Memaknai hidup dengan memberi arti untuk hal-hal yang kecil ..... Menjalani hidup dengan apa adanya ..... Mensyukuri dan menikamati kekurangan yang ada

Tuesday, December 17, 2013

Kereta Api Komuter

Satu minggu sudah aku berada di Kuala Lumpur, dan hari ini pertama aku masuk kerja. Menurut Sukarman (menantu Bu Tin sekaligus temanku semasa di Pati, Jawa Tengah, Indonesia) gajiku Rm. 40,00 satu hari (8 jam kerja, Pekerja bisa masuk jam berapa saja, asal jangan lewat tengah hari, selewat jam 12.00, pekerja sudah tidak boleh masuk), aku terkesima mendengar aku akan dibayar sebesar 1 bulan gajiku sewaktu menjadi guru di SMEA yang cukup terkenal di Pati, .. luar biasa,  aku bisa bekerja saja gembiraku bukan main, apa lagi dengan imbalan yang  lebih dari lumayan. Dan yang mengherankan aku dibayar bukan karena aku memiliki ketrampilan khusus ditempat aku bekerja, profesi baruku kalau teman mau tahu .. General Worker, pembantu umum, ya .. aku melayani tukang, aku jadi kuli/kenek bangunan, pekerjaan tanpa mikir, cuma perlu kemampuan otot, pokoknya ..  tenaga kuat duit didapat. Lha kalau keneknya saja dibayar 'segitu', berapa gaji tukangnya, tidak heran banyak orang pengin bekerja di Negara ini.
Tempat kerjaku Kampong Sungai Pelong, kurang lebih 5 km  dari bandar terdekat, Sungai Buloh (disini tinggal Budayawan terkenal Malaysia, dan beliau sering berkunjung ke Indonesia, kisah perjalanannya kerap dimuat dikoran setempat). Namanya juga kampung, tentu saja situasinya tidak seramai kampung dipusat kota, lokasi tempat kami bekerja dibelakang rumah warga yang kesemuanya menghadap kejalan besar, disebelah kiri masih berupa kebun dengan tanaman jangka panjang yang tak terurus, rumput menyemak setinggi pinggang, tak pernah dibabat. Disebelah Timur, diatas tanah datar, nampak rumah besar terbuat dari bahan kayu yang dipelitur, pekarangan sangat luas ditumbuhi pohon pohon besar diselingi tanaman bunga dan rumput yang terpotong rapi, rumah ini milik datuk yang beristrikan wanita keturunan dari Pulau Jawa.
Hari ini aku dan Sukarman (dia memegang visa kerja-permit palsu) berangkat bersama kerani (semacam mandor) naik mobil Pick Up, kami berdua duduk dibelakang, melintasi jalan, ramai namun lancar. Kami berdua berdiam diri, tak bercerita atau bercakap seperti awal awal kedatanganku. Sekali saja Sukarman bertanya padaku, apakah aku tidak lupa membawa pasporku, dan sekali memberi nasihat, kalau ditangkap polisi dilokasi pekerjaan bilang kalau datang 'kesini' karena ingin bertemu adik yang lama tidak pulang ke Indonesia. Perlu Aku jelaskan, bahwa visa tinggalku di Malaysia bukan visa kerja tapi visa melancong (pengertiannya aku mengunjungi saudaraku yang tinggal di Malaysia, bukan datang kenegara ini sebagai turis).
...
Tiga hari sudah aku bermandi keringat diterik matahari membatu tukang memasang batu merah (kerja ikat batu), dan sore ini aku diajak Sukarman untuk pulang ke Green Wood, Om Wanto sudah datang, katanya. Aku ikuti ajakannya, aku ingin ketemu teman perjalananku memasuki Malaysia, hanya saja nasib sial menimpanya, Om Wanto paspornya dicap NTL = Not to Land (?), para TKI yang dipenampungan biasanya menyebutnya : kena tendang, mereka yang kena tendang dipaksa untuk pulang ke Indonesia. Sebenarnya boleh dikata, hanya kurang beruntunglah kalau  sampai paspor kita dicap NTL, artinya kita sudah berkesempatan untuk 'temu bual' (ditanya jawab=wawancara) dengan pihak emigration, kalau jawaban kita memuaskan mereka ya .. bisa masuk negara ini. Yang sungguh menyakitkan adalah, untuk bisa ketemu petugas emigration ini, nasib kita ditentukan oleh jari telunjuk seorang petugas khusus yang memperhatikan kami dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu dengan acuh jari telunjuknya akan menunjuk kami, dan mempersilahkan kami untuk duduk dibangku didepan loket emigration. Tentu saja kami berharap (dan cemas) untuk ditunjuk, tahukah kawan betapa sulitnya masuk negara ini, para penumpang kapal bersamaan denganku, ada 200 orang lebih yang ingin masuk, hanya 7 saja yang bisa lolos,  termasuk aku, waktu itu Om Wanto gagal disesi 'temu bual'.
...
"Kita naik KTM", kata Sukarman padaku, selepas kami turun dari Bus Selangor, trayek Kuala Selangor - Kuala Lumpur di Bandar Sungai Buloh.
"Kenapa nggak langsung saja naik bis ini, 'kan sama tujuannya?", tanyaku heran.
"Iya sama ke KLnya, cuma nanti turunnya jauh dari pemberhentian Intra Kota", Sukarman menjelaskan, nampak ada rasa kebanggaannya bahwa dia memiliki pengalaman tentang transportasi di Malaysia, disamping itu sepertinya ada sesuatu yang akan dia perlihatkan kepadaku, sesuatu yang di Indonesia tak kujumpai.
Dari  Bas Stop kami berjalan kurang lebih setengah kilometer menuju stesien kereta api Sungai Buloh. Stasiun itu sepi saja tidak ada pegawai KA, selain seorang petugas sekuriti yang duduk agak menjorok disudut bangunan, dia tak pedulikan kedatangan kami (beda memang sekuriti bank atau kedai emas, memandangi pengunjung penuh curiga, semua orang yang datang dianggap akan melakukan kejahatan), diruangan yang agak lebar kami masuk, sempat kuperhatikan sekeliling, tak ada loket pembelian tiket, bahkan dinding sekeliling tak ada lobang sekecil apapun, lorong memasuki peron terdiri dari dua kotak setinggi pinggang orang dewasa diantara dua kotak terdapat palang yang mengcegah orang masuk.
"Tiketnya dibeli dimesin itu, mari kuajari .. siapa tahu suatu saat kamu pergi dengan naik KTM sendirian ..", kata Sukarman dengan senyum kebanggaanya.
Aku mengikuti Sukarman berdiri didepan mesin pembelian tiket, lalu dengan lincah dia menekan tombol - tombol yang tersedia, kemudian dilayar tertera harga tiket yang kami harus bayar. Sukarman memasukkan uang Rm. 10,00 ke'mulut' mesin tak berapa lama keluar 2 lembar tiket dan uang kembaliannya.
"Gimana .. ? gampang 'kan ..?", tanyanya, sambil mengambil dua lembar tiket dan uang kembaliannya. Nada bicaranya sepertinya hanya dia saja yang bisa membeli tiket dimesin ini.
Dalam hatiku pengin ketawa, apa anehnya dengan cara pesan tiket lewat mesin ini. Mau dibilang susah, enggak juga, apa lagi dibagian depan mesin itu ada petunjuk tombol apa saja yang harus kita tekan, mulai dari asal, tujuan, lalu berapa lembar tiket yang kita beli, untuk dewasa atau anak anak .. sudah. Kesulitan akan terjadi kalau kita tidak bisa menbaca tulisan huruf latin, dan ini  masih bisa diatasi dengan minta tolong pada pak sekuriti. Jadi ..? ya .. memang gampang sekali. 
Sukarman menyodorkan satu tiket untukku sambil berkata :"Ikuti saya".
Aku mengikutinya, kami menuju lorong pintu masuk keperon, sebelum mencapai palang, Sukarman memasukkan tiket kedalam kotak hingga tertelan habis, lalu berjalan menabrak palang lorong, palang itu bergerak membuka searah Sukarman masuk, ketika palang itu tertutup, tiket miliknyapun keluar disebelah dalam palang.
Dibelakang aku mengikuti langkah temanku yang sudah berada dibalik palang, sewaktu kudorong palang dengan perutku, palang tak bergerak, kuulangi lagi dengan menambah tenaga diperutku .. masih tak bergerak, rupanya palang sudah terkunci. Apakah hanya satu tiket saja palang bisa terbuka.
"Masukkan tiketmu disitu", kata Sukarman, jari telunjuknya mengarah kelobang tempat dia tadi mamasukkan tiket. Aku memasukkankan tiketku, mungkin baru sekitar satu cm saja tiket masuk, tiketku seperti ditarik mausuk kedalam.
"Nah .. sekarang masuk", perintah Sukarman.
Aku masuk dan tanpa perlu tambahan tenaga, palang terbuka mengikuti badanku.
"Ambil tiketmu ..!"
Aku nurut, kuambil tiketku dan berjalan dibelakangnya.
Diperon sudah ada penumpang yang menunggu kedatangan kereta, mereka, sebagian ada yang duduk dibangku yang tersedia, ada juga yang berdiri. Suasana sore hari yang nyaman matahari sudah sangat miring mendekati bumi, angin semilir menerpa mukaku, dan menyibak rambutku yang sedikit panjang, sementara lampu stasiunpun belum dinyalakan. Didepanku 2 jalur rel membelah halaman dalam stasiun dan disebelah rel kedua, membentang pagar terbuat dari 'anyaman kawat' berlapis plastik hijau (semenjak aku tinggal di Malaysia memang belum pernah kulihat pagar tembok atau pagar besi untuk membatasi rumah atau kantor), sehingga pepohonan diluar pagarpun tak terhalang masuk kepelupuk mataku .. terasa damai.
Tanganku ditarik Sukarman untuk mengikutinya.
"Minum dulu, kereta seperempat jam lagi datang",
Aku terdiam, keasyikan menikmati suasana sore diperon stesen KA Sungai Buloh.
"Ada uang sellingmu ?, Aku cuma punya uang kertas"
Kusodorkan uang koin Rm.1,00
"Masih punya enggak ?"
Kembali kusodorkan uang koin, kali ini lebih banyak kuambil dari saku, Sukarman mengambil satu dari telapak tanganku.
"Pelajaran berikutnya", katanya, tentu dengan senyum yang bisa diartikan kagum akan dirinya sendiri. Kami menuju mesin penjual minuman.
Sukarman memasukan 2 uang koin dan menekan tombol didepan merk air tin (minuman dalam kemasan kaleng) yang berbeda.
Apa yang dikatakan menantu Bu Tin ini tentang pelajaran, aku memaknainnya lebih dalam lagi, bukan sekedar membeli dimesin tiket atau mesin penjual minuman, lebih dari itu. Ketertiban itu yang pertama kali kurasakan, ditempat umum (stesen bas maupun stessen kereta api) yang biasa kujumpai di Negaraku, penuh dengan penjual asongan, pengamen maupun penawar jasa (calo), yang menurutku lebih banyak mengganggu dari pada menolong, disini tidak ada .. benar benar tidak ada, orang orang yang berada diperon semua adalah calon penumpang.
...
Cahaya matahari mulai remang, lampu stasiun menyala kuning terang, penumpang semakin bertambah banyak, meski begitu suasana tidak hiruk pikuk, yang duduk, tenang ditempat duduknya, yang berdiri, sabar menunggu kedatangan kereta yang akan membawanya ketempat tujuan. Sesaat kemudian terdengar pengumuman kalau kereta akan memasuki stasiun tidak lama lagi.
Jam 18.20 kereta masuk, pas sesuai jadwal yang tertera. Calon penumpang berdiri, berjajar rapi ditempat yang bertanda garis putih dilantai, dimana pintu kereta akan tepat berhenti digaris putih ini. Tidak berbeda dengan tata tertib menaiki bis, begitu juga tata tertib menaiki kereta, para calon penumpang menunggu penumpang kereta turun hingga habis, baru kami naik. Kebetulan kami tidak memperoleh tempat duduk, sebagian dari kami yang naik dari Sungai Buloh memang terpaksa harus berdiri, tempat duduk sudah dipenuhi penumpang dari stasiun sembelumnya. Namun begitu toh .. kami tak kegerahan, AC terasa dingin, lampu kereta terang benderang, gerbong kereta terjaga kebersihannya. 
Sebelum kami turun distasiun Kota, ada tiga stasiun kami singgahi, Stasiun Kepong, Segamat dan Putra,  sebelum memasuki stasiun, dari pengeras suara yang terpasang disisi gerbong penumpang akan memperoleh pemberitahuan, sehingga penumpang tak ragu dimana saat itu kereta berhenti. Yang hebatnya sampai aku turun di Stasiun Kota, tak ada petugas KA yang memeriksa tiket kami. Dilain hari ketika aku naik KTM lagi bersama Sukarman, dia menjelaskan keheranku, bahwa palang pintu keluar bisa terbuka kalau tujuan yang tertera ditiket sesuai dengan stasiun dimana kita akan keluar stasiun. Ck .. ck .. ck .. disini aku baru merasa kagum akan teknologi yang mampu menerobos dan menertibkan perilaku kehidupan masyarkat umum.
Stasiun Kota .. hanya diterangi lampu, Bumi sudah gelap.
Kami, aku dan Sukarman turun, lalu berjalan mengikuti antrian keluar dari stasiun. Sama seperti memasuki stasiun, begitu juga waktu keluarnya. kami harus melewati palang pintu yang hanya terbuka bila kita memasukkan tiket dikotak sebelah kanan.
Diluar stasiun kami masih disugihi lagi kenyamanan jalan berupa tangga terbuat dari beton, lebar tak lebih dari 1 meter menyusuri taman yang ditaburi cahaya lampu taman. Panjang jalan tangga boleh dikata lumayan jauh, melingkar lingkar, terkadang agak lurus, mengikuti bentuk tanah berbukitan, yang akhirnya diujung tangga kami sudah berada sekitar 10 langkah dari pertigaan Jl. Semarang, tempat kami menunggu Intra Kota 4D, yang akan membawa kami ke Green Wood.
Om Wanto .. aku sudah tidak sabar ingin cepat bertemu.
...
(Berikutnya : Executive Coach)


















Monday, December 9, 2013

Bis Kota itu Itra Kota

Waktu kami turun dari Bis Naela, jam masih menunjukkan pukul 9 malam, masih belum larut, kami keluar dari Bas Stasen (begitu memang tulisannya) Pudu Raya melalui jalan tempat jalur bis tadi masuk, sebetulnya ada tangga naik kelantai atas ketempat ruang tunggu penumpang yang akan menaiki bis, dari ruangan ini kita bisa keluar terminal  dan langsung ketempat pengantrian taksi.
"Ambil jalan pintas", kata Bu Tin
Aku diam saja, toh aku tidak tahu mana jalan pintas, mana jalan bukan pintas, dan lagi mana aku paham mau kemana tujuan perjalanan berikutnya.
Jalan keluar dari terminal ini agak mendaki,  tempat parkir bis berada di home base, begitu sampai diluar aku terpana .. didepanku terang benderang diterangi lampu jalan tanpa centang perenang kabel listrik. Pandanganku berkeliling melihat gedung bertingkat yang tersusun rapi, warna cet yang belum memudar, rapi, bersih, memang kesan terawat jelas kentara sekali. Kendaraan yang melintas tidak begitu banyak, masih cukup jariku untuk menghitung jumlah kendaraan yang melintasi jalan dibundaran taman asri berdiameter kurang lebih 100 m, sementara pejalan kaki berjalan ditrotoar lebar sekitar 2 m, itupun tak ramai, padahal malam belum begitu kelam. Sekali lagi aku dapat pelajaran bagaimana cara mematuhi tata tertib berjalan ditempat umum. Bayangkan kendaraan yang melintas tidak ada, sementara lampu merah untuk penyeberang jalan menyala merah, tanpa menoleh kiri atau kanan (maksudnya kalau tidak ada polisi terus saja menyeberang) seorang lelaki muda berhenti, kamipun berhenti pula dibelakangnya menunggu lampu warna hijau menyala. Anggapanku (pada saat itu) .. ini hal yang SANGAT luar biasa, bahkan ANEH.
"Pak Pri jalannya agak cepat", Bu Tin berbicara menyuruhku mengimbangi langkahnya.
Hebat memang wanita paruh baya ini, aku yang laki laki, jauh lebih muda dari dia, tidak juga aku membawa beban berat keculai travel bagku yang berisi tak penuh. kewalahan mengikkuti laju jalannya, terkadang aku tertinggal hingga 5 meter. Apa memang harus begini cara jalan dikota besar, langkah lebar dengan tempo pendek, persis serasa dikejar atau mengejar sesuatu.
Sesampai diseberang bundaran, kami belok kekiri, menyusuri jalan sejauh 200 meter, kami sampai ditempat (jalan) sedikit lebih lembar, kulihat 2 baris orang mengantri, aku sendiri tidak tahu apa yang mereka antri, didepan mereka tidak kuliat apapun, toko saja pintunya sudah tertutup.
"Exquisme, tumpang tanye .., dimana berdiri beratur 4D", Bu Tin berbicara dengan seorang wanita yang berdiri paling belakang.
"Kat depan sane aunti ..", wanita tadi menunjuk barisan yang lebih panjang didepan.
"Terima kasih, .. "
"Pak Pri antriannya dibagian depan", lanjutnya padaku.
Benar teman, aku tidak bohong .. aku tidak tahu mengapa kita harus mengantri, sedangkan pengantri diujung depanpun cuma berdiri tenang, namun kusimpan saja keingin-tahuanku, nanti 'kan tahu sendiri, masak mau semalaman berdiri saja menunggu pagi,
Tak perlu waktu lama, rasa penasaranku terjawab sudah, berselang 5 menit kemudian muncul bis bertuliskan Intra Kota, Green wood-4D. Aku menepuk jidatku sendiri, bis belum datang saja penumpangnya sudah berbaris tertib. Antrian mulai bergerak lambat, bahkan lambat sekali. Kenapa ya ..? Hm .. pokoknya hari pertamaku di Malaysia isinya cuma penasaran saja. Namun .. seperti yang sudah sudah, langsung kudapatkan penyebabnya, Nah .. kenapa antrian calon penumpang berjalan lambat, karena mereka berhenti sejenak untuk membayar karcis dan mengambil karcis dari mesin karcis yang berada disebelah kiri pengemudi bis.
Mesinnya sih nggak otomatis amat, manual malah (menurutku). Bu Tin memasukkan 2 duit Selling (koin 1 ringgit) untuk tambang (ongkos) kami berdua, pengemudi  melihat jumlah duit yang masuk (box mesin bagian  depan transparan) untuk memastikan jumlah duit yang masuk kedalam mesin, lalu dia menekan tombol warna hijau 2 kali, keluarlah karcis 2 lembar. Untukku dan Bu Tin.
Kami mendapat tempat duduk dideretan ke 3 dari depan sebelah kiri, dideretan sebelah kananku persis bangkunya agak beda, bangkunya memanjang cukup untuk duduk 4 orang menghadap kearah lorong, diatasnya dijendela kaca bis terdapat 2 tulisan, yang pertama : "BAGI ORANG YANG KURANG UPAYA SAHAJA", apa lagi maksud tulisan ini, bingung juga aku dibuatnya untuk menterjemahkannya. Silahkan teman membuat kalimat Indonesianya, aku belum menemukan kata kata yang tepat, tapi aku paham tujuan penulisannya, .. sebab sebelum bis berangkat ada seorang nenek yang sudah agak bungkuk, berjalan tertatih2 dituntun cucunya menduduki bangku yang menghadapku. Pantas .. meskipun bangku itu kosong penumpang terus saja kebelakang walau mereka harus berdiri (penumpang Intra kota juga ada yang berdiri seperti di Jakarta, bedanya, kondisi intra kota sangat layak, memenuhi syarat kenyamanan, keselamatan segabai  angkutan umum), sedangkan tulisan yang kedua berbunyi : HATI HATI. RAMAI PENYELUK SAKU, kuperkirakan ini peringatan, bahwa kita harus hati hati dengan adanya pencopet.
Seperti saya katakan diawal penulisan ini, kota Kuala Lumpur sepi dari kendaraan lalu lalang, tetapi bis bergerak dengan kecepatan terukur, mengikuti arahan tulisan didepan kaca bis  HAD LAJU 50 KM/JAM.
Sepanjang jalan, mataku tak lepas memandang keluar, kedepan, kesamping kiri, kesamping kanan, mengagumi malam terang di Kuala Lumpur. di Bas Top, pertigaan Jl. Semarang (ya .. Jl. Semarang) bis berhenti agak lama, banyak penumpang naik. Aku melihat lagi keluar, mataku meluncur mengikuti kearah jauh Jl. Semarang .. Nun disana Terpancak gagah seperti Monas, Menara Kuala Lumpur, Tiang persegi 8nya terang disinari lampu sorat dari bawah, sedang diatasnya seperti UFO (dicerita2 komik lho ya) berjendela melingkari tiang menara.  Pada masanya, Menara KL dulu merupakan Icon Negara Malaysia sebelum Menara Kembar Petronas (KLCC- Kuala Lumpur City Center) berdiri. Dalam hati aku berkata : tunggu saja, lain waktu aku akan berdiri tepat dibawahmu.
Disisa perjalannku menaiki Intra Kota ini, tak ada hal yang menarik lagi, tapi ada juga bekal 'ilmu' yang saya dapatkan yang berguna bila aku suatu saat nanti pergi sendirian, Atau siapa tahu teman memiliki kesempatan ke Kuala Lumpur, ikuti tip cara meniaki bis (khususnya Intra Kota) di Malaysia dibawah ini.
1. Bis hanya berhenti di Bas Stop, Bas Stand atau Bas Stesen,
2. Pastikan dipemberhentian berikut ada turun, tekan bel yang berada dikap mobil, diatas tempat duduk.
    20 meter sebelum pemberhentian.
3. Apabila  bis betul2 sudah berhenti dan pintu sudah terbuka, baru kita tinggalkan tempat duduk.
4. Bila kita akan naik, dahulukan penumpang bis yang turun hingga habis.
5. Bayar ongkos perjalanan dimesin karcis yang terletak disamping kiri pengemudi, gunakan uang pas saja, Begitu, .. kalau kita ikuti petunjuk diatas, kita terhindar dari cemoohan orang.
Akhirnya, Intra Kota sampai ditujuannya (disini orang bilang destinasi)
Bas stand sunyi, lampupun tidak begitu terang, tapi tidak juga suram
Kami (para punumpang bis) turun dengan tertib, tenang, tidak terburu-buru. Terkadang pengemudi tersenyum kepada penumpang kadang juga  berbicara  memberikan ucapan :
"Terime kasih ..", atau
"Sampi jumpe lagi ..", (pengucapan Lnya hampir tak kentara), atau
"Selamat malam .."
Khusus kepadaku (Bu Tin cuma dapat senyuman), si pengemudi berucap : "Selamat Datang di Kuala Lumpur .. "
Mulutku sempat melongo, tapi .. ah peduli amat, karena tas travelku inilah dia mengira aku dari luar kota, atau bahkan dia sememangnya tahu aku baru datang dari Indonesia.
Ha .. a
Sekali lagi Aku tidak peduli.
...
(berikutnya : Naik Kereta Api Komuter)

Tuesday, November 26, 2013

Bus Tak Berhenti Henti dan Berhawa Dingin

Cuaca hari pertamaku di Malaysia sangat bersahabat. Seharusnya dengan kondisi geografis yang tidak berbeda dengan Indonesia jam jam segini ini sedang teriknya matahari, namun hari ini tidak, awan diatas Kota Pontian mampu menahan cahaya matahari tidak sampai kebumi, sementara angin berhembus semilir menerpa lembut riap rambutku yang agak panjang, Aku duduk tenang dibangku panjang dengan pandangan menghadap tempat parkir bis, lenggang. Jam 4 sore bis baru berangkat, kata Bu Tin tadi sehabis dari loket pembelian tiket bis, 2 jam lagi, kataku dalam hati.
Dibangku panjang aku masih sendirian, Bu Tin pergi ke Surau di komplek terminal, aku sendiri sudah menjalankan kewajibanku sesampainya kami tiba di terminal bis. Kuputar pandanganku mengelilingi terminal,
Hamparan luas dengan bangunan ruang tunggu nyaman (seperti) berada ditengah tengah, dibelakang tempat aku duduk, tempat masuk, parkir dan keluar kereta sapu, lahannya sedikit kurang luas dibanding dengan
tempat pemberangkatan bis, komplek terminal yang terjaga kebersihannya, benar benar bersih tanpa sampah berserakan, lantaipun berkeramik putih mengkilat, pasti tiap hari tak lupa untuk dipel, kalau saja ada abu rokok jatuh dilantai pasti akan nampak. Ditempat strategis dan mudah dilihat orang terpampang tulisan besar : No Smoking Area, atau Clean and Carry, yang saya lihat orang orang yang ada disini patuh, dari tadi tidak ada kulihat orang menghisap rokok. Anak kecil yang duduk dibangku, 'rela' berjalan menuju tempat sampah membuang bungkus kembang gulanya.
Selama aku duduk, sudah beberapa bis masuk untuk menurunkan penumpang, lalu menaikkan penumpang, kemudian keluar meninggalkan terminal. Dari papan trayeknya kubaca, jurusan Johor Bahru dan Muar. Penumpang yang turun dan naik tidak begitu banyak, kuperhatikan dari bis yang pertama hingga terakhir (sebelum bis yang akan membawaku ke Kuala Lumpur datang) paling banyak 5 orang. Dari kebiasaanku belajar dari melihat inilah aku memperoleh pelajaran cara memasuki bis. Orang pertama berdiri agak kebelakang didepan pintu masuk supaya tak menghalangi penumpang yang turun, orang kedua akan menyusul berdiri dibelakang orang pertama, orang ketiga dibelakang orang kedua begitu seterusnya. Mereka baru naik setelah penumpang yang turun sudah tidak ada lagi. .. Tertib dan disiplin (taat pada peraturan), belakangan aku mengetahui kebiasaan yang diwarisi Inggris ini sudah tertanam dan berurat berakar pada warga Malaysia dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.
Karena kebiasaan antri ini sudah membudaya bagi penduduk Malaysia, mereka secara otomatis akan sabar menunggu hingga kegilirannya tiba, tanpa harus dipaksa tertib misalnya antrian dijaga satpam seperti di Indonesia (he .. he ..). Jadi .. kalau toh ada tulisan SILA BERATUR didepan loket pembelian tiket bis Naela, mungkin hanya pemanis saja atau diperuntukkan bagi warga negara lain yang tidak biasa mengantri. Lain halnya dengan Bu Tin yang memang syarat pengalaman hidup di Malaysia. Dia tetap menunggu giliran dibelakang orang yang sedang dilayani penjual tiket, padahal bisa saja berdiri disamping orang  pertama tadi, karena pembeli tiket waktu itu cuma 2 orang.
Kegemaran akan bacaan dan atau tulisan apa saja dan dimana saja ada tulisan pasti akan kubaca, dan sedikit banyak membuat aku berusaha untuk memahami arti tulisan tersebut. Nah .. ketika Bu Tin menyodorkan 2 tiket untuk kubawa. Aku membaca tulisan yang ada ditiket. Lembaran tiketnya sih sama seperti tiket bis di Indonesia, berupa  formulir (borang orang sini bilang) yang harus diisi nama penumpang, tujuan kemana, dari mana, berangkat tanggal dan jam, Nopol bis. Yang beda pada keterangan dibawahnya :  Bas Tak Berhenti Henti (Patas-Indonesia), Bas Berhawa Dingin (AC-Indonesia), yang membuat aku geli adalah : Beli 10 tiket, percuma 1, maksudnya beli tiket 10, gratis 1 tiket.
 10 menit sebelum pukul 4 sore, Bis Naela memasuki terminal.
"Ayo Pak Pri, itu bisnya datang", Bu Tin mengajakku berjalan kearah bis mengikuti calon penumpang lainnya.
Satu persatu kami memasuki Bis yang akan mengantar kami ke Ibu Kota Negara. Aku dan Bu Tin mendapat tempat agak ketengah. Setelah penumpang naik semua, ada pengecekan, tak berapa lama Bis meluncur meninggalkan Kota Pontian tepat jam 4 waktu setempat.
Kalau kelelahan fisik sih tak seberapa, mungkin karena pikiranku yang terbebani selama dipenampungan para calon TKI ilegal ini yang membuat otakku luar biasa capai, ini kerugian bagiku karena aku kehilangan kesempatan untuk menikmati perjalanku. Ya .. aku tertidur pulas diatas Bas Tak Berhenti Henti dan Berhawa Dingin.
...
(Berikutnya : BisKota itu Intra Kota)

Monday, November 25, 2013

Kereta Sapu

Setelah sukses melewati pintu masuk Negara Malaysia, Pelabuhan penyeberangan antar negara, Kukup, Kami (Aku dan Bu Tin, pengantar sekaligus pengatur perjalananku hingga sampai aku bekerja dinegara tetangga ini) berjalan kaki menyusuri jalan beraspal terawat, dikiri kanan jalan berderet rumah penduduk yang sekaligus merangkap kedai (warung), ada kedai runcit (menyediakan barang keperluan sehari), kedai makan, kedai penukaran uang. Aku kadang tersenyum simpul membaca berbagai tulisan yang terpampang disetiap papan promosi yang kujumpai, sedangkan Bu Tin acuh saja, berjalan cepat, maklum dia 'kan biasa keluar masuk Malaysia.
Dikedai penukaran uang yang agak kecil Bu Tin Masuk, tanpa berbicara banyak wanita lincah separuh baya ini mengeluarkan segepok uang rupiah, tak berapa lama 'gepokan' rupiah sudah berubah jadi lembaran ringgit. Kebiaasanku, jarang bertanya tapi belajar dari melihat, saat sipemilik kedai menghitung uang sempat kulihat beberapa lembar uang Rm.10,00 satu lembar uang warna merah Rm.5,00 warna keunguan dan 2 lembar  Rm.2,00 warna coklat. Ada keinginanku untuk memegang uang dari lain negara ini, tapi Bu Tin tak memahami keinginanku. Enak sekali lembaran ringgit itu  masuk kedalam tasnya. Kalau saja ada uang rupiahku, pasti aku sudah tukar sendiri. Aku mengelus dadaku .. 2 bulan lebih, selama aku dipenampungan (sama sekali) tak pernah pegang uang.
"Pak Pri, kita tunggu kereta sapu yang dari Pontian", kata Bu Tin sambil keluar dari kedai.
Aku diam saja tidak paham arah pembicaraan Bu Tin.
Sekitar 15 menit kami duduk dibangku panjang diluar kedai. Tiba tiba didepan kami, sedan berwarna kuning bagian atas dan hitam dibagian bawah berputar dan berhenti didepan kami.
"Pontian ..?" teriak sopir dari belakang kemudi.
"Ayo Pak Pri ..", Bu Tin mengajakku menaiki kereta.
Didalam sedan aku duduk diam, memikirkan dua keanehan yang kualami, yang pertama, sedan dengan warna yang sama, sempat kulihat tadi sekeluar dari gerbang pelabuhan, mungkin lebih dari 5, tapi bu Tin memilih berjalan kaki dulu hampir 200 m, kalau alasannya mau menukarkan uang, toh disitupun ada kedai penukaran uang, bahkan kedainya lebih besar.
Sepertinya Bu Tin tahu apa yang kupikirkan, dengan berbahasa Jawa dia menerangkan :
"Pak Pri, kereka sapu yang didepan gerbang tadi, ongkosnya mahal, kadang sampai 20 ringgit, kalau disini cuma 2 ringgit sudah sampai di Pontian. Lha wong kedai penukaran uangnya saja 'mahal' kok, makanya Bu Tin pilih disini sekaligus nunggu kereta."
Aku masih diam.
"Sopirnya juga kadang maksa untuk mengantar sampai ditempat tujuan kita, ongkosnya ..? jangan tanya, mahalnya minta ampun" lanjutnya.
Yang kugaris bawahi dari keterangan Bu Tin tadi, Nilai mata uang rupiah akan lebih rendah jika ditukar dikedai yang dekat pelabuhan.
Untuk keanehan yang kedua, masih ada dalam pikiranku dan (yang ini) Bu Tin tidak tahu apa yang kupikirkan.
Kereta sapu berjalan pelan, sementara penumpangnya baru kami berdua, Kukup tidaklah begitu besar, hanya beberapa menit saja kendaraan kami sudah melintasi perkebunan kelapa sawit. Aku kagum, kebun kelapa sawit dikiri kanan jalan ini terawat baik, bahkan boleh dibilang memperhatikan kebersihan dan keindahan, rumput dibawahnya seperti dipotong rapi. seperti rumput lapangan sepak bola. Tak ada pemandangan lain selain tumbuhan kelapa sawit, terkadang ada juga 1 atau dua rumah yang berhalaman luas dan juga terawat, yang kuperhatikan disetiap rumah pasti terparkir mobil entah itu sedan atau mini bis.
Disetiap jalan lorong masuk kebun kelapa sawit pak sopir akan memperlambat laju sedannya dan menyempatkan melongok kelorong, awalnya aku tidak tahu kenapa dia berbuat begitu. Nah .. dilorong yang kesekian barulah aku tahu, ternyata dilorong kadang ada penumpang yang menyetop. Jumlah penumpang jadi 4 orang, 3 dibelakang, 1 didepan bersebelah dengan pengemudi.
Dengan bertambahnya penumpang, sang sopir berjalan ngebut, tak peduli biar didepannya ada lorong, jangankan lorong ada orang nyetoppun kereta tetap laju.
Sampailah kami di Bus Stand (terminal kecil) Pontian. kami turun, dan kulihat Bu Tin menerima uang kembalian Rm. 6,00 setelah dia angsurkan 10 ringgit.
Sahabat .. pasti penasaran dengan apa yang kupikirkan yang satunya lagi dikereta sapu tadi. Sebetulnya sih nggak penting penting amat, itu lho kenapa sedan angkutan penumpang ini disebut kereta sapu, kenapa kok nggak taksi saja. .. Jawabannya kuketahui setelah berbulan bulan aku tinggal di Kuala Lumpur.
Waktu itu aku mau pulang dan hari sudah jam 10 malam, tentu akan lama sekali kalau aku menunggu bis Kota (disini disebut Intra Kota), cuma satu angkutan yang masih agak banyak, taksi. Ditempat aku berdiri aku selalu menghentikan taksi yang lampu diatas atas atapnya (bertuliskan taxi) menyala. Setiap ku stop, taksi akan berhenti kira2 20 m dari tempat berdiri. Selalu begitu. Ternyata kekeliruanku (aku tidak tahu kalau aku keliru) diperhatikan pemilik rumah yang masih duduk diteras rumahnya.
"Awak nak naik taksi ke ..?"
"Iye encik"
" Awak kene jalan sikit ketempat penghentian teksi kat sane, di KL ini takde lah kereta sapu yang berhenti dimerate tempat"
"Iye encik, .. terime kasih", kata tersipu malu.
Dipenghetian taksi yang berupa 2 pagar stenlis satu lajur aku berdiri, tak berapa lama tanpa aku menyetop taksi, taksi sudah berhenti persis pintu belakang ada didepanku.
"Turun kat mane encik ..?", tanya sopir taksi setelah aku duduk.
"Green Wood", jawabku.
Kereta Sapu .. eh .. taksi warna putih diatas dan merah dibawah ini meluncur membelah malam.
...
(berikutnya : Bus Tak Berhenti Henti dan Berhawa Dingin)