Memaknai hidup dengan memberi arti untuk hal-hal yang kecil ..... Menjalani hidup dengan apa adanya ..... Mensyukuri dan menikamati kekurangan yang ada

Monday, November 25, 2013

Kereta Sapu

Setelah sukses melewati pintu masuk Negara Malaysia, Pelabuhan penyeberangan antar negara, Kukup, Kami (Aku dan Bu Tin, pengantar sekaligus pengatur perjalananku hingga sampai aku bekerja dinegara tetangga ini) berjalan kaki menyusuri jalan beraspal terawat, dikiri kanan jalan berderet rumah penduduk yang sekaligus merangkap kedai (warung), ada kedai runcit (menyediakan barang keperluan sehari), kedai makan, kedai penukaran uang. Aku kadang tersenyum simpul membaca berbagai tulisan yang terpampang disetiap papan promosi yang kujumpai, sedangkan Bu Tin acuh saja, berjalan cepat, maklum dia 'kan biasa keluar masuk Malaysia.
Dikedai penukaran uang yang agak kecil Bu Tin Masuk, tanpa berbicara banyak wanita lincah separuh baya ini mengeluarkan segepok uang rupiah, tak berapa lama 'gepokan' rupiah sudah berubah jadi lembaran ringgit. Kebiaasanku, jarang bertanya tapi belajar dari melihat, saat sipemilik kedai menghitung uang sempat kulihat beberapa lembar uang Rm.10,00 satu lembar uang warna merah Rm.5,00 warna keunguan dan 2 lembar  Rm.2,00 warna coklat. Ada keinginanku untuk memegang uang dari lain negara ini, tapi Bu Tin tak memahami keinginanku. Enak sekali lembaran ringgit itu  masuk kedalam tasnya. Kalau saja ada uang rupiahku, pasti aku sudah tukar sendiri. Aku mengelus dadaku .. 2 bulan lebih, selama aku dipenampungan (sama sekali) tak pernah pegang uang.
"Pak Pri, kita tunggu kereta sapu yang dari Pontian", kata Bu Tin sambil keluar dari kedai.
Aku diam saja tidak paham arah pembicaraan Bu Tin.
Sekitar 15 menit kami duduk dibangku panjang diluar kedai. Tiba tiba didepan kami, sedan berwarna kuning bagian atas dan hitam dibagian bawah berputar dan berhenti didepan kami.
"Pontian ..?" teriak sopir dari belakang kemudi.
"Ayo Pak Pri ..", Bu Tin mengajakku menaiki kereta.
Didalam sedan aku duduk diam, memikirkan dua keanehan yang kualami, yang pertama, sedan dengan warna yang sama, sempat kulihat tadi sekeluar dari gerbang pelabuhan, mungkin lebih dari 5, tapi bu Tin memilih berjalan kaki dulu hampir 200 m, kalau alasannya mau menukarkan uang, toh disitupun ada kedai penukaran uang, bahkan kedainya lebih besar.
Sepertinya Bu Tin tahu apa yang kupikirkan, dengan berbahasa Jawa dia menerangkan :
"Pak Pri, kereka sapu yang didepan gerbang tadi, ongkosnya mahal, kadang sampai 20 ringgit, kalau disini cuma 2 ringgit sudah sampai di Pontian. Lha wong kedai penukaran uangnya saja 'mahal' kok, makanya Bu Tin pilih disini sekaligus nunggu kereta."
Aku masih diam.
"Sopirnya juga kadang maksa untuk mengantar sampai ditempat tujuan kita, ongkosnya ..? jangan tanya, mahalnya minta ampun" lanjutnya.
Yang kugaris bawahi dari keterangan Bu Tin tadi, Nilai mata uang rupiah akan lebih rendah jika ditukar dikedai yang dekat pelabuhan.
Untuk keanehan yang kedua, masih ada dalam pikiranku dan (yang ini) Bu Tin tidak tahu apa yang kupikirkan.
Kereta sapu berjalan pelan, sementara penumpangnya baru kami berdua, Kukup tidaklah begitu besar, hanya beberapa menit saja kendaraan kami sudah melintasi perkebunan kelapa sawit. Aku kagum, kebun kelapa sawit dikiri kanan jalan ini terawat baik, bahkan boleh dibilang memperhatikan kebersihan dan keindahan, rumput dibawahnya seperti dipotong rapi. seperti rumput lapangan sepak bola. Tak ada pemandangan lain selain tumbuhan kelapa sawit, terkadang ada juga 1 atau dua rumah yang berhalaman luas dan juga terawat, yang kuperhatikan disetiap rumah pasti terparkir mobil entah itu sedan atau mini bis.
Disetiap jalan lorong masuk kebun kelapa sawit pak sopir akan memperlambat laju sedannya dan menyempatkan melongok kelorong, awalnya aku tidak tahu kenapa dia berbuat begitu. Nah .. dilorong yang kesekian barulah aku tahu, ternyata dilorong kadang ada penumpang yang menyetop. Jumlah penumpang jadi 4 orang, 3 dibelakang, 1 didepan bersebelah dengan pengemudi.
Dengan bertambahnya penumpang, sang sopir berjalan ngebut, tak peduli biar didepannya ada lorong, jangankan lorong ada orang nyetoppun kereta tetap laju.
Sampailah kami di Bus Stand (terminal kecil) Pontian. kami turun, dan kulihat Bu Tin menerima uang kembalian Rm. 6,00 setelah dia angsurkan 10 ringgit.
Sahabat .. pasti penasaran dengan apa yang kupikirkan yang satunya lagi dikereta sapu tadi. Sebetulnya sih nggak penting penting amat, itu lho kenapa sedan angkutan penumpang ini disebut kereta sapu, kenapa kok nggak taksi saja. .. Jawabannya kuketahui setelah berbulan bulan aku tinggal di Kuala Lumpur.
Waktu itu aku mau pulang dan hari sudah jam 10 malam, tentu akan lama sekali kalau aku menunggu bis Kota (disini disebut Intra Kota), cuma satu angkutan yang masih agak banyak, taksi. Ditempat aku berdiri aku selalu menghentikan taksi yang lampu diatas atas atapnya (bertuliskan taxi) menyala. Setiap ku stop, taksi akan berhenti kira2 20 m dari tempat berdiri. Selalu begitu. Ternyata kekeliruanku (aku tidak tahu kalau aku keliru) diperhatikan pemilik rumah yang masih duduk diteras rumahnya.
"Awak nak naik taksi ke ..?"
"Iye encik"
" Awak kene jalan sikit ketempat penghentian teksi kat sane, di KL ini takde lah kereta sapu yang berhenti dimerate tempat"
"Iye encik, .. terime kasih", kata tersipu malu.
Dipenghetian taksi yang berupa 2 pagar stenlis satu lajur aku berdiri, tak berapa lama tanpa aku menyetop taksi, taksi sudah berhenti persis pintu belakang ada didepanku.
"Turun kat mane encik ..?", tanya sopir taksi setelah aku duduk.
"Green Wood", jawabku.
Kereta Sapu .. eh .. taksi warna putih diatas dan merah dibawah ini meluncur membelah malam.
...
(berikutnya : Bus Tak Berhenti Henti dan Berhawa Dingin)
 

1 comment:

  1. salam..seronok membaca cerita di blog tuan.
    sesekali terfikir bagaimana Malaysia di pandangan warga indonesia.
    Kisah yang tuan tulis ini mahal harganya.
    semoga ada kisah baru dari tuan.

    ReplyDelete