ni ..?
"Lum ade lagi".
Sambil bercerita, pakcik tak beringsut dan tetap sibuk dengan acara goreng menggorengnya. Kamipun begitu asyik dengan menikmati seduhan kopi dan kue hasil gorengan pakcik asykar.

Dalam menjalin keakraban dengan warga setempat, kami harus memilih mana yang benar-benar tulus terhadap kami. Tidak asal berteman. Kami mau mereka baik selagi kami ada ataupun tiada dihadapan mereka. Sebenarnya keakraban yang yang kami bina untuk membangun tameng / perisai keselamatan kami selama tinggal disuatu tempat di Tanah Melayu ini. Kami berharap mereka paham dari pembicaraan yang kami lakukan, mereka berkesimpulan, bahwa kami orang yang benar-benar bekerja, tidak bikin kekacauan atau bikin kes jenayah (tindakan kriminal). Sudah terbiasa dinegeri ini pencurian kecil2an dilakukan oleh para penagih dadah, yang sering terjadi .. hilangnya pakaian yang sedang dijemur. Katakanlah semacam tindakan prefentif agar mereka berpikir 1000 kali bila ingin menuduh kami.

Namaku di Sungai Pelong sudah cukup dikenal sebagai dukun. Sudah banyak warga yang minta bantuan kepadaku. Permintaan yang kadang membuat hatiku tertawa, hanya karena kambingnya sering mengembik tengah malah, katanya kambingnya diganggu hantu. Ada juga yang rumahnya minta diberi pagar gaib. Dan ini yang bikin aku geli pohon dukunya berbuah jarang, eh .. datang juga pemilik pohon minta pohonya dido'akan agar berbuah lebat dan paling manis rasanya dibanding duku lainnya. Semua keinginan mereka kupenuhi, enggak masalah, 'kan mereka memberi imbalan berupa ringgit meski jumlah nggak seberapa, yang penting dapur kami tetap berasap dengan aroma bukan hanya nasi goreng dan mie instan. 
Setiap aku pulang dari panggilan untuk praktek, Sukarman akan memujiku, bahwa cara berdukunku makin maju, makin halus, dan selalu ada trik baru yang aku pakai. Sehingga orang makin tersugesti akan kemampuanku untuk menangami keluhan mereka, tanpa mereka sadari bahwa kesembuhan/keluhannya terselesaikan oleh diri mereka sendiri.
"Hm .. hebat", kata Sukarman sambil mengangkat jempol tangan kanannya.
...
Sore itu aku berada didalam bangunan yang belum jadi, duduk bersandar dinding, ditemani Om Anton, Herman dan Sukarman pergi keseberang jalan raya membetulkan dan memasang keramik kamar mandi, milik Makcik Leha (Warga Negara Malaysia keturunan Pacitan, Jawa Timur). Om Anton, sosok pria desa dengan pembawaan khas masyarakat pedesaan, tidak neko-neko, jujur dan lugu. Karena keluguan dan kejujurannya ini, sering membuat kami tertawa padahal Om Aton tidak sedang melucu. Seperti sore ini, aku dibikin tergelak, karena dia menceritakan kejadian lucu teman kampungnya. Ceritanya tidak begitu menggelitik, hanya saja banyak ceritanya yang diulang, pengulangannya tidak berobah sama sekali dengan caranya bertutur sebelumnya. Jadi sepertinya aku sedang mendengarkan kaset di tape recorder. Lebih lucu lagi, saat dia bercerita sering kami potong dengan pertanyaan (dan pertanyaannyapun sama dengan pertanyaan sebelumnya), Om Anton akan menjawab dengan senang hati juga serius. Dia merasa senang karena ceritanya disimak dengan baik oleh pendengarnya.
Ditengah keasyikan kami, Sukarman datang, tergopoh-gopoh sekali.
"Pak Pri, sekarang juga kamu pulang ke KL", katanya diantara sengal nafasnya.
"Kenapa ..?"
"Ada kes pecah rumah"
"Apa itu ..?"
"Rumah Pakcik Asykar dimasuki pencuri".
"Lho .. jadi aku yang dituduh pencurinya?"
"Bukan, Pakcik askar minta tolong kekamu untuk menemukan pencurinya"
Aku berpikir sejenak, tak sengaja aku memandang wajah Om Anton, pucat pasi.
"Kalau aku pulang ke KL, bisa jadi dikira aku pencurinya, justru dengan kepulanganku kalian akan menghadapi masalah".
"Jadi kamu mau kerumah pakcik askar? mau menemukan pencurinya lewat manteramu, .. ah Pak Pri .. Pak Pri bukankah selama ini kamu cuma berlagak orang pintar, berlakon jadi bomoh".
"Semoga dengan kedatanganku dirumah pakcik askar, kita berempat akan selamat. Yook Pak Karman .. kita berdua kesana", tanpa menunggu jawaban, aku tarik tangannya.

Askar ramah ini menyambut kedatangan kami,  tak ada tanda curiga disorot matanya, aman. Memakan waktu cukup lama pakcik askar bercerita awal kejadiannya. Sepulang dari dinas pintu rumahnya sudah terbuka, TV serta tape recorder jenis mini compo sudah tidak ada ditempatnya, diangkut pencuri.
"Baiklah pakcik, tolong sediakan minyak kelapa serta bubuk lada, ditaruh dipinggan". Kataku memulai ritual. Aku berpura-pura membaca matera, lalu kutiup mangkok yang berisi minyak kelapa dan lada.
"Tolong pakcik, ambilkan tanah bekas pijakan kaki sipencuri untuk kucampurkan disini, kalau sudah tercampur dalam satu malam kakinya seperti terbakar yang amat sangat, paginya dia akan antar balik barangan pakcik yang dicuri".
"Aduh .. macam mana ini, dah banyak orang berkunjung kesini dan puluhan pasang kaki memijak pekarangan rumah, hm ... bagaimana kalau aku salah ambil .. apakah akan kesakitan juga kakinya ?"
"Pastinya pakcik, oleh karenanya jangan salah ambil".
"Jangan teruskan .. pakcik iklas, barangan pakcil hilang tak mengapa, dari pada kaki orang kena sakit, aku pula nanti yang menanggung azab. Selesai sudah, batalkan saja ritualnya".
 "Betul iklas pakcik?" tanyaku menegaskan
"Iklas .. iklas luar dalam"

Aku dan Pak Karman jalan beriringan pulang.
Pak Karman menepuk-nepuk pundakku.
"Trikmu makin halus .."
Aku cuma tersenyum
"Jangan-jangan kamu memang dukun?"
"Ngarang .. !" teriakku sambil menendang pantat kawanku ini. Sukarman menghidar, terus berlari dengan tawa lepasnya.
"Awas kamu .. !"
Sukarman makin tergelak.
Akupun ikutan tertawa lepas.
Ha ..ha .. !
Kami lupa, ini negara orang.
Kami lupa, kami pekerja ilegal.

***
Berikutnya :Episod akhir Bomoh Sungai Pelong
















































Friday, October 2, 2015

Bomoh Sungai Pelong (bag. 2)

"Bomoh ..? Apa itu bomoh .. ?", tanyaku bingung.
"Dukun. .. Orang pintar".
"Ha ..a ..ah .. !".
Aku terkejut dan terhenyak dikursi.
Om Anton dan Herman terkejut juga, kemudian tersengih.
"Pak cik tunggu saja kami dirumah, selesai shalat Isya kami kesana".

Begitu agak stabil dari rasa terkejut, aku protes dengan 'keanehan' otak sahabatku ini.
"Kamu ngawur kok om, kapan kamu lihat aku jadi dukun".
"Kan kamu biasa sowan ketempat mBah Yai".
"Aku ke mBah Yai itu belajar agama, bukan pengin jadi dukun".
"Dah lah .. kamu dulu penyiar radio, pasti biasa main sandiwara. Nah sekarang anggap saja kamu sekarang sedang main sandiwara berperan sebagai dukun, jangan sia-siakan kesempatan, duit lho ini", Sukarman memberi penekanan pada kalimat akhir. Duit .. duit, ya kami sudah berhari hari tak memegang uang, makan selalunya cuma 2 menu, nasi goreng dan nasi dengan sayur + lauk mie instan.
"Kalau ketahuan, gimana?", aku masih ragu.
"Hanya kita berempat yang tahu, rahasia terpegang teguh, Ya 'kan Om?", yang diminta penegasan Om Anton, Hermanpun tak kalah sigap, dia anggukkan kepalanya dengan mantab. Kedua orang ini sememangnya begitu, mengikuti apa kata boss, dalam hal ini ya Sukarman. "Tu .. 'kan..!, mereka siap menyimpan rahasia". Lalu ditambah lagi dengan kalimat klasik :"Rahasiamu adalah rahasia kita, apapun yang terjadi, kami akan tetap pegang teguh dan simpan kuat2 rahasia ini". Kami berempat diam,  berpikir apa yang akan terjadi setelah kami tiba dirumah pasien. Pembekalan cara berdukun diberikan Sukarman berupa petunjuk praktis, yaitu : Aku disuruh mengingat kembali film Indonesia yang banyak menampilkan sosok dukun yang sedang praktek.

Pakcik yang tadi bertandang kerumah kami, membalas salam kami sambil membuka pintu dan mempersilahkan aku dan Sukarman masuk kedalam rumahnya. Aku melangkah masuk diikuti Sukarman dan tuan rumah menyusul dibelakang setelah sebelumnya menutup pintu dengan deritan engsel yang cukup keras. Sedikit heran, aku memperhatikan ruangan, semuanya serba sederhana dan seperti dikemas dengan terburu-buru, mungkin karena kami akan datang kesini. Aku duduk ditikar bersebelahan Sukarman, didepan kami duduk pakcik pemilik rumah, wanita setengah baya, dan seorang ibu muda sambil memangku seorang bocah perempuan berusia sekitar 2 tahun. Kami berbasa-basi, sebenarnya bukan kami, karena aku sendiri lebih banyak diam mengingat Bahasa Melayu baru beberapa hari ini aku 'akrabi'.
"Ini Izzah, yang kurang enak badan dan kalau malam selalu saja menangis",
Aku memandangi Izzah dan melempar senyum bersahabat, sementara mata bening sicomel ini menatapku, secara naluri aku merasakan anak ini menerima kehadiranku dirumahnya. Dan sambil tak melepas pandangan matanya, tiba-tiba diluar dugaanku, anak ini tersenyum malu lalu menyembunyikan wajahnya diketiak ibunya. Semua yang ada diruang tamu menyambut kelakuan Izzah dengan tertawa lepas. Kembali anak cantik ini menoleh kearahku dan kembali melepas senyuman, kali ini Izzah tak menyembunyikan wajahnya. Entah karena dorongan dari mana, aku menjulurkan kedua tanganku meraihnya, Izzah berdiri dan menurut saja. Sesaat kemudian dia sudah ada dipangkuanku. Kali ini semua mata tertuju kearahku, aku tak peduli, aku masih berkomunikasi dengan anak ini, dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang aku mengusap usap kening sibocah, diluar kesadaranku aku meniup ubun-ubun anak ini, lalu aku miminta segelas air putih. Bergegas ibu anak ini mengambilkan permintaanku.
Segelas air putih didepanku kuambil dan aku berkomat komit seperti mbah dukun membaca mantera, lalu kutiup air dalam gelas ini dan mengucapkan Al Fatihah. Kami berlima membaca surat Al Fatihah dengan khusu. "Bila Izzah bangun nanti, minumkan air ini, berhentilah apa bila dia selesai meminumnya", kataku berpetuah.
Kusorongkan Izzah keemaknya. Kami berpamitan hendak pulang, kusalami mereka semua, khusus untuk Izzah aku mengusap pipinya sambil berucap :"Izzah bobok ya,  .. jangan nangis lagi". Sebelum aku melangkah melewati pintu pakcik memasukkan sesuatu disaku bajuku, sambil berterima kasih padaku karena sudah sudi menolongnya.

Malam ini aku gelisah, tak bisa tidur memikirkan kejadian pertama kali dalam hidupku, (berpura-pura) jadi dukun. Karena nasehat Sukarmanlah yang aku bisa agak sedikit tenang. Kalau besok terjadi sesuatu kita hadapi bersama-sama dengan resiko terberat ditangkap polis dan dipaksa pulang ke Indonesia.

Pagi hari aku duduk didepan rumah memadang matahari yang menyembul diatas bukit sebelah Timur, sendirian. Perasaanku tak karuan, ketakutan masih menghantuiku karena ulahku tadi malam, bisa jadi pakcik jengkel padaku karena sibocah justru nangisnya kian menjadi, lalu melapor ke polis. Macam2 pikiran jelek juga kuarahkan ke Sukarman dan Om Anton (istri mereka bersaudara), sewaktu bangunku mereka sudah tidak ada dirumah, jangan-jangan mereka sudah melarikan diri. Ditengah kekalutanku ternampak Sukarman dan Om Anton mendorong gerobah sambil tertawa-tawa.
"Dari Datuknya Izza, subuh tadi datang dan mengajak aku kekebunnya".
Aku melongok kedalam gerobok... wow gerobak penuh rambutan merah ranum.
Sukarman berbisik kearahku :"Pakai do'a apa kamu ? Izzah tadi malam tidur nyenyak".
"Iye ke ?"
"He'eh"
"Alhamdulillah", tanpa kusadari kedua tanganku menengadah keatas.

***

Berikutnya : Bomoh Sungai Pelong (bag.3)














Thursday, October 1, 2015

Bomoh Sungai Pelong

Berempat kami  (aku, Om Anton, Sukarman dan Herman) duduk tepekur memandangi bangunan yang kami kerja mendekati selesai dari teras depan tempat kami tinggal sementara selama bekerja di Kampung Sungai Pelong. Otak kami dipenuhi dengan persoalan masing-masing, kami sekelompok orang yang berkumpul tapi seperti beraktifitas sendirian. Sesekali terdengar tarikan nafas seperti ingin melepas beban berat atau masalah yang menghimpit. Memang kami semua (saat ini) memiliki persoalan hidup yang hampir sama, ingin memperoleh uang secepatnya, berapapun, kemudian segera meninggalkan bangunan 3/4 jadi yang kami kerja, sebelum sesuatu yang sangat menakutkan menimpa kami. Menurut cerita dari mulut kemulut, yang akhirnya sampai juga ketelingaku. Apabila bangunan yang dikerja para pendatang haram mendekati selesai pemilik bangunan atau pemborong bangunan tak ingin membayar kami, mereka  akan memanggil polis. Bisa ditebak apa jadinya kalau polis datang ? Tentu pekerja ilegal akan berlarian berusaha menyelamatkan diri dari tangkapan polis. Ujung-ujungnya hilanglah lembaran ringgit hak kami selama bekerja, karena .. tak mungkin kami berani datang lagi kelokasi binaan untuk meminta gaji. Lebih baik hilang uang dari pada dipaksa pulang ke Indonesia.
Sudah 2 minggu lebih kami menganggur, menunggu bahan untuk menyelesaikan pekerjaan sekaligus menunggu gaji kami yang belum dibayar untuk sain kad (dari kata sign card-berupa absensi kehadiran) yang lalu. Selama penantian ini perasaan was-was selalu menghantui kami, terutama malam hari, kewaspadaan kami tingkatkan. Jangankan lampu motor atau mobil dari jalan yang berjarak 100 meter dari kami, sedangkan tentangga sebelah menghidupkan lampu saja sudah membuat kami berempat diam terpaku, saling pandang dalam gelap mengambil keputusan cepat bersama secara kilat dan kalau memang situasi memang benar genting bersiap untuk ancang-ancang mengambil langkah seribu.

Hari menjelang Isya, kami masih duduk diteras rumah sambil meminum teh setelah selesai makan malam.
"Bagaimana ini, pak ?" aku membuka percakapan.
"Tunggu, dalam 2 hari tak ada bahan dan gaji, kita pulang ke KL", Pak Sukarman mengerti arah pertanyaanku.
Kembali kami diam, dengan mata tetap mengarah kelorong menuju rumah kami. Lorong itu agak remang-remang terkena bias sinar lampu rumah sebelah jalan.
"Sstt .. waspada", Herman berbisik memberi peringatan.
"Dimana .. ?".
"Dilorong .. mengarah kesiani."
Mata kami melihat ujung lorong, Seseorang berjalan kearah rumah kami.
"Kalian bertiga kesamping rumah, tunggu kode dari aku", perintah sukarman. Kami menurut. Bertiga kami kesamping rumah. Kalau terjadi sesuatu, enak saja kami melesat menuju semak dan masuk kedalam belukar. Sukarman sendiri sebetulnya hanya bermodal berani dan kehebatan serta kelincahannya berlari, diapun sama seperti kami pekerja ilegal. Masih mending aku, karena visa tinggal melancongku masih hidup 5 hari.
Sunyi.
Tegang.
Suara binatang malang bersahutan, bukannya bising tapi malah suasana makin mencekam.
"Silahkan merokok pak cik .."
Itu kode untuk kami dari Sukarman.
Herman dan Om Anton masih takut untuk keluar, aku berjalan menuju depan.
Baru saja aku ternampak oleh Sukarman dan tamunya. Sahabat karibku ini langsung berkicau :"Inilah pak cik, bomoh dari Pulau Jawa yang baru saja aku ceritekan kat pak cik". Pakcik langsung berdiri menyambutku dan dengan hormat mengajakku berjabat tangan serta mengucapkan salam.
"Ini kawan aku, biase tolong orang, dia ni bomoh populair di Jawa sana", Sukarman berkicau lagi dan berkicau lagi, kali ini kepadaku:"Pak cik anaknya sakit, kalau malam sering menangis, dia cari bomoh, lalu kutunjukkan kalau kamu itu bomoh".
"Bomoh ..? apa itu bomoh ..?"tanyaku bingung.
"Dukun, .. orang pintar"
"Ha a a h ..!".
Aku terkejut dan terhenyak dikursi.
Om Anton dan Herman terkejut juga, tak lama,  kemudian tersengih.

 (Berikutnya bomoh Sungai Pelong bag. 2)