Satu minggu sudah aku berada di Kuala Lumpur, dan hari ini pertama aku masuk kerja. Menurut Sukarman (menantu Bu Tin sekaligus temanku semasa di Pati, Jawa Tengah, Indonesia) gajiku Rm. 40,00 satu hari (8 jam kerja, Pekerja bisa masuk jam berapa saja, asal jangan lewat tengah hari, selewat jam 12.00, pekerja sudah tidak boleh masuk), aku terkesima mendengar aku akan dibayar sebesar 1 bulan gajiku sewaktu menjadi guru di SMEA yang cukup terkenal di Pati, .. luar biasa, aku bisa bekerja saja gembiraku bukan main, apa lagi dengan imbalan yang lebih dari lumayan. Dan yang mengherankan aku dibayar bukan karena aku memiliki ketrampilan khusus ditempat aku bekerja, profesi baruku kalau teman mau tahu .. General Worker, pembantu umum, ya .. aku melayani tukang, aku jadi kuli/kenek bangunan, pekerjaan tanpa mikir, cuma perlu kemampuan otot, pokoknya .. tenaga kuat duit didapat. Lha kalau keneknya saja dibayar 'segitu', berapa gaji tukangnya, tidak heran banyak orang pengin bekerja di Negara ini.
Tempat kerjaku Kampong Sungai Pelong, kurang lebih 5 km dari bandar terdekat, Sungai Buloh (disini tinggal Budayawan terkenal Malaysia, dan beliau sering berkunjung ke Indonesia, kisah perjalanannya kerap dimuat dikoran setempat). Namanya juga kampung, tentu saja situasinya tidak seramai kampung dipusat kota, lokasi tempat kami bekerja dibelakang rumah warga yang kesemuanya menghadap kejalan besar, disebelah kiri masih berupa kebun dengan tanaman jangka panjang yang tak terurus, rumput menyemak setinggi pinggang, tak pernah dibabat. Disebelah Timur, diatas tanah datar, nampak rumah besar terbuat dari bahan kayu yang dipelitur, pekarangan sangat luas ditumbuhi pohon pohon besar diselingi tanaman bunga dan rumput yang terpotong rapi, rumah ini milik datuk yang beristrikan wanita keturunan dari Pulau Jawa.
Hari ini aku dan Sukarman (dia memegang visa kerja-permit palsu) berangkat bersama kerani (semacam mandor) naik mobil Pick Up, kami berdua duduk dibelakang, melintasi jalan, ramai namun lancar. Kami berdua berdiam diri, tak bercerita atau bercakap seperti awal awal kedatanganku. Sekali saja Sukarman bertanya padaku, apakah aku tidak lupa membawa pasporku, dan sekali memberi nasihat, kalau ditangkap polisi dilokasi pekerjaan bilang kalau datang 'kesini' karena ingin bertemu adik yang lama tidak pulang ke Indonesia. Perlu Aku jelaskan, bahwa visa tinggalku di Malaysia bukan visa kerja tapi visa melancong (pengertiannya aku mengunjungi saudaraku yang tinggal di Malaysia, bukan datang kenegara ini sebagai turis).
...
Tiga hari sudah aku bermandi keringat diterik matahari membatu tukang memasang batu merah (kerja ikat batu), dan sore ini aku diajak Sukarman untuk pulang ke Green Wood, Om Wanto sudah datang, katanya. Aku ikuti ajakannya, aku ingin ketemu teman perjalananku memasuki Malaysia, hanya saja nasib sial menimpanya, Om Wanto paspornya dicap NTL = Not to Land (?), para TKI yang dipenampungan biasanya menyebutnya : kena tendang, mereka yang kena tendang dipaksa untuk pulang ke Indonesia. Sebenarnya boleh dikata, hanya kurang beruntunglah kalau sampai paspor kita dicap NTL, artinya kita sudah berkesempatan untuk 'temu bual' (ditanya jawab=wawancara) dengan pihak emigration, kalau jawaban kita memuaskan mereka ya .. bisa masuk negara ini. Yang sungguh menyakitkan adalah, untuk bisa ketemu petugas emigration ini, nasib kita ditentukan oleh jari telunjuk seorang petugas khusus yang memperhatikan kami dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu dengan acuh jari telunjuknya akan menunjuk kami, dan mempersilahkan kami untuk duduk dibangku didepan loket emigration. Tentu saja kami berharap (dan cemas) untuk ditunjuk, tahukah kawan betapa sulitnya masuk negara ini, para penumpang kapal bersamaan denganku, ada 200 orang lebih yang ingin masuk, hanya 7 saja yang bisa lolos, termasuk aku, waktu itu Om Wanto gagal disesi 'temu bual'.
..."Kita naik KTM", kata Sukarman padaku, selepas kami turun dari Bus Selangor, trayek Kuala Selangor - Kuala Lumpur di Bandar Sungai Buloh.
"Kenapa nggak langsung saja naik bis ini, 'kan sama tujuannya?", tanyaku heran.
"Iya sama ke KLnya, cuma nanti turunnya jauh dari pemberhentian Intra Kota", Sukarman menjelaskan, nampak ada rasa kebanggaannya bahwa dia memiliki pengalaman tentang transportasi di Malaysia, disamping itu sepertinya ada sesuatu yang akan dia perlihatkan kepadaku, sesuatu yang di Indonesia tak kujumpai.
Dari Bas Stop kami berjalan kurang lebih setengah kilometer menuju stesien kereta api Sungai Buloh. Stasiun itu sepi saja tidak ada pegawai KA, selain seorang petugas sekuriti yang duduk agak menjorok disudut bangunan, dia tak pedulikan kedatangan kami (beda memang sekuriti bank atau kedai emas, memandangi pengunjung penuh curiga, semua orang yang datang dianggap akan melakukan kejahatan), diruangan yang agak lebar kami masuk, sempat kuperhatikan sekeliling, tak ada loket pembelian tiket, bahkan dinding sekeliling tak ada lobang sekecil apapun, lorong memasuki peron terdiri dari dua kotak setinggi pinggang orang dewasa diantara dua kotak terdapat palang yang mengcegah orang masuk.
"Tiketnya dibeli dimesin itu, mari kuajari .. siapa tahu suatu saat kamu pergi dengan naik KTM sendirian ..", kata Sukarman dengan senyum kebanggaanya.
Aku mengikuti Sukarman berdiri didepan mesin pembelian tiket, lalu dengan lincah dia menekan tombol - tombol yang tersedia, kemudian dilayar tertera harga tiket yang kami harus bayar. Sukarman memasukkan uang Rm. 10,00 ke'mulut' mesin tak berapa lama keluar 2 lembar tiket dan uang kembaliannya.
"Gimana .. ? gampang 'kan ..?", tanyanya, sambil mengambil dua lembar tiket dan uang kembaliannya. Nada bicaranya sepertinya hanya dia saja yang bisa membeli tiket dimesin ini.
Dalam hatiku pengin ketawa, apa anehnya dengan cara pesan tiket lewat mesin ini. Mau dibilang susah, enggak juga, apa lagi dibagian depan mesin itu ada petunjuk tombol apa saja yang harus kita tekan, mulai dari asal, tujuan, lalu berapa lembar tiket yang kita beli, untuk dewasa atau anak anak .. sudah. Kesulitan akan terjadi kalau kita tidak bisa menbaca tulisan huruf latin, dan ini masih bisa diatasi dengan minta tolong pada pak sekuriti. Jadi ..? ya .. memang gampang sekali.
Sukarman menyodorkan satu tiket untukku sambil berkata :"Ikuti saya".
Aku mengikutinya, kami menuju lorong pintu masuk keperon, sebelum mencapai palang, Sukarman memasukkan tiket kedalam kotak hingga tertelan habis, lalu berjalan menabrak palang lorong, palang itu bergerak membuka searah Sukarman masuk, ketika palang itu tertutup, tiket miliknyapun keluar disebelah dalam palang.
Dibelakang aku mengikuti langkah temanku yang sudah berada dibalik palang, sewaktu kudorong palang dengan perutku, palang tak bergerak, kuulangi lagi dengan menambah tenaga diperutku .. masih tak bergerak, rupanya palang sudah terkunci. Apakah hanya satu tiket saja palang bisa terbuka.
"Masukkan tiketmu disitu", kata Sukarman, jari telunjuknya mengarah kelobang tempat dia tadi mamasukkan tiket. Aku memasukkankan tiketku, mungkin baru sekitar satu cm saja tiket masuk, tiketku seperti ditarik mausuk kedalam.
"Nah .. sekarang masuk", perintah Sukarman.Aku masuk dan tanpa perlu tambahan tenaga, palang terbuka mengikuti badanku.
"Ambil tiketmu ..!"
Aku nurut, kuambil tiketku dan berjalan dibelakangnya.
Diperon sudah ada penumpang yang menunggu kedatangan kereta, mereka, sebagian ada yang duduk dibangku yang tersedia, ada juga yang berdiri. Suasana sore hari yang nyaman matahari sudah sangat miring mendekati bumi, angin semilir menerpa mukaku, dan menyibak rambutku yang sedikit panjang, sementara lampu stasiunpun belum dinyalakan. Didepanku 2 jalur rel membelah halaman dalam stasiun dan disebelah rel kedua, membentang pagar terbuat dari 'anyaman kawat' berlapis plastik hijau (semenjak aku tinggal di Malaysia memang belum pernah kulihat pagar tembok atau pagar besi untuk membatasi rumah atau kantor), sehingga pepohonan diluar pagarpun tak terhalang masuk kepelupuk mataku .. terasa damai.
Tanganku ditarik Sukarman untuk mengikutinya."Minum dulu, kereta seperempat jam lagi datang",
Aku terdiam, keasyikan menikmati suasana sore diperon stesen KA Sungai Buloh.
"Ada uang sellingmu ?, Aku cuma punya uang kertas"
Kusodorkan uang koin Rm.1,00
"Masih punya enggak ?"
Kembali kusodorkan uang koin, kali ini lebih banyak kuambil dari saku, Sukarman mengambil satu dari telapak tanganku.
"Pelajaran berikutnya", katanya, tentu dengan senyum yang bisa diartikan kagum akan dirinya sendiri. Kami menuju mesin penjual minuman.
Sukarman memasukan 2 uang koin dan menekan tombol didepan merk air tin (minuman dalam kemasan kaleng) yang berbeda.
Apa yang dikatakan menantu Bu Tin ini tentang pelajaran, aku memaknainnya lebih dalam lagi, bukan sekedar membeli dimesin tiket atau mesin penjual minuman, lebih dari itu. Ketertiban itu yang pertama kali kurasakan, ditempat umum (stesen bas maupun stessen kereta api) yang biasa kujumpai di Negaraku, penuh dengan penjual asongan, pengamen maupun penawar jasa (calo), yang menurutku lebih banyak mengganggu dari pada menolong, disini tidak ada .. benar benar tidak ada, orang orang yang berada diperon semua adalah calon penumpang.
...
Cahaya matahari mulai remang, lampu stasiun menyala kuning terang, penumpang semakin bertambah banyak, meski begitu suasana tidak hiruk pikuk, yang duduk, tenang ditempat duduknya, yang berdiri, sabar menunggu kedatangan kereta yang akan membawanya ketempat tujuan. Sesaat kemudian terdengar pengumuman kalau kereta akan memasuki stasiun tidak lama lagi.
Jam 18.20 kereta masuk, pas sesuai jadwal yang tertera. Calon penumpang berdiri, berjajar rapi ditempat yang bertanda garis putih dilantai, dimana pintu kereta akan tepat berhenti digaris putih ini. Tidak berbeda dengan tata tertib menaiki bis, begitu juga tata tertib menaiki kereta, para calon penumpang menunggu penumpang kereta turun hingga habis, baru kami naik. Kebetulan kami tidak memperoleh tempat duduk, sebagian dari kami yang naik dari Sungai Buloh memang terpaksa harus berdiri, tempat duduk sudah dipenuhi penumpang dari stasiun sembelumnya. Namun begitu toh .. kami tak kegerahan, AC terasa dingin, lampu kereta terang benderang, gerbong kereta terjaga kebersihannya.
Sebelum kami turun distasiun Kota, ada tiga stasiun kami singgahi, Stasiun Kepong, Segamat dan Putra, sebelum memasuki stasiun, dari pengeras suara yang terpasang disisi gerbong penumpang akan memperoleh pemberitahuan, sehingga penumpang tak ragu dimana saat itu kereta berhenti. Yang hebatnya sampai aku turun di Stasiun Kota, tak ada petugas KA yang memeriksa tiket kami. Dilain hari ketika aku naik KTM lagi bersama Sukarman, dia menjelaskan keheranku, bahwa palang pintu keluar bisa terbuka kalau tujuan yang tertera ditiket sesuai dengan stasiun dimana kita akan keluar stasiun. Ck .. ck .. ck .. disini aku baru merasa kagum akan teknologi yang mampu menerobos dan menertibkan perilaku kehidupan masyarkat umum.
Stasiun Kota .. hanya diterangi lampu, Bumi sudah gelap.
Kami, aku dan Sukarman turun, lalu berjalan mengikuti antrian keluar dari stasiun. Sama seperti memasuki stasiun, begitu juga waktu keluarnya. kami harus melewati palang pintu yang hanya terbuka bila kita memasukkan tiket dikotak sebelah kanan.
Diluar stasiun kami masih disugihi lagi kenyamanan jalan berupa tangga terbuat dari beton, lebar tak lebih dari 1 meter menyusuri taman yang ditaburi cahaya lampu taman. Panjang jalan tangga boleh dikata lumayan jauh, melingkar lingkar, terkadang agak lurus, mengikuti bentuk tanah berbukitan, yang akhirnya diujung tangga kami sudah berada sekitar 10 langkah dari pertigaan Jl. Semarang, tempat kami menunggu Intra Kota 4D, yang akan membawa kami ke Green Wood.
Om Wanto .. aku sudah tidak sabar ingin cepat bertemu....
(Berikutnya : Executive Coach)