Memaknai hidup dengan memberi arti untuk hal-hal yang kecil ..... Menjalani hidup dengan apa adanya ..... Mensyukuri dan menikamati kekurangan yang ada

Wednesday, October 7, 2015

Episode Akhir Sang Bomoh Sungai Pelong

Tahun 1997 - akhir 1998, negara-negara di Asia Tenggara mengalami krisis ekonomi, tak juga luput negara maju seperti Malaysia juga terkena. Menurut pakar ekonomi, musibah ini dikarenakan ulah seorang pialang asal negeri nun diseberang sana, George Soros, sampai-sampai, karena kesal dan kelewat jengkel, PM Malaysia, yang dikenal santun, bijak dan berwibawa, melontarkan perkataan mengejutkan, bahwa George Soros, adalah perampok. Untuk menyelematkan keuangan negaranya, PM. Tan Sri Mahathir Muhammad mengambil jurus jitu yang pro rakyat, rakyat diminta untuk menahan diri untuk berbelanja yang tidak perlu dan dihimbau untuk meminum teh tanpa gula hingga siutuasi ekonomi membaik. Sifatnya himbauan, tapi jangan salah anjuran ini ditaati oleh warga Malaysia. Kebijkasanaan yang diambil pemerintah sangat sederhana dan mudah untuk diterjemahkan oleh seluruh warganya, makanya  tidak heran kalau krisis ekonomi dinegara ini cepat teratasi. (Maaf, kalau saya sempat membandingkannya dengan anjuran Pemerintah Indonesia dalam pidatonya saat itu, bahwa rakyat Indonesia diminta untuk mengencangkan ikat pinggang. Saya mengartikannya, kami harys siap menahan lapar (?). Waduh ..)

Tidak bisa tidak, kami para pekerja dari Indonesiapun terkena imbas dari situasi ini, proyek binaan dihentikan semenatara, kami diistirahatkan. Bagi yang memiliki permit kerja masih menerima gaji separo perharinya, sedangkan yang pekerja ilegal, tidak menerima gaji sama sekali, hanya saja kami diberi pinjaman untuk keperluan sehari-hari yang akan dibayar ketika kami kerja nanti. Meskipun tak ada pekerjaan, tapi kami tak perlu mengencangkan ikat pinggang. masih ada uang pinjaman, walau kita harus pandai mengatur pengeluaran keuangan kami.

Aku.. diminta Herman untuk tinggal dirumahnya, Kg. Changkat,  kurang lebih 2 km masuk kedalam dari GBC (Gombak base Camp), ini sesuai rencananya sewaktu kami, aku dan Herman masih tinggal di Sungai Pelong. Sedangkan Om Anton, Sukarman dan Toni, tinggal diproyek binaan di Batu Caves, ikut Pak Mul, tangan kanan Touke A Kiong pemborong kerja kayu, yang lebih suka dipanggil A Pek. Kalau pekerjaan sudah berjalan Sukarman berjanji untuk menjemputku.
Rencana yang kami susun yaitu meneruskan profesiku (pura-pura) sebagai dukun. Kenapa harus dirumah Herman ? Ternyata disini pernah tinggal seorang dukun (kata Herman dukun palsu) Bentar namanya,  berasal dari satu daerah dengan Herman. Pertimbangannya dengan aku berdukun dirumahnya akan cepat dikenal, karena masih banyak pasien Bentar yang berdatangan untuk dimaterai,  padahal Sang Bomoh sudah lama pulang ke Indonesia. 
Ide yang cemerlang (he .. he .. ternyata aku mulai menikmati pekerjaan bohongku), aku menyetujuinya dengan satu syarat segala yang diakibatkan oleh ulahku ini akan ditanggung sendiri - sendiri tanpa melibatkan teman.

Aku buka praktek sore hari, sebelum azan maghrib aku sudahi pekerjaanku, kalau masih ada pasien, Herman yang bertugas penerima tamu (?) akan mempersilahkan datang esok hari, dengan saran untuk datang lebih awal. Dari hasil kerjaku ini, terasa hidupku tercukupi (hanya untuk hidup di Malaysia, tidak ada hasil dari berdukun ini kukirim ke Indonesia), bahkan lebih dari layak. Hal ini karena aku menggunakan aji mumpung dengan mengkomersilkan keahlianku mempengaruhi jalan pikiran mereka. Apa lagi yang datang kebanyakan bukan pasien sakit, tapi orang berduit yang  ingin beristri lagi, pengin tambah ditakuti bawahan, pengin diterima bekerja atau pengin naik jabatan. Jika yang datang ingin berobat, adalah tugas Herman untuk menolaknya. Ha .. karena aku sama sekali nggak paham tentang penyakit apalagi menyembuhkannya.

Untuk memuluskan usahaku, kepada para tamu aku tak segan-segan mengaku sebagai ajudan bomoh yang dulu pernah tinggal disini. Kuceritakan juga selama ini aku buka praktek di Sungai Pelong, lalu pindah ke Kp. Changkat untuk menggantikan Bentar. Karea aku orang dekat Bentar, mereka makin percaya keahlianku, ini bisa kutahu karena mereka berkali-kali datang. Hanya saja aku salah duga, pengakuanku yang kukira membuat aku makin sakti dimata mereka, ternyata  berujung celaka.

Seseorang diluar rumah mengucapkan salam. Herman membuka pintu dan mempersilahkan masuk ternyata bukan seorang tapi 3 orang tamu, semuanya pria. Aku mempersilahkan duduk, dikarpet. ruang tamu kami tidak bermeja dan berkursi tamu, bukan sekedar alasan praktis, lebih pada pertimbangan ekonomis. Kalau kami pindah rumah tak perlu kami repot mengusungnya, begitu juga  perabotan lainnya, kalau memang bisa dijual, kami jual, kalau tidak laku ya .. ditinggal.
Mula mula tamu kami ini bersifat ramah, mereka mengatakan perihal kedatangannya, rupanya mereka merasa menjadi korban Bentar, yang dimintai uang mahar untuk sebongkah batu yang berkasiat,  sayangnnya hingga sekarang azimat itu tidak pernah mereka terima. Dan aku sebagai ajudannya diminta untuk bertanggung jawab harus mengembalikan uang mereka. Aku tidak langsung menolak permintaan mereka, kawatir terjadi keributan. Kusuruh mereka bersabar, bulan depan Bentar akan datang dari Indonesia (satu alasan yang kucari-cari, tidak ada kebenarannya sama sekali). Ke-3 orang ini tidak mau tahu, pokoknya malam ini juga mereka harus pulang dengan membawa tuntutan mereka.

Terjadi perdebatan. Situasi memanas. Tiba-tiba dengan kecepatan layaknya pesilat tangguh, tamu yang tepat didepanku melesat dan mencengkeram kerah bajuku dan tangan kanannya mengancam mukaku dengan kepalan tinjunya.
"Nak ini ..!", teriaknya.
Herman langsung melompat dan duduk diantara aku dan penantangku, lalu mendorong lelaki yang mau meninjuku, hingga terjatuh telentang, namun dengan sigap dia berdiri, disusul Herman ikut berdiri. Situasi tambah runyam, karena dua laki-laki lainnya ikut berdiri dan mulai mengepung Herman.
Ditengah suasana genting, tak disangka 4 orang masuk dalam rumah yang tak tertutup pintunya. Dengan tampang seram 4 orang yang baru masuk ini matanya melotot kearah dan mendorong-dorong keluar ketiga tamuku tadi.
"Pulanglah, tak payah balik sini lagi",
"Ok, kami pulang, tapi persoalan belum lagi selesai".
"Hah .. apa awak cakap ? Awak nak ugut kami, Jangan awak tampakkan batang hidung awak di Changkat ini kalau nak selamat. Camkan ini", kali ini giliran sipenolongku yang mengacam.
Dua orang kawannya cepat menarik keluar, dari pada perekelahian tak seimbang, mundur tentu saja lebih aman.
"Padam muke ..", Herman dengan logat kental kejawa-timurannya berteriak tertahan.

Esok harinya, aku dan Herman bersiap pergi, pintu sudah kami gembok. Sementara kami akan mengungsi dulu di GBC.
"Jum .. berangkat",
"Jum .."
Aku masih terpaku didepan pintu, membaca lagi tulisan disecarik karton yang kami siapkan tadi malam : BOMOH TAK BERLESEN, MASUK LOKAP, artinya dukun tak berijin dipenjara.

***
(Berikutnya : Sukarman Menyerahkan Diri)

Catatan :
Siapakah keempat penolongku tadi ?
Mereka adalah anak-anak kampung yang berlagak preman. Hampir setiap malam mereka datang mengunjungi kami, untuk sekedar merokok, minum air tin serta kue. Kami tak keberatan dengan kedatangan mereka, toh .. rokok, air tin dan kue yang kami suguhkanpun kami peroleh dengan gratis dari tetamu kami.













Sunday, October 4, 2015

Bomoh Sungai Pelong (Bagian 3)

Dari Kuala Lumpur ke Sungai Pelong kami bisa naik kereta api (KTM) atau Bis PO. Selangor. Kami lebih memilih naik bis dari pada kereta api dengan pertimbangan bis akan berhenti di bas stop Sungai Pelong, selain itu, ini yang utama, bila kami naik kereta api, turun di Stasiun Sungai Buloh, lalu berjalan kaki ke bus stop, jalannya sih tidak jauh, tapi dipenantian bis Selangor itu yang membuat jantung kami terpacu cepat, harus waspada, bergaya seperti cuek tapi mata mengawasi setiap mobil yang akan melewati kami, siapa tahu yang akan melintas itu mobil polisi. Padahal kemunculan bis yang akan membawa kami ke Sungai Pelong berkisar 15 menit bahkan lebih, waktu yang kami rasa sangat lama, mengingat (menurut kami pendatang haram) situasi kami anggap genting. 

Aku dan Sukarman turun dari bis, kemudian berbalik arah menuju lorong kampung, pas dimulut lorong ada kedai kopi dan juadah berupa kari pap dan ubi goreng, bila sore hari aku atau Sukaraman akan singgah dan meminum segelas kopi serta beberapa kue. Pemilik kedai seorang lelaki 35 an tahun, sangat ramah kepada kami, tak pernah sekalipun dalam setiap pembicaraannya menyinggung kami yang pendatang haram, dengan menanyakan dokumen kelengkapan kerja. Hal mana yang sering dilakukan oleh sembarang Orang Melayu, padahal bagi mereka tidak ada kepentingannya. Pakcik kedai kopi ini menunggu warungnya hanya sore hari, pagi dan siangnya pakcik dinas dikesatuannya, ya .. pakcik seorang asykar (Tentara Diraja Malaysia).

"Dari KL ..?"
"Iye pakcik"
"Dah hampir siap binaan 'tu"
"Iye .. dah siapun, setakat ripe-ripe yang kami kerje"
"Dimane lagi kerje selepas ni ..?
"Lum ade lagi".
Sambil bercerita, pakcik tak beringsut dan tetap sibuk dengan acara goreng menggorengnya. Kamipun begitu asyik dengan menikmati seduhan kopi dan kue hasil gorengan pakcik asykar.

Dalam menjalin keakraban dengan warga setempat, kami harus memilih mana yang benar-benar tulus terhadap kami. Tidak asal berteman. Kami mau mereka baik selagi kami ada ataupun tiada dihadapan mereka. Sebenarnya keakraban yang yang kami bina untuk membangun tameng / perisai keselamatan kami selama tinggal disuatu tempat di Tanah Melayu ini. Kami berharap mereka paham dari pembicaraan yang kami lakukan, mereka berkesimpulan, bahwa kami orang yang benar-benar bekerja, tidak bikin kekacauan atau bikin kes jenayah (tindakan kriminal). Sudah terbiasa dinegeri ini pencurian kecil2an dilakukan oleh para penagih dadah, yang sering terjadi .. hilangnya pakaian yang sedang dijemur. Katakanlah semacam tindakan prefentif agar mereka berpikir 1000 kali bila ingin menuduh kami.

Namaku di Sungai Pelong sudah cukup dikenal sebagai dukun. Sudah banyak warga yang minta bantuan kepadaku. Permintaan yang kadang membuat hatiku tertawa, hanya karena kambingnya sering mengembik tengah malah, katanya kambingnya diganggu hantu. Ada juga yang rumahnya minta diberi pagar gaib. Dan ini yang bikin aku geli pohon dukunya berbuah jarang, eh .. datang juga pemilik pohon minta pohonya dido'akan agar berbuah lebat dan paling manis rasanya dibanding duku lainnya. Semua keinginan mereka kupenuhi, enggak masalah, 'kan mereka memberi imbalan berupa ringgit meski jumlah nggak seberapa, yang penting dapur kami tetap berasap dengan aroma bukan hanya nasi goreng dan mie instan. 
Setiap aku pulang dari panggilan untuk praktek, Sukarman akan memujiku, bahwa cara berdukunku makin maju, makin halus, dan selalu ada trik baru yang aku pakai. Sehingga orang makin tersugesti akan kemampuanku untuk menangami keluhan mereka, tanpa mereka sadari bahwa kesembuhan/keluhannya terselesaikan oleh diri mereka sendiri.
"Hm .. hebat", kata Sukarman sambil mengangkat jempol tangan kanannya.
...
Sore itu aku berada didalam bangunan yang belum jadi, duduk bersandar dinding, ditemani Om Anton, Herman dan Sukarman pergi keseberang jalan raya membetulkan dan memasang keramik kamar mandi, milik Makcik Leha (Warga Negara Malaysia keturunan Pacitan, Jawa Timur). Om Anton, sosok pria desa dengan pembawaan khas masyarakat pedesaan, tidak neko-neko, jujur dan lugu. Karena keluguan dan kejujurannya ini, sering membuat kami tertawa padahal Om Aton tidak sedang melucu. Seperti sore ini, aku dibikin tergelak, karena dia menceritakan kejadian lucu teman kampungnya. Ceritanya tidak begitu menggelitik, hanya saja banyak ceritanya yang diulang, pengulangannya tidak berobah sama sekali dengan caranya bertutur sebelumnya. Jadi sepertinya aku sedang mendengarkan kaset di tape recorder. Lebih lucu lagi, saat dia bercerita sering kami potong dengan pertanyaan (dan pertanyaannyapun sama dengan pertanyaan sebelumnya), Om Anton akan menjawab dengan senang hati juga serius. Dia merasa senang karena ceritanya disimak dengan baik oleh pendengarnya.
Ditengah keasyikan kami, Sukarman datang, tergopoh-gopoh sekali.
"Pak Pri, sekarang juga kamu pulang ke KL", katanya diantara sengal nafasnya.
"Kenapa ..?"
"Ada kes pecah rumah"
"Apa itu ..?"
"Rumah Pakcik Asykar dimasuki pencuri".
"Lho .. jadi aku yang dituduh pencurinya?"
"Bukan, Pakcik askar minta tolong kekamu untuk menemukan pencurinya"
Aku berpikir sejenak, tak sengaja aku memandang wajah Om Anton, pucat pasi.
"Kalau aku pulang ke KL, bisa jadi dikira aku pencurinya, justru dengan kepulanganku kalian akan menghadapi masalah".
"Jadi kamu mau kerumah pakcik askar? mau menemukan pencurinya lewat manteramu, .. ah Pak Pri .. Pak Pri bukankah selama ini kamu cuma berlagak orang pintar, berlakon jadi bomoh".
"Semoga dengan kedatanganku dirumah pakcik askar, kita berempat akan selamat. Yook Pak Karman .. kita berdua kesana", tanpa menunggu jawaban, aku tarik tangannya.

Askar ramah ini menyambut kedatangan kami,  tak ada tanda curiga disorot matanya, aman. Memakan waktu cukup lama pakcik askar bercerita awal kejadiannya. Sepulang dari dinas pintu rumahnya sudah terbuka, TV serta tape recorder jenis mini compo sudah tidak ada ditempatnya, diangkut pencuri.
"Baiklah pakcik, tolong sediakan minyak kelapa serta bubuk lada, ditaruh dipinggan". Kataku memulai ritual. Aku berpura-pura membaca matera, lalu kutiup mangkok yang berisi minyak kelapa dan lada.
"Tolong pakcik, ambilkan tanah bekas pijakan kaki sipencuri untuk kucampurkan disini, kalau sudah tercampur dalam satu malam kakinya seperti terbakar yang amat sangat, paginya dia akan antar balik barangan pakcik yang dicuri".
"Aduh .. macam mana ini, dah banyak orang berkunjung kesini dan puluhan pasang kaki memijak pekarangan rumah, hm ... bagaimana kalau aku salah ambil .. apakah akan kesakitan juga kakinya ?"
"Pastinya pakcik, oleh karenanya jangan salah ambil".
"Jangan teruskan .. pakcik iklas, barangan pakcil hilang tak mengapa, dari pada kaki orang kena sakit, aku pula nanti yang menanggung azab. Selesai sudah, batalkan saja ritualnya".
 "Betul iklas pakcik?" tanyaku menegaskan
"Iklas .. iklas luar dalam"

Aku dan Pak Karman jalan beriringan pulang.
Pak Karman menepuk-nepuk pundakku.
"Trikmu makin halus .."
Aku cuma tersenyum
"Jangan-jangan kamu memang dukun?"
"Ngarang .. !" teriakku sambil menendang pantat kawanku ini. Sukarman menghidar, terus berlari dengan tawa lepasnya.
"Awas kamu .. !"
Sukarman makin tergelak.
Akupun ikutan tertawa lepas.
Ha ..ha .. !
Kami lupa, ini negara orang.
Kami lupa, kami pekerja ilegal.

***
Berikutnya :Episod akhir Bomoh Sungai Pelong
















































Friday, October 2, 2015

Bomoh Sungai Pelong (bag. 2)

"Bomoh ..? Apa itu bomoh .. ?", tanyaku bingung.
"Dukun. .. Orang pintar".
"Ha ..a ..ah .. !".
Aku terkejut dan terhenyak dikursi.
Om Anton dan Herman terkejut juga, kemudian tersengih.
"Pak cik tunggu saja kami dirumah, selesai shalat Isya kami kesana".

Begitu agak stabil dari rasa terkejut, aku protes dengan 'keanehan' otak sahabatku ini.
"Kamu ngawur kok om, kapan kamu lihat aku jadi dukun".
"Kan kamu biasa sowan ketempat mBah Yai".
"Aku ke mBah Yai itu belajar agama, bukan pengin jadi dukun".
"Dah lah .. kamu dulu penyiar radio, pasti biasa main sandiwara. Nah sekarang anggap saja kamu sekarang sedang main sandiwara berperan sebagai dukun, jangan sia-siakan kesempatan, duit lho ini", Sukarman memberi penekanan pada kalimat akhir. Duit .. duit, ya kami sudah berhari hari tak memegang uang, makan selalunya cuma 2 menu, nasi goreng dan nasi dengan sayur + lauk mie instan.
"Kalau ketahuan, gimana?", aku masih ragu.
"Hanya kita berempat yang tahu, rahasia terpegang teguh, Ya 'kan Om?", yang diminta penegasan Om Anton, Hermanpun tak kalah sigap, dia anggukkan kepalanya dengan mantab. Kedua orang ini sememangnya begitu, mengikuti apa kata boss, dalam hal ini ya Sukarman. "Tu .. 'kan..!, mereka siap menyimpan rahasia". Lalu ditambah lagi dengan kalimat klasik :"Rahasiamu adalah rahasia kita, apapun yang terjadi, kami akan tetap pegang teguh dan simpan kuat2 rahasia ini". Kami berempat diam,  berpikir apa yang akan terjadi setelah kami tiba dirumah pasien. Pembekalan cara berdukun diberikan Sukarman berupa petunjuk praktis, yaitu : Aku disuruh mengingat kembali film Indonesia yang banyak menampilkan sosok dukun yang sedang praktek.

Pakcik yang tadi bertandang kerumah kami, membalas salam kami sambil membuka pintu dan mempersilahkan aku dan Sukarman masuk kedalam rumahnya. Aku melangkah masuk diikuti Sukarman dan tuan rumah menyusul dibelakang setelah sebelumnya menutup pintu dengan deritan engsel yang cukup keras. Sedikit heran, aku memperhatikan ruangan, semuanya serba sederhana dan seperti dikemas dengan terburu-buru, mungkin karena kami akan datang kesini. Aku duduk ditikar bersebelahan Sukarman, didepan kami duduk pakcik pemilik rumah, wanita setengah baya, dan seorang ibu muda sambil memangku seorang bocah perempuan berusia sekitar 2 tahun. Kami berbasa-basi, sebenarnya bukan kami, karena aku sendiri lebih banyak diam mengingat Bahasa Melayu baru beberapa hari ini aku 'akrabi'.
"Ini Izzah, yang kurang enak badan dan kalau malam selalu saja menangis",
Aku memandangi Izzah dan melempar senyum bersahabat, sementara mata bening sicomel ini menatapku, secara naluri aku merasakan anak ini menerima kehadiranku dirumahnya. Dan sambil tak melepas pandangan matanya, tiba-tiba diluar dugaanku, anak ini tersenyum malu lalu menyembunyikan wajahnya diketiak ibunya. Semua yang ada diruang tamu menyambut kelakuan Izzah dengan tertawa lepas. Kembali anak cantik ini menoleh kearahku dan kembali melepas senyuman, kali ini Izzah tak menyembunyikan wajahnya. Entah karena dorongan dari mana, aku menjulurkan kedua tanganku meraihnya, Izzah berdiri dan menurut saja. Sesaat kemudian dia sudah ada dipangkuanku. Kali ini semua mata tertuju kearahku, aku tak peduli, aku masih berkomunikasi dengan anak ini, dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang aku mengusap usap kening sibocah, diluar kesadaranku aku meniup ubun-ubun anak ini, lalu aku miminta segelas air putih. Bergegas ibu anak ini mengambilkan permintaanku.
Segelas air putih didepanku kuambil dan aku berkomat komit seperti mbah dukun membaca mantera, lalu kutiup air dalam gelas ini dan mengucapkan Al Fatihah. Kami berlima membaca surat Al Fatihah dengan khusu. "Bila Izzah bangun nanti, minumkan air ini, berhentilah apa bila dia selesai meminumnya", kataku berpetuah.
Kusorongkan Izzah keemaknya. Kami berpamitan hendak pulang, kusalami mereka semua, khusus untuk Izzah aku mengusap pipinya sambil berucap :"Izzah bobok ya,  .. jangan nangis lagi". Sebelum aku melangkah melewati pintu pakcik memasukkan sesuatu disaku bajuku, sambil berterima kasih padaku karena sudah sudi menolongnya.

Malam ini aku gelisah, tak bisa tidur memikirkan kejadian pertama kali dalam hidupku, (berpura-pura) jadi dukun. Karena nasehat Sukarmanlah yang aku bisa agak sedikit tenang. Kalau besok terjadi sesuatu kita hadapi bersama-sama dengan resiko terberat ditangkap polis dan dipaksa pulang ke Indonesia.

Pagi hari aku duduk didepan rumah memadang matahari yang menyembul diatas bukit sebelah Timur, sendirian. Perasaanku tak karuan, ketakutan masih menghantuiku karena ulahku tadi malam, bisa jadi pakcik jengkel padaku karena sibocah justru nangisnya kian menjadi, lalu melapor ke polis. Macam2 pikiran jelek juga kuarahkan ke Sukarman dan Om Anton (istri mereka bersaudara), sewaktu bangunku mereka sudah tidak ada dirumah, jangan-jangan mereka sudah melarikan diri. Ditengah kekalutanku ternampak Sukarman dan Om Anton mendorong gerobah sambil tertawa-tawa.
"Dari Datuknya Izza, subuh tadi datang dan mengajak aku kekebunnya".
Aku melongok kedalam gerobok... wow gerobak penuh rambutan merah ranum.
Sukarman berbisik kearahku :"Pakai do'a apa kamu ? Izzah tadi malam tidur nyenyak".
"Iye ke ?"
"He'eh"
"Alhamdulillah", tanpa kusadari kedua tanganku menengadah keatas.

***

Berikutnya : Bomoh Sungai Pelong (bag.3)














Thursday, October 1, 2015

Bomoh Sungai Pelong

Berempat kami  (aku, Om Anton, Sukarman dan Herman) duduk tepekur memandangi bangunan yang kami kerja mendekati selesai dari teras depan tempat kami tinggal sementara selama bekerja di Kampung Sungai Pelong. Otak kami dipenuhi dengan persoalan masing-masing, kami sekelompok orang yang berkumpul tapi seperti beraktifitas sendirian. Sesekali terdengar tarikan nafas seperti ingin melepas beban berat atau masalah yang menghimpit. Memang kami semua (saat ini) memiliki persoalan hidup yang hampir sama, ingin memperoleh uang secepatnya, berapapun, kemudian segera meninggalkan bangunan 3/4 jadi yang kami kerja, sebelum sesuatu yang sangat menakutkan menimpa kami. Menurut cerita dari mulut kemulut, yang akhirnya sampai juga ketelingaku. Apabila bangunan yang dikerja para pendatang haram mendekati selesai pemilik bangunan atau pemborong bangunan tak ingin membayar kami, mereka  akan memanggil polis. Bisa ditebak apa jadinya kalau polis datang ? Tentu pekerja ilegal akan berlarian berusaha menyelamatkan diri dari tangkapan polis. Ujung-ujungnya hilanglah lembaran ringgit hak kami selama bekerja, karena .. tak mungkin kami berani datang lagi kelokasi binaan untuk meminta gaji. Lebih baik hilang uang dari pada dipaksa pulang ke Indonesia.
Sudah 2 minggu lebih kami menganggur, menunggu bahan untuk menyelesaikan pekerjaan sekaligus menunggu gaji kami yang belum dibayar untuk sain kad (dari kata sign card-berupa absensi kehadiran) yang lalu. Selama penantian ini perasaan was-was selalu menghantui kami, terutama malam hari, kewaspadaan kami tingkatkan. Jangankan lampu motor atau mobil dari jalan yang berjarak 100 meter dari kami, sedangkan tentangga sebelah menghidupkan lampu saja sudah membuat kami berempat diam terpaku, saling pandang dalam gelap mengambil keputusan cepat bersama secara kilat dan kalau memang situasi memang benar genting bersiap untuk ancang-ancang mengambil langkah seribu.

Hari menjelang Isya, kami masih duduk diteras rumah sambil meminum teh setelah selesai makan malam.
"Bagaimana ini, pak ?" aku membuka percakapan.
"Tunggu, dalam 2 hari tak ada bahan dan gaji, kita pulang ke KL", Pak Sukarman mengerti arah pertanyaanku.
Kembali kami diam, dengan mata tetap mengarah kelorong menuju rumah kami. Lorong itu agak remang-remang terkena bias sinar lampu rumah sebelah jalan.
"Sstt .. waspada", Herman berbisik memberi peringatan.
"Dimana .. ?".
"Dilorong .. mengarah kesiani."
Mata kami melihat ujung lorong, Seseorang berjalan kearah rumah kami.
"Kalian bertiga kesamping rumah, tunggu kode dari aku", perintah sukarman. Kami menurut. Bertiga kami kesamping rumah. Kalau terjadi sesuatu, enak saja kami melesat menuju semak dan masuk kedalam belukar. Sukarman sendiri sebetulnya hanya bermodal berani dan kehebatan serta kelincahannya berlari, diapun sama seperti kami pekerja ilegal. Masih mending aku, karena visa tinggal melancongku masih hidup 5 hari.
Sunyi.
Tegang.
Suara binatang malang bersahutan, bukannya bising tapi malah suasana makin mencekam.
"Silahkan merokok pak cik .."
Itu kode untuk kami dari Sukarman.
Herman dan Om Anton masih takut untuk keluar, aku berjalan menuju depan.
Baru saja aku ternampak oleh Sukarman dan tamunya. Sahabat karibku ini langsung berkicau :"Inilah pak cik, bomoh dari Pulau Jawa yang baru saja aku ceritekan kat pak cik". Pakcik langsung berdiri menyambutku dan dengan hormat mengajakku berjabat tangan serta mengucapkan salam.
"Ini kawan aku, biase tolong orang, dia ni bomoh populair di Jawa sana", Sukarman berkicau lagi dan berkicau lagi, kali ini kepadaku:"Pak cik anaknya sakit, kalau malam sering menangis, dia cari bomoh, lalu kutunjukkan kalau kamu itu bomoh".
"Bomoh ..? apa itu bomoh ..?"tanyaku bingung.
"Dukun, .. orang pintar"
"Ha a a h ..!".
Aku terkejut dan terhenyak dikursi.
Om Anton dan Herman terkejut juga, tak lama,  kemudian tersengih.

 (Berikutnya bomoh Sungai Pelong bag. 2)













Friday, March 13, 2015

Gombak Base Camp 2

Sore hari diteras GBC. Cuaca cerah, sedikit sinar matahari menerobos diantara rimbun daun rambutan depan rumah kami. Aku, Pak Cik Tua dan Sukarman duduk tenang menghadap meja dengan 3 gelas kopi pekat dan sepiring pisang goreng. Pak Cik Tua sudah selesai dengan keluhan tetapnya, Aku dan Sukarman hangat membicarakan tentang tender shuf yang dia peroleh dari Bang Zam. Pagi tadi Sukarman berangkat ke Sungai Pelong mellihat lokasi proyek. Keberangkatannya kelokasi, tujuannya untuk mempelajari situasi sekitar, aman atau tidaknya kami tinggal dikongsi (bedeng, untuk tinggal para pekerja selama proyek dalam pengerjaan), hal ini penting mengingat kami, 7 orang pekerja semuanya tidak memiliki dokumen resmi sebagai pekerja proyek. Sebenarnya situasi aman atau tidak hanya tergantung pada satu hal, yaitu ada jalan untuk melarikan diri apabila polisi datang mendatangi kami. Padahal kedatangan polisi tidak setiap hari. Terkadang sampai berminggu-minggu, bahkan sampai selesai pekerjaan  tak ada seorang aparatpun yang datang mengacau. Sememangnya selama aku bekerja disini, tak pernah mengalami gangguan. Kami katakan gangguan, karena kedatangan mereka, hanya meminta duit, dan kalau toh sampai dibawa kekantor polisi, masih bisa ditebus, tentu dengan jumlah ringgit yang lumayan besar. Penangkapan secara besar-besaran biasanya dilakukan dimega proyek, dengan jumlah pekerja mencapai ratusan orang.

"Hari Senin, kita berangkat, sementara 4 orang dulu yang kerja, baru bikin pondasi", kata Sukarman.
"Yang lainnya siapa .. ?", tanyaku, setahuku anggota GBC, kecuali aku, sudah bekerja,
"Bukan dari GBC, Herman dan Dayat, mereka berdua sering main kesini, tapi tinggal didalam, 1 km dari sini".
"Herman ?"
"Ya, Herman dan Dayat".
Sungguh .. aku terheran heran dengan pikiranku saat itu, kenapa nama Herman, asal Banyuwangi ini melekat dalam pikiranku. Kenapa harus Herman, kenapa bukan Dayat. Padahal keduanya sama-sama belum kukenal sama sekali. Hm .. masih ada waktu untuk mengetahui siapa itu Herman, tentu teman di GBC tak akan pelit membantuku mengenal sosok pria yang entah mengapa mengganggu benakku. Untuk sementara kusimpan dulu rasa penasaraku.

Sepeninggal Pak Cik Tua, aku tanyakan hasil survei dilkokasi pekerjaan pada pak Karman, dijawab singkat saja, aman katanya. Aku senang atas jawabannya, karena jawaban itu masuk dalam pelajaran pertama cara aman hidup ilegal dinegara orang, yaitu bagaimana kita dapat menyelematkan diri bila dikejar polis. Contohnya rumah kami ini, walaupun tak pernah kena  ras, tapi segalanya sudah dipersiapkan untuk kenyamanan kami, juga saat kami menyelamatkan diri dengan leluasa. Secara ringkas saya ceritakan untuk pembaca : Pintu depan rumah kami dibagian luarnya kami bikinkan kunci gembok besar, yang akan kami kunci bila malam hari kurang lebih pukul 20.00 waktu setempat, pemasangan gembok ini untuk mengelabui petugas, bahwa penghuni sedang tak ada dirumah. Setelah mengunci pintu, kami akan masuk rumah lewat pintu belakang melalui halaman samping. Halaman samping ini tak begitu luas (kurang lebih lebar 3 meter, dan memanjang kebelakang). Dihalaman ini, agak kebelakang setelah melawati tiang jemuran yang sengaja dibikin rendah, ada pagar melintang setinggi 2 meter, dan (juga) sengaja dibikin memanjang 2 meter masuk kekebun milik orang lain yang rimbun menyemak. Pintu pagar dibuat sempit, setiap orang yang mau lewat harus memiring badan dan setengah dipaksa masuk, daun pintunyapun harus dengan teknik khusus apabila ingin membukanya, sehingga orang yang terbiasa saja yang tidak mengalami kesulitan saat membukanya. Tujuannya kesemuanya itu pastilah pembaca sudah paham. Hal ini beda sekali dengan keadaan didalam rumah. Pintu kamar selalunya terbuka lebar, jalan menuju pintu belakang sangat leluasa, tak ada sembarang barang tergeletak disitu. Pintu belakang dibikinkan kunci dari kayu yang dipakukan dikusen, sehingga begitu mudahnya kami membuka dan mendorong pintu kearah luar bila terjadi keadaan darurat. Lalu .. dengan 3 langkah lebar sekeluar dari pintu, kami sudah berada dihutan belukar (betul2 hutan belukar, dengan pohon2 besar, dan belukar yang tingginya diatas kepala manusia dewasa). Perhitungan kami .. ketika kami sudah duduk santai ditempat persembunyian kami. Aparat yang hendak menggerebek kami, tentu masih bersusah payah masuk pintu pagar samping rumah.

Didalam pelajaran pertama cara aman hidup ilegal dinegara orang ini, tentu harus dipelajari situasi sekitar dan keadaan rumah dimana kami tinggal. Upaya pengamanan  jelas akan berbeda bila kami tinggal didaerah perumahan (semacam perumnas atau sejenisnya), bila kami tinggal didaerah perumahan maka paling tidk ada ada satu keluarga (biasanya suami istri, bisa pekerja resmi atau orang indonesia) yang sudah memiliki IC/KTP Malaysia, padahal bagi pekerja resmi atau pemilik KTP setempat sangat beresiko bila ketahuan. Untuk menjaga kerahasiaan, biasanya cuma pekerja ilegal yang ada hubungan keluarga dengan pemilik rumahlah yang bisa tinggal disitu.
Kehadiran para pekerja ilegal disalah satu rumah dikawasan perumahan itupun tidak diketahui para tetangga, mereka akan memasuki dan keluar dari komplek manakala pintu rumah para tetangga dalam keadaan tertutup (menjelang hingga selesai shalat Maghrib dan sebelum matahari baru muncul dari ufuk Timur). Begitu para pekerja ilegal ini masuk rumah, mereka akan lansung mengambil tangga yang bisa dilipat dan memasang kemudian mendorong tepi plafon yang berada diruang tidur pemilik rumah. Begitu semua sudah berada diatas tangga ditarik naik. Disitulah mereka tinggal menghabiskan malam. Untuk menghilangkan kebosanan selama tinggal diatas plofon (sebetulnya plafon itu semacam pelapis saja, karena diatas plafon itu menyerupai lantai kayu rumah panggung) kami masih bisa bermain kartu ditemani satu ceret kopi. He .. he .. kalau toh ada ras, para petugas akan kembali dengan tangan hampa, tanpa menyadari kalau diatas rumah yang mereka cek, sekumpulan pekerja ilegal yang mereka cari tengah senyum senyum meledek kawannya yang terkena hukuman karena kalah main kartu.
Saya yakin, pasti ada pertanyaan dipikiraan pembaca, bagaimana kalau kami pengin buang air kecil, atau buang air besar. Mudah sekali, karena ada juga plafon lain yang bisa dibuka tepat diatas kamar mandi merangkap toilet. Lho kenapa nggak sekalian saja naik dan turunnya melalui tangga yang diletakkan dikamar mandi. Inilah kami, para pekerja ilegal tak mau kena tangkap dikarenakan polisi curiga ada tangga dirumah kami. Tangga kami sembunyikan dibawah ranjang pemilik rumah bila kami berangkat kerja.

Usaha penyelamatan lainnya selagi kami berada dirumah, dengan membuat dinding tambahan selebar setengah meter dari dinding yang sudah ada. Diruangan sempit inilah kami bersembunyi sampai pengecekan selesai. Namun nasib sial pernah dialami salah satu teman GBC, sewaktu dia bekerja di Petaling Jaya. Ditengah hari saat istirahat mendadak ada pengecekan dokumen dari aparat, teman kami sempat sembunyi diruangan diantara dinding. Kurang lebih 1 jam dia bersembunyi, seseorang memanggil dari balik dinding. "Cak, wis aman metuo". Teman kami keluar. Begitu kepalanya tersembul dari balik pintu rahasia. Seseorang berseragam hitam hitam dengan wajah garang  menyambutnya. Teman kami lupa .. tidak sedikit warga asli Malaysia pintar berbahasa Jawa, termasuk polis yang menangkap teman kami itu.
...
Dikejauhan kulihat Pak Cik Samsyul datang dengan motor tuanya. Anak anaknya ... hapal sekali dengan suara motornya, walaupun masih jauh mereka sudah berhamburan keluar rumah menyambut kedatangannya. Tapi pria Padang ini acuh saja, tanpa masuk rumahmya dia menuju kerumah kami, Langkahnya lebar tergesa-gesa, ringan membawa badan kecilnya.
"Hitam ..! Awak boleh  tolong saya?", Tanyanya pada Sukarman. 
"Boleh, apa yang mesti saya bantu?", Sukarman menjawab rileks, memaklumi dirinya dipanggil Hitam, karena memang kulitnya berwarna sawo matang tua, padahal orang lain dengan tinggi badan yang sama dengannya biasa dipanggil Panjang (tinggi) dan tentu kedengaran sedikit lebih santun.
"Ada pekerjaan saya ripe-ripe, paling lama 2 hari, mudah pengerjaannya, siapa saja, tak masalah", Cik Syamsul menjelaskan, siapa saja bisa ikut, artinya walaupun tak punya ketrampilan kerja dibangunan dan yang lebih penting walaupun yang menemaninya kerja itu tanpa dokumen resmi.
"Mas Pri mau ..?" Sukarman melihat kearahku, tatapan matanya jelas mengisyaratkan kalau ikut kerja Pakcik Samsyul akan terjaga keamanannya.
"Sambil latihan kerja bangunan", dia melanjutkan sambil tersenyum simpul.
"Tentu saja aku mau dan sangat suka, cuma aku belum pernah lihat orang kerja ripe-ripe, gimana itu caranya?",
"Repair .. Mas Pri, perbaikan".
"Oalah .. itu tho, yap saya ikut"
Pakcik Samsyul tersenyum senang, dan tetap tersenyum ketika mengetahui aku belum pernah sama sekali kerja dikontreek.
"Tak apelah, tak kisah, bukan juga pekerjaanku ini parah sangat, dan lagi cuma membantu kerjaku saja, .. Hm .. di Indonesia apa kerja awak", tanyanya padaku.
Aku agak segan juga menyebut profesiku sebelumnya, bukannya apa, dalam pikiranku, kalau Pakcik tahu pekerjaanku di Jawa, nantinya  hubungan kerja bos dan anak buah jadi canggung. Lebih parah lagi dia mengurungkan niatnya mengajak aku.
"Mas Pri sama seperti aku, dulunya seorang guru", Pak Karman menjelaskan.
"Cikgu pula", setengah berteriak, sembari mulutnya menganga dan dahi berkerut, keheranan.
...
Pagi hari berikutnya aku dah siap diteras rumah menunggu panggilan Pakcik Samsyul, ditemanani Sukarman. Sahabat baikku ini masih saja memberi semacam nasihat dan jalan keluar apabila aku berjumpa dengan polis, padahal petuahnya sudah berpuluh kali kudengar, bahkan teman di GBCpun mengatakannya padaku cara menghindari bila ketemu polis.
"Joom Cikgu", Pakcik Syamsul berteriak kearahku sambil menaiki motor tuanya. Hah .. aku dipanggil Cikgu? kenapa bukan Panjang (kebetulan aku tinggi), atau Putih, karena kulitku agak sedikit putih. Aku lihat kearah Sukarman yang biasa dipanggil Hitam. Aku makin tidak enak karena saat itu si pemilik kulit hitam mulutnya lagi melongo, mendapat kejutan pagi hari. Bagaimana tidak, sama-sama mantan guru, panggilannya dibedakan. Diskriminatif.
Aku berlari menghampiri motor tua yang sudah hilang bentuk aslinya, bahkan sebagian bautnya sudah diganti dengan ikatan kawat. Warna cetnyapun yang kuperkirakan biru tua, sudah mendekati putih. Yang bagusnya semua perlengkapannya masih lengkap kaca spion 2, lampu depan, belakang menyala, lampu signpuspun menyala sempurna, Surat ? ada. Ketaatan dan kedisipilan warga setempat yang patut dicontoh.
Aku duduk dijok yang tipis dan penutupnya yang sudah robek2 menunggu sang pemilik mengganti dengan jok yang baru, atau sekaligus ganti motor baru.
"Cikgu masih ada visa?", tanyanya tentang dokumenku.
"Masih 20 hari lagi".
"Kalau begitu, kita lewat jalan besar, lebih dekat".
Aku diam saja, namun sempat berfikir bahwa Pakcik yang membawaku kerja ini tentu lebih paham seluk beluk cara terbaik dan tak beresiko membawa orang asing, apalagi peraturan kerajaan Malaysia yang begitu ketat perihal melindungi pendatang haram, bisa kena denda Rm.10.000,00, bukan jumlah yang sedikit untuk pekerja serabutan macam Pakcik ini, apalagi dengan jumlah anggota keluarga yang lumayan banyak.
Kami melaju dikeramain pagi jalan besar Gombak. Tak begitu kencang, Pakcik memberi kesempatan kepada motor dan mobil dibelakangnnya untuk mendahuluinya dengan mengendarai motornya ketepi yang paling kiri.
"Meskipun motorku tua, tapi ini built up dari Jepang, ...", Pakcik menyebut merk motor yang memang terkenal juga di Indonesia, "Awak tengoklah Cikgu, kereta dan moto, semuanya keluaran tempatan". Memang semenjak masuk negeri ini merk mobil maupun motor yang saya lihat lalu lalang dijalan bisa dikata 99% keluaran pabrik Malaysia. Merk2 mobil yang mendominasi jalan2 di Indonesia disini bisa dihitung dengan jari. Nasionalis atau karena harganya yang sangat murah, cuma meraka yang tahu mengapa mereka membelinya.
Selama dalam perjalanan Pakcik Syamsul banyak bercerita, tak berujung pangkal, tapi ceritanya secuilpun tak masuk keotakku atau mungkin salahku juga karena aku lebih asyik menikmati perjalanan ini laksana seorang turis yang baru mengunjungi sebuah negeri impian.
"He .. he .. jadi turis sekaligus cari duit"
...
(Selanjutnya Basah Kuyup Peluhku)











































Friday, March 7, 2014

Gombak Base Camp 1

Bangunan rumah sewa dua pintu tempat kami tinggal berdiri diantara rapatnya rumah penduduk, hutan lebat dibelakang rumah dan semak belukar disamping kanan. Rumah kami dan disekitar kami tanpa pagar, menghadap kesatu arah, kehalaman luas yang ditumbuhi beberapa pohon rambutan besar berdaun rimbun, biasanya, pada malam hari halaman rumah menjadi tempat parkir mobil pemilik rumah. Tidak semua pemilik rumah kami kenal kenal akrab, paling kalau berpapasan saja kami saling menyapa, belum pernah berlama lama berbicara apalagi duduk semeja bercerita ngalor ngidul. Dari sekian puluh keluarga disatu komplek di Kp. Changkat, Gombak, Federal Territory of Kuala Lumpur ini hanya ada 4 keluarga yang kami kenal dekat, disamping mereka berasal dari Indonesia, mereka juga bersangkut paut dengan pekerjaan dan keberadaan kami sebagai pendatang haram, pekerja ilegal yang cuma berbekal dokumen berupa paspor dengan visa kunjungan, itupun sudah lama habis masa ijin tinggalnya.
Bang Zaim, selisih tiga rumah dari rumah kami, muda, gagah, enerjik, pekerja keras. Pemborong bangunan yang selalu kebanjiran order, darinyalah kami tidak pernah berhenti bekerja, tak jarang karena padatnya orderan, kami dipercaya untuk ngeshuf borongannya. Tidak hanya dengan beliau, kamipun sangat akrab dengan keluarganya. Bang Zam hidup satu rumah dengan ibunya, dua adiknya, istri dan satu putrinya, Fauziah yang comel. Ibunya selau meminta Bang Zam, kalau memberi gaji, kami diminta datang kerumahnya. Ibu berusia 60 tahun ini akan menemani kami (meskipun urusan penerimaan gaji telah selesai), dan melepas kerinduannya akan Pulau Jawa (yang hanya dia kenal lewat cerita orang tuanya), dengan mengajak kami berbicara menggunakan bahasa ibunya, Bahasa Jawa. Terkadang disela kami seronok bersembang, air matanya menetes, tersirat keinginannya, diusia tuanya ingin mengunjungi tanah leluhurnya.
Encik Mahmud, tinggal disebelah kanan rumah kami, hamparan semak belukar mengantarainya. Pria paruh baya berasal dari Padang, beristrikan wanita mungil asal Thayland ini bekerja serabutan, apa saja pekerjaan dia sanggupi, bukan sekali dua kali saja dia minta bantuan kami karena tak memiliki keahlian untuk mengerjakannya. Dan kami dengan senang hati akan menolongnya, ya .. benar benar menolong karena kami harus cuti beberapa hari dari pekerjaan kami untuk membantunya menyelesaikan pekerjaannya, dengan resiko kami akan dimarahi kepala kerja atau kerani kami. Kami merasa iba pada Encik Mahmud, dia sendirian terseok seok mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, Akak Rahima, istrinya, tidak memiliki sembarang dokumen, sehingga dia tak ada keberanian untuk bekerja keluar rumah. Sementara Along (panggilan untuk anak pertama - anak sulong), tidak pula memiliki akta kelahiran, dia tidak dapat meneruskan pendidikannya, selepas sekolah darjah (setingkat SD), dia mengisi kegiatan hariannya dengan menjadi pengajar tulisan jawi (Arab Melayu), disekolah sore dikampung ini, sisa waktunya dipergunakan untuk menjaga 6 adiknya.
Nama lengkapnya Sutan Nuridi, tinggal satu gedung dengan kami beda pintu, Suami istri asal padang ini berniaga kue. Mobil van yang dia modifikasi sedemikian rupa sehingga seperti toko kue berjalan, sebelum matahari terbit Pak Padang (begitu biasa kami memanggilnya, dan dia nampak suka dengan panggilan itu) bersama mobilnya sudah meninggalkan komplek rumah tinggal Kp. Changkat. Agak pendiam, dan jarang tersenyum. Kami sangat berhutang budi pada beliau, dialah benteng keselamatan kami, bila kami terkena masalah baik diluar kampung, maupun didalam kampung dia akan ringan tangan membantu kami, meskipun cara yang dipakai untuk menolong kami tergolong 'aneh'. Pernah kami didatangi 2 polis sekitar jam sembilan malam, karena ada warga yang komplain kami bermain gitar terlalu malam, mereka merasa terganggu. Kebetulan Pak Padang masih duduk diteras rumahnya. Dengan sigap dia bergegas kearah kami yang mulai ketakutan. Sebelum polis sempat bertanya. Pak Padang marah dan membanting gitar kami hingga berhamburan.
"Sekali lagi awak buat bising, bukan setakat gitar yang pecah, awak semua kubagi tumbuk satu persatu", sambil matanya melotot, dan mengarahkan kepalannya kepada kami.
Kedua polis tak jadi menanyai  kami, malah sibuk menenangkan Pak Padang yang panas baran, nampak garang sekali.
"Aku 'dah cakap ngan dia orang, tapi mereka tak pernah dengar pun", Pak Padang mengomel dengan logat Melayu kental.
Mungkin karena kesal Pak Padang tak berhenti mengomel, ke2 polis akhirnya balik kanan, pergi. Tapi masih juga mengancam kami :"Camkan itu cakap Pak Cik, .. jangan lagi nak buat bising ditengah malam".
Sepeninggal kedua petugas berseragam hitam-hitam, Pak Padang tersenyum tipis :"Kalian belillah gitar yang baru, Gitar yang kupecah tadipun sudah buruk sekali".
"Iya pak, terima kasih atas pertolongannya", jawab kami serempak, kami lega, apa jadinya kalau Pak Padang tadi tidak segera datang, kemungkinan besar kami akan dibawa kekantor polis, urusannyapun bisa jadi kemasalah dokumen. Jadi .. patut jugalah kami berterima kasih, walau gitar kami harus jadi korban.
Tetangga kami yang kami kenal akrab berikutnya, seorang pria tua, kurus, rambut putih rata, selalu  memakai kaos singlet dan bercelana olah raga yang panjang. Rumahnya dibagian depan lorong dekat jalan besar, agak jauh, tapi rajin berkunjung. Setiap jam 5 petang hampir setiap hari dia berada diteras rumah kami, karena sudah seringnya berkunjung, terkadang dia duduk sendirian tanpa harus ditemani. Pak Cik Tua ternampak nyaman menikmati sore dengan kepulan asap rokok dan tegukan kopi panas yang kami suguhkan. Kami tak merasa terganggu dengan kedatangannya, kamipun tak peduli apa yang  dia pikirkan kalau kami tak duduk menemani. Kalau toh kami temani selalu saja berkeluh kesah tentang istrinya yang banyak cakap, selalu merepek atau ketiga anak dan cucu-cucunya yang tak kunjung datang menjenguk, bila azan menjelang sholat maghrib berkumandang pegawai kerajaan yang telah bersara ini berpamitan, pulang. Langkahnya pendek dan tertatih-tatih membawa tubuhnya yang mulai membungkuk.
...
Rumah sewa 2 pintu ini populer dengan nama Gombak Base Camp (GBC, Ji Bi Si, abjad diucapkan dalam Bahasa Inggris), penghuni tetapnya cuma 3 orang kakak beradik, yang lainnya tersebar keseluruh penjuru Malaysia. Sebagian besar penghuni berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, yang lainnya dari daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Aku, Sukarman, Gito, Pak Yo (yang sering pulang), sisanya 7 orang jarang pulang berasal dari satu daerah, Kab. Pati. Kalau dijumlah keseluruhan ada 27 orang yang terdaftar tinggal di BGC, namun belum pernah selama 3,5 tahun aku disini seisi rumah berkumpul, walaupun hari lebaran iedul Fitri. Aku pernah pulang waktu lebaran, yang pulang cuma 9 orang, dan  .. ini lucunya, sabagian dari kami ada yang baru sekali ketemu, jadi sesama penghuni GBC, baru pertama kali berjabat tangan untuk berkenalan setelah sekian bulan menempati rumah sewa 2 pintu ini. Disini untungnya .. rumah yang tidak begitu besar, tapi mampu ditinggali keluarga sangat besar. Entah apa jadinya kalau kami semua bekerja di Kuala Lumpur, pasti rumah yang memiliki 2 kamar tidur, 1 ruang tamu dan 1 dapur yang disekat dinding untuk kamar mandi akan kewalahan memuat kami. 
Aku sendiri baru dua 2 minggu menjadi penghuni Gombak Base Camp. Disini aku banyak belajar dari banyak teman yang datang silih berganti. Dari mereka aku dapatkan berbagai cara bagaimana hidup nyaman dinegara orang dengan status ilegal alien. Aku menerima sepenuh hati saran, motivasi maupun nasehat mereka. Alasannya mudah saja .. masuk diakalku, dan itu dibuktikan dengan keberadaan mereka di Malaysia yang sudah lebih dari 10 tahun, dan (tentu saja) kehidupan keluarga mereka dikampung halaman yang terangkat secara ekonomi. Hm .. sebenarnya mengherankan, kenapa bisa, teman2 mampu bertahan di Malaysia dengan status pendatang haram hingga puluhan tahun, sementara kalau mendengarkan atau membaca berita derita hidup mereka dikoran, televisi Indonesia sangat memilukan, yang disiksa majikan, tidur dihutan, dikejar-kejar polisi, dipulangkan secara paksa, atau dideportasi pemerintah Malaysia. Pembelajaran yang kuterima dari mereka memacu semangatku, aku terobsesi ingin menundukkan kejamnya hidup di Negara Semenjung. 
...
Bas Stand Green Wood.
Malam mulai turun, udara cerah, agak panas, terasa gerah dibadan. Hanya ada satu Intra Kota yang akan menuju ke Central Market parkir agak jauh dari tempat kami duduk. Aku dan Nardi berada dikedai makan Nasi Goreng Padang. Sehabis sholat maghrib tadi Nardi mengajakku keluar makan malam. Aku mengiyakan setelah mendapat ijin dari Bu Tin dan Sukarman. Aku memang harus ijin dulu dari Sukarman, aku belum kenal dekat dengan Pria asal Ds. Prawoto, kec. Sukolilo, Kab. Pati. Meskipun satu daerah kita harus pahami dulu siapa dia, bukannya sedikit, orang satu daerah tega memakan kita, pesan Sukarman.
"Silahkan disantap, bila rasa tak sedap awak boleh komplein", Pak Cik Kedai mempersilahkan kami memakan nasi gorengnya.
"Yook .. dimakan !", Nardi memulai menyuap, "Disini (maksudnya Negara Malaysia), kalau kita merasa tak sesuai dengan keinginan, kita bisa komplein (Complain). Kalau nasi gorengnya kurang kering, kita bisa minta digoreng lagi, atau es teh kita kurang gula, kita bisa minta tambahan gula".
Aku mendengarkan, sementara tanganku tak berhenti menyuap dan mengaduk-aduk nasi goreng.
"Anak-anak GBC, pernah didatangi petugas Bandar Raya. Menurut kami, masalahnya sepele, tapi tidak bagi warga setempat. Kami jarang meminta kembalian bila belanja dikedai runcit didepan lorong itu, kami menganggap kembalian 20 atau 10 sen, hal yang biasa saja, kami tidak mempersoalkannya. Berawal dari situ, Pemilik kedai runcit mendahulukan melayani kami, bila kami kebetulan bersamaan belanja dengan warga melayu, tentu saja warga melayu tersinggung, lalu melapor, laporannya langsung ditanggapi dengan mengirim petugas Bandar Raya untuk menegur kami".
Aku diam, tapi otakku bekerja, ini sesuatu yang  berharga untukku, komplein warga akan ditanggapi positif tanpa harus ditampung dulu.
Masih di area bas stand, aku dan Nardi pindah tempat duduk ditempat yang aman untuk merokok.
"Kapan mulai kerja?", tanya Nardi.
"Kata Sukarman, lusa".
"Dimana?"
"Sungai Pelong, dekat Sungai Buloh".
"Aku pulang ini, sebenarnya cari tenaga kerja 3 orang, tadi kutanya Mas Roni, katanya ada teman kita yang sudah selesai kerjanya di Pahang, besok pulang tapi cuma 2 orang. Gimana kalau Pak Pri ikut saya, enggak jauh kok, bisa pulang kalau sore, atau kalau mau tinggal dikongsi juga bisa?, aman, sudah ada jaminan dari kerani, tidak ada ras (pengecekan dokumen secara mendadak oleh petugas gabungan, polis, emigrasi, bandar raya dibantu rela, semacam hansip)".
Aku menghisap dalam asap rokok kretek merk terkenal, asli dari Indonesia yang diselundupkan. Aku gembira mendapat tawaran pekerjaan ini, artinya aku segera bisa mendapat penghasilan. Hanya .. aku tidak enak juga dengaan Sukarman.
"Ok .. saya tahu, Pak Pri menolak tawaran saya, .. bila nanti ada kesulitan pekerjaan, ngomong saya, saya akan berusaha membantu"
"Trima kasih", aku seperti terbebas dari himpitan antara Nardi dan Sukarman.
Pembicaraan berlanjut.
...
Rokok yang tinggal beberapa batang.
Soft drink yang hampir habis
Malam yang makin dingin.
Nardi yang mulai menguap, menahan kantuk.
Padahal .. aku masih menunggu apalagi yang akan Nardi ceritakan padaku.
Tak bisa kupaksa Nardi untuk terus bercerita, tidak bisa juga kutolak, ketika sosok pria tinggi kecil ini mengajak pulang.
Kami meninggalkan bas stand, melewati perumahan Taman Gombak, belok kiri melewati 3 rumah penduduk kampung, dan menerobos hutan menyusuri jalan setapak, sebelum kami sampai dipintu belakang rumah.

...

Berikutnya : Gombak Base Camp (2)















Monday, February 10, 2014

Executive Coach (Bagian 2)

Pemulangan TKI Ilegal
Rabu, 06 Mei 1998


Seperti biasa, hari ini aku bangun subuh, yang tidak biasa .. selesai sholat aku akan membaca majalah, tapi pagi ini aku sudah sibuk membantu mengerjakan acara jamuan makan untuk tamu Bp. Konsul yang berlangsung sekitar jam 11.00 waktu Malaysia. Karena acaranya jamuan makan ya kerjaannya tentu saja berurusan dengan dapur, meskipun ada 3 wanita yang memang sudah ahli memasak, toh tenagaku masih juga bermanfaat, namanya juga membantu (apa lagi laki laki) tentu saja aku bagian yang disuruh suruh, disuruh ambil ini, bawa itu, iriskan ini, potongkan itu. Sementaraa Sugiyanto dan Pak Cik Pemotong rumput menyiapkan dan menata meja kursi. Sesekali Pak Konsul datang kedapur untuk melihat kesiapan pekerjaan kami.
Akhirnya, sebelum tamu berdatangan kami sudah menyelesaikan beban tanggung jawab kami. Semua sudah tertata rapi, meja makan yang penuh makanan (semuanya bercita rasa Indonesia), pecel, tahu dan tempe goreng, cha kangkung, kerupuk, ada juga ikan gurame sebesar bayi, entah dimasak apa yang kutahu masakan gurami itu berwarna kuning dengan bumbu yang diiris. Sudah disiapkan juga disetiap kursi dimeja makan ada piring tertelungkup, disebelah kanannya, sendok dan garpu beralas lap tangan berdapingan mangkok tempta cuci tangan, dikirinya gelas tinggi berisi air putih. Ditengah meja diletakkan juga 3 tempat lilin. Lilin dinyalakan bila tamu sudah datang.
...
Selesai acara makan siang, beramah tamah sebentar lalu bubar.
Saat dihalaman rumah, melalui Sugiyanto aku dipanggil menghadap Bp. Konsul yang sedang bercakap dengan Irjen Depnaker.
Aku mendekati mereka.
Bapak Bahrun (orang yang sangat kukagumi) berbicara :"Ini 'temannya teman' saya, dulu guru dan ingin bekerja disini, dokumen yang dia miliki cuma pasport dengan visa kunjungan .. "
Orang yang diajak berbicara langsung memotong kalimat Pak Bahrun dan berbicara padaku :"Anda ini seorang guru, apa kurang enak pekerjaan anda itu. TKI itu menurut anda itu enak ya, apalagi kalau cuma berbekal visa kunjungan. Tahu tidak, berapa banyak uang dikeluarkan pemerintah untuk ngurusi TKI ilegal yang dideportasi"; Tentu saja aku kaget mendapat semprotan beliau, ini diluar dugaanku, menjumpai beliau dan langsung mendapat amarah.
Bapak Konsul segera menengahi.
"Begini saja pak, ada PT. Mulia di Jakarta yang mengurusi pemberangkatan tenaga kerja keluar negeri, mungkin dengan rekomendasi dari Bapak, PT. Mulia bisa menerbitkan permit kerja untuk Pak Pri secepatnya, dan sementara ini biarlah Pak Pri tinggal disini sampai permitnya jadi".
"Begitupun bisa, paspor anda foto copy 2 lembar, nanti saya bawa ke Indonesia", begitu katanya padaku.
"Suruh Sugiyanto memfoto copy di kantor Pak Pri".
Aku mengangguk dan meninggalkan mereka, tapi masih kudengar tamu Bp. Konsul ini bertanya.
"Dari mana orang itu .. ?"
Sakit sekali hatiku mendengar pertanyaan itu, benar benar (menurutku) dipelupuk matanya aku ini makhluk selain manusia yang tidak punya perasaan. Sudah jelas aku pemakai pasport Indonesia, eh .. masih ditanya lagi dari mana, memangnya mukaku kaya alien dari planet diruang angkasa sana. Kalau saja bukan karena menghormati Bp. Konsul, tentu aku tidak akan muncul lagi membawa foto copyan yang dimintanya. Apa lagi aku merasa yakin .. seyakin yakinnya berkasku yang dimintanya sudah dilupakannya ketika beliau meninggalkan rumah konsul.
...
Rumah konsul sepi, padahal 5 menit yang lalu hiruk pikuk puluhan tetamu memenuhi ruangan rumah. Halaman rumah yang tapi penuh mobil juga lengang, tinggal sepeda motor matic milik Sugiyanto sendirian parkir disebelah pos scurity yang kosong (Security, berdarah Jawa asal Pacitan sedang didalam ruangan dapur, mungkin makan siang).
"Pak Pri ... Yok ke pelabuhan, lihat upacara pemulangan TKI", Sugiyanto mengajakku, aku mengangguk tanda setuju. Kemauanku mengikuti ajakannya bukan karena ingin melihat upacara, tapi aku ingin memposkan surat yang sudah 2 hari lalu kutulis untuk istri dan 3 anakku.
Sugiyanto mendorong motornya keluar pintu gerbang yang sudah dibuka dengan menggunakan remot yang ada diruangan pos jaga. Dalam pikiranku pintu gerbang ini akan tertutup sendiri setelah sekian menit. Nyatanya tidak begitu.
"Pak Pri tunggu dulu sebentar, saya tutup pintu dulu",
Sugiyanto kembali masuk.
Lho ... kalau ditutup lagi terus gimana keluarnya dia.
Diruangan pos jaga kulihat Sugiyanto menekan remot diarahkan kepintu pagar.
Pintu pagar bergerak menutup. Saat itulah Sugiyanto berlari kencang sejauh 10 meter. Dia harus sudah berada diluar pagar sebelum pintu tertutup habis. Ha .. ha .. aku tertawa mentertawai ketololanku, bagaimanapun canggihnya teknologi, akal manual manusia tetap harus digunakan, karena mesin (computer sekalipun) tetap tidak bisa mengerti keinginan manusia.
...
Dipelabuhan, terlihat upacara serah terima 1.100 TKI ilegal yang dipulangkan dengan menggunakan kapal milik TNI AL. Berita acara penyerahan terakhir diterima Kapten kapal menandakan berakhirnya acara seremorial. Kapten kapal menyalami wakil pejabat berwenang dari Negara Malaysia, Pak Bahrun, Lalu Bapak Irjen Depnaker. Kemudian dengan langkah tegap dengan diiringi 2 orang prajurit AL, beliau memasuki kapal. Tak berapa lama sauh terangkat naik, kapal bergerak meninggalkan pelabuhan diiringi lambaian tangan peserta upacara dan dibalas beberapa prajurit TNI AL yang berada dihaluan dan buritan kapal.
Aku dan Sugiyanto pergi meninggalkan pelabuhan.
"Ke Air Port dulu Pak Pri, ada teman pulang ke Indonesia".
Dari pelabuhan menuju Bandara, mataku tak berkedip mengagumi Kota Johor Bahru. Sugiyanto pun menjadi pemandu wisata yang baik. Sambil memegang stang motor maticnya mulutnya tak berhenti untuk menjelaskan sesuatu yang menurut dia perlu saya ketahui, akhirnya dia berkata :"Nah, kita 'dah memasuki komplek bandara".
Waktu perjumpaan yang sangat singkat karena 5 menit berikutnya teman Sugiyanto harus Check in dan mengambil Boarding Pass. Kamipun meluncur ke Wisma Konsul Indonsia, sebelumnya kami singgah di Post Office, untuk membeli stamp dan memasukkan surat di mail box.
"Pak Pri, malam nanti keluar, jalan jalan".
Aku tersenyum gembira mengiyakan ajakkannya.
...
Malam terang benderang oleh cahaya lampu jalan. Kami, aku dan Sugiyanto duduk menghadap Selat Johor yang memisahkan Pulau Singapura dirumah makan tanpa atap, ditrotor selebar 4 m (bisa jadi ini bukan trotoar, tapi halaman dari bangunan ruko dibelakangnya, karena siang tadi waktu aku lewat, meja dan kursi belum ada, masih hamparan luas tempat lalu lalang pejalan kaki).
Dari kursi tempat saya duduk Singapura nampak gemerlap bermandikan cahaya. Sambil menikmati Tom Yam (padahal rumah makannya bertuliskan Kedai Makan Thailand, sea food) masakan khas Negeri Gajah Putih, berupa sayur mayur berkuah dicampur potongan kecil ayam. Enak sekali rasanya, dan belakangan masakan ini jadi gemaranku  ketika harus makan diluar rumah selama di Malaysia. Aku dan Sugiyanto asyik bercerita, mataku tak lepas dari pulau diseberang selat yang dibentangi jembatan lebar. Angin dingin laut bertiup lembut, sementara gemercik air dipantai diseberang jalan terdengar pelan ditelingaku. Kebetulan pelayan rumah makan TKI dari Jawa, jadi terkadang dia ikut nimbrung dengan celutukannya yang lucu. Tak kurasakan aku ada dinegara orang, ya .. karena kami menggunakan Bahasa Jawa dengan keakraban khas perantau Jawa.
Belum puas rasanya aku memandangi Negara Singapura dari Negara Malaysia, Sugiyanto mengajakku berkeling kota Johor Bahru, melihat 2 istana kesultanan Johor dan Masjid Raya Johor Bahru, ketiga bangunan yang sangat megah, aku berdecak kagum dibuatnya.
...
Jum'at, 08 Mei 1998.
Aku menunggu bis yang akan membawaku ke Kuala Lumpur ditemani Sugiyanto. Dari tiket  yang kupegang, jadwal keberangkatan kurang 10 menit lagi. sempat kutanyakan kenapa harga yang tercantum ditiket begitu mahal Rp. 45.00, padahal waktu aku berangkat diantar Bu Tin tiket cuma Rp.12.00, mendapat pertanyaan demikian Sugiyanto cuma tersenyum. Senyuman dari seorang pemuda yang begitu baik hati meskipun kebersamaan kami cuma terhitung 4 hari, itupun tidak selalu bersama, kebanyakan diwaktu kami bersama mulai jam 3 sore sampai jam 9 malam.
Tanpa kusadari aku merenung (Sugiyanto saat itu lagi menelpon lewat telpon seluler-talipun bimbit). ....
Selesai mandi dan ganti baju yang terbaik, aku menghadap Bp. Konsul untuk berpamitan akn berangkat ke Kuala Lumpur. Beliau tidak terkejut, mungkin Sugiyanto sudah bercerita kalau aku mau ke KL dulu, masalah permit kerja juga sudah kuutarakan, kalau memang permitku jadi, tolong disimpan dulu, akan saya ambil. saya berjanji satu bulan lagi akan menelpon untuk menanyakan permit itu.
Pak Bahrun menyalamiku
"Pandai pandailah membawa diri dinegara orang, ingat peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kalau ada permasalah jangan ragu untuk memberi tahu Bapak, ini untuk pegangan Pak Pri, jangan dilihat nilai uangnya, tapi gunakan saat memang perlu untuk digunakan".
Aku menerima uang yang diberikannya, tipis sih .. tapi kalau ditukar kemata uang rupiah mungkin jadi tebal.
"Tidak usah beli tiket, nanti Sugiyanto yang membelikan".
"Terima kasih Pak, saya mohon pamit".
Pak Bahrun menepuk nepuk bahuku.
Tulus.
Jujur, aku sangat terharu.
...
"Hei .. ngelamun .. itu bisnya Pak Pri datang", Sugiyanto menyadarkan aku dari melamun.
"Pak Pri, ini kartu nama saya, telepon saya kalau ada sesuatu hal, jangan lupa kalau ke JB (Johor Bahru) singgah dan ini sedikit dari saya, jangan ditolak, tidak banyak memang siapa tahu bermanfaat".
Kuterima kartu nama dan sejumlah uang ringgit.
Kusalami dan kupeluk keponakannya Pak Bahrun ini.
"Selamat Tinggal, semoga kita bisa jumpa lagi".
Kujinjing tasku, aku berjalan dan menaiki bis. Aku duduk dibelakang pengemudi bis, hanya satu kursi duduk, disebelah kirikupun cuma satu bangku yang sudah diduduki wanita China tua. Oh .. inikah yang membuat harga tiket begitu mahal. Tak cuma itu, disebelah kananku tergantung head phone besar yang sudah terkonek disandaran tangan yang terdapat tombol digital untuk memilih tape atau radio dan tuis pencari signal radio. Masih ada lagi, setelah bis memasuki jalan bebas hambatan, seorang wanita muda cantik berseragam batik biru mudan dikombinasikan dengan celana biru tua (sama dengan seragam yang dipakai pengemudi, sesuai juga dengan warna bis yang dominan biru), dengan tersenyum dia menawarkan aku untuk memilih minum teh atau kopi, aku memilih teh. Tak berapa lama dia membawa nampan berisi teh, susu kotak kecil, satu gelas kecil berisi gula dan sepotong roti kering lalu meletakknya dimeja yang bisa dilipat disandaran kursi tangan.
"Silahkan dinikmati". katanya.
Aku menikmatinya memang, teh kucampur gula dan sedikit susu, roti tak kusentuh, aku tak begitu suka makan roti, jenis/rasa apapun.
Setengah jam kemudian, perempuan tadi memberesi meja dan melipatnya semula dan berkata :"Selamat beristirahat sambil mendengarkan musik dari kami, atau encik bisa memutar radio".
Begitu hebatnya service dari armada bis ini. Diantara kantuk yang mulai menyerang, kulihat pramugari (?) itu menyetel sandaran kursi dan sandaran kaki yang diduduki  perempuan tua disebelah kiriku yang  tertidur nyenyak.
...
Sampai di Kuala Lumpur, bis tak memasuki terminal Pudu Raya, karena mengikut arahan, didalam terminal bis penuh. Sekali lagi perempuan berseragam biru itu menunjukkan keramahannya. Dia ambilkan Tasku dibagasi atas seperti juga waktu naik, dia yang meletakkannya (bukannya aku tidak tahu tapi memang tasku dimintanya ketika aku memasuki bis)
"Selamat tiba KL, sampai jumpa lagi dan terima kasih".
Patutlah harga tiketnya mahal, sesuai dengan apa yang penumpang peroleh selama perjalanan, kenyamanan serta service yang boleh dikata berlebihan. Pokoknya memanusiakan manusialah.
Aku turun dari bis, sebelum pergi aku ingin membaca armada apa yang membawaku, siapa tahu aku masih berkesempatan menaikinya lagi.
Karena takut lupa sambil berjalan aku tulis nama bis itu dibuku agendaku EXECUTIVE COACH (diterjemahkan kebahasa setempat Bas Pesiaran Mewah).
...
(Berikutnya : Gedung Informasi)