Memaknai hidup dengan memberi arti untuk hal-hal yang kecil ..... Menjalani hidup dengan apa adanya ..... Mensyukuri dan menikamati kekurangan yang ada

Friday, March 7, 2014

Gombak Base Camp 1

Bangunan rumah sewa dua pintu tempat kami tinggal berdiri diantara rapatnya rumah penduduk, hutan lebat dibelakang rumah dan semak belukar disamping kanan. Rumah kami dan disekitar kami tanpa pagar, menghadap kesatu arah, kehalaman luas yang ditumbuhi beberapa pohon rambutan besar berdaun rimbun, biasanya, pada malam hari halaman rumah menjadi tempat parkir mobil pemilik rumah. Tidak semua pemilik rumah kami kenal kenal akrab, paling kalau berpapasan saja kami saling menyapa, belum pernah berlama lama berbicara apalagi duduk semeja bercerita ngalor ngidul. Dari sekian puluh keluarga disatu komplek di Kp. Changkat, Gombak, Federal Territory of Kuala Lumpur ini hanya ada 4 keluarga yang kami kenal dekat, disamping mereka berasal dari Indonesia, mereka juga bersangkut paut dengan pekerjaan dan keberadaan kami sebagai pendatang haram, pekerja ilegal yang cuma berbekal dokumen berupa paspor dengan visa kunjungan, itupun sudah lama habis masa ijin tinggalnya.
Bang Zaim, selisih tiga rumah dari rumah kami, muda, gagah, enerjik, pekerja keras. Pemborong bangunan yang selalu kebanjiran order, darinyalah kami tidak pernah berhenti bekerja, tak jarang karena padatnya orderan, kami dipercaya untuk ngeshuf borongannya. Tidak hanya dengan beliau, kamipun sangat akrab dengan keluarganya. Bang Zam hidup satu rumah dengan ibunya, dua adiknya, istri dan satu putrinya, Fauziah yang comel. Ibunya selau meminta Bang Zam, kalau memberi gaji, kami diminta datang kerumahnya. Ibu berusia 60 tahun ini akan menemani kami (meskipun urusan penerimaan gaji telah selesai), dan melepas kerinduannya akan Pulau Jawa (yang hanya dia kenal lewat cerita orang tuanya), dengan mengajak kami berbicara menggunakan bahasa ibunya, Bahasa Jawa. Terkadang disela kami seronok bersembang, air matanya menetes, tersirat keinginannya, diusia tuanya ingin mengunjungi tanah leluhurnya.
Encik Mahmud, tinggal disebelah kanan rumah kami, hamparan semak belukar mengantarainya. Pria paruh baya berasal dari Padang, beristrikan wanita mungil asal Thayland ini bekerja serabutan, apa saja pekerjaan dia sanggupi, bukan sekali dua kali saja dia minta bantuan kami karena tak memiliki keahlian untuk mengerjakannya. Dan kami dengan senang hati akan menolongnya, ya .. benar benar menolong karena kami harus cuti beberapa hari dari pekerjaan kami untuk membantunya menyelesaikan pekerjaannya, dengan resiko kami akan dimarahi kepala kerja atau kerani kami. Kami merasa iba pada Encik Mahmud, dia sendirian terseok seok mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, Akak Rahima, istrinya, tidak memiliki sembarang dokumen, sehingga dia tak ada keberanian untuk bekerja keluar rumah. Sementara Along (panggilan untuk anak pertama - anak sulong), tidak pula memiliki akta kelahiran, dia tidak dapat meneruskan pendidikannya, selepas sekolah darjah (setingkat SD), dia mengisi kegiatan hariannya dengan menjadi pengajar tulisan jawi (Arab Melayu), disekolah sore dikampung ini, sisa waktunya dipergunakan untuk menjaga 6 adiknya.
Nama lengkapnya Sutan Nuridi, tinggal satu gedung dengan kami beda pintu, Suami istri asal padang ini berniaga kue. Mobil van yang dia modifikasi sedemikian rupa sehingga seperti toko kue berjalan, sebelum matahari terbit Pak Padang (begitu biasa kami memanggilnya, dan dia nampak suka dengan panggilan itu) bersama mobilnya sudah meninggalkan komplek rumah tinggal Kp. Changkat. Agak pendiam, dan jarang tersenyum. Kami sangat berhutang budi pada beliau, dialah benteng keselamatan kami, bila kami terkena masalah baik diluar kampung, maupun didalam kampung dia akan ringan tangan membantu kami, meskipun cara yang dipakai untuk menolong kami tergolong 'aneh'. Pernah kami didatangi 2 polis sekitar jam sembilan malam, karena ada warga yang komplain kami bermain gitar terlalu malam, mereka merasa terganggu. Kebetulan Pak Padang masih duduk diteras rumahnya. Dengan sigap dia bergegas kearah kami yang mulai ketakutan. Sebelum polis sempat bertanya. Pak Padang marah dan membanting gitar kami hingga berhamburan.
"Sekali lagi awak buat bising, bukan setakat gitar yang pecah, awak semua kubagi tumbuk satu persatu", sambil matanya melotot, dan mengarahkan kepalannya kepada kami.
Kedua polis tak jadi menanyai  kami, malah sibuk menenangkan Pak Padang yang panas baran, nampak garang sekali.
"Aku 'dah cakap ngan dia orang, tapi mereka tak pernah dengar pun", Pak Padang mengomel dengan logat Melayu kental.
Mungkin karena kesal Pak Padang tak berhenti mengomel, ke2 polis akhirnya balik kanan, pergi. Tapi masih juga mengancam kami :"Camkan itu cakap Pak Cik, .. jangan lagi nak buat bising ditengah malam".
Sepeninggal kedua petugas berseragam hitam-hitam, Pak Padang tersenyum tipis :"Kalian belillah gitar yang baru, Gitar yang kupecah tadipun sudah buruk sekali".
"Iya pak, terima kasih atas pertolongannya", jawab kami serempak, kami lega, apa jadinya kalau Pak Padang tadi tidak segera datang, kemungkinan besar kami akan dibawa kekantor polis, urusannyapun bisa jadi kemasalah dokumen. Jadi .. patut jugalah kami berterima kasih, walau gitar kami harus jadi korban.
Tetangga kami yang kami kenal akrab berikutnya, seorang pria tua, kurus, rambut putih rata, selalu  memakai kaos singlet dan bercelana olah raga yang panjang. Rumahnya dibagian depan lorong dekat jalan besar, agak jauh, tapi rajin berkunjung. Setiap jam 5 petang hampir setiap hari dia berada diteras rumah kami, karena sudah seringnya berkunjung, terkadang dia duduk sendirian tanpa harus ditemani. Pak Cik Tua ternampak nyaman menikmati sore dengan kepulan asap rokok dan tegukan kopi panas yang kami suguhkan. Kami tak merasa terganggu dengan kedatangannya, kamipun tak peduli apa yang  dia pikirkan kalau kami tak duduk menemani. Kalau toh kami temani selalu saja berkeluh kesah tentang istrinya yang banyak cakap, selalu merepek atau ketiga anak dan cucu-cucunya yang tak kunjung datang menjenguk, bila azan menjelang sholat maghrib berkumandang pegawai kerajaan yang telah bersara ini berpamitan, pulang. Langkahnya pendek dan tertatih-tatih membawa tubuhnya yang mulai membungkuk.
...
Rumah sewa 2 pintu ini populer dengan nama Gombak Base Camp (GBC, Ji Bi Si, abjad diucapkan dalam Bahasa Inggris), penghuni tetapnya cuma 3 orang kakak beradik, yang lainnya tersebar keseluruh penjuru Malaysia. Sebagian besar penghuni berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, yang lainnya dari daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Aku, Sukarman, Gito, Pak Yo (yang sering pulang), sisanya 7 orang jarang pulang berasal dari satu daerah, Kab. Pati. Kalau dijumlah keseluruhan ada 27 orang yang terdaftar tinggal di BGC, namun belum pernah selama 3,5 tahun aku disini seisi rumah berkumpul, walaupun hari lebaran iedul Fitri. Aku pernah pulang waktu lebaran, yang pulang cuma 9 orang, dan  .. ini lucunya, sabagian dari kami ada yang baru sekali ketemu, jadi sesama penghuni GBC, baru pertama kali berjabat tangan untuk berkenalan setelah sekian bulan menempati rumah sewa 2 pintu ini. Disini untungnya .. rumah yang tidak begitu besar, tapi mampu ditinggali keluarga sangat besar. Entah apa jadinya kalau kami semua bekerja di Kuala Lumpur, pasti rumah yang memiliki 2 kamar tidur, 1 ruang tamu dan 1 dapur yang disekat dinding untuk kamar mandi akan kewalahan memuat kami. 
Aku sendiri baru dua 2 minggu menjadi penghuni Gombak Base Camp. Disini aku banyak belajar dari banyak teman yang datang silih berganti. Dari mereka aku dapatkan berbagai cara bagaimana hidup nyaman dinegara orang dengan status ilegal alien. Aku menerima sepenuh hati saran, motivasi maupun nasehat mereka. Alasannya mudah saja .. masuk diakalku, dan itu dibuktikan dengan keberadaan mereka di Malaysia yang sudah lebih dari 10 tahun, dan (tentu saja) kehidupan keluarga mereka dikampung halaman yang terangkat secara ekonomi. Hm .. sebenarnya mengherankan, kenapa bisa, teman2 mampu bertahan di Malaysia dengan status pendatang haram hingga puluhan tahun, sementara kalau mendengarkan atau membaca berita derita hidup mereka dikoran, televisi Indonesia sangat memilukan, yang disiksa majikan, tidur dihutan, dikejar-kejar polisi, dipulangkan secara paksa, atau dideportasi pemerintah Malaysia. Pembelajaran yang kuterima dari mereka memacu semangatku, aku terobsesi ingin menundukkan kejamnya hidup di Negara Semenjung. 
...
Bas Stand Green Wood.
Malam mulai turun, udara cerah, agak panas, terasa gerah dibadan. Hanya ada satu Intra Kota yang akan menuju ke Central Market parkir agak jauh dari tempat kami duduk. Aku dan Nardi berada dikedai makan Nasi Goreng Padang. Sehabis sholat maghrib tadi Nardi mengajakku keluar makan malam. Aku mengiyakan setelah mendapat ijin dari Bu Tin dan Sukarman. Aku memang harus ijin dulu dari Sukarman, aku belum kenal dekat dengan Pria asal Ds. Prawoto, kec. Sukolilo, Kab. Pati. Meskipun satu daerah kita harus pahami dulu siapa dia, bukannya sedikit, orang satu daerah tega memakan kita, pesan Sukarman.
"Silahkan disantap, bila rasa tak sedap awak boleh komplein", Pak Cik Kedai mempersilahkan kami memakan nasi gorengnya.
"Yook .. dimakan !", Nardi memulai menyuap, "Disini (maksudnya Negara Malaysia), kalau kita merasa tak sesuai dengan keinginan, kita bisa komplein (Complain). Kalau nasi gorengnya kurang kering, kita bisa minta digoreng lagi, atau es teh kita kurang gula, kita bisa minta tambahan gula".
Aku mendengarkan, sementara tanganku tak berhenti menyuap dan mengaduk-aduk nasi goreng.
"Anak-anak GBC, pernah didatangi petugas Bandar Raya. Menurut kami, masalahnya sepele, tapi tidak bagi warga setempat. Kami jarang meminta kembalian bila belanja dikedai runcit didepan lorong itu, kami menganggap kembalian 20 atau 10 sen, hal yang biasa saja, kami tidak mempersoalkannya. Berawal dari situ, Pemilik kedai runcit mendahulukan melayani kami, bila kami kebetulan bersamaan belanja dengan warga melayu, tentu saja warga melayu tersinggung, lalu melapor, laporannya langsung ditanggapi dengan mengirim petugas Bandar Raya untuk menegur kami".
Aku diam, tapi otakku bekerja, ini sesuatu yang  berharga untukku, komplein warga akan ditanggapi positif tanpa harus ditampung dulu.
Masih di area bas stand, aku dan Nardi pindah tempat duduk ditempat yang aman untuk merokok.
"Kapan mulai kerja?", tanya Nardi.
"Kata Sukarman, lusa".
"Dimana?"
"Sungai Pelong, dekat Sungai Buloh".
"Aku pulang ini, sebenarnya cari tenaga kerja 3 orang, tadi kutanya Mas Roni, katanya ada teman kita yang sudah selesai kerjanya di Pahang, besok pulang tapi cuma 2 orang. Gimana kalau Pak Pri ikut saya, enggak jauh kok, bisa pulang kalau sore, atau kalau mau tinggal dikongsi juga bisa?, aman, sudah ada jaminan dari kerani, tidak ada ras (pengecekan dokumen secara mendadak oleh petugas gabungan, polis, emigrasi, bandar raya dibantu rela, semacam hansip)".
Aku menghisap dalam asap rokok kretek merk terkenal, asli dari Indonesia yang diselundupkan. Aku gembira mendapat tawaran pekerjaan ini, artinya aku segera bisa mendapat penghasilan. Hanya .. aku tidak enak juga dengaan Sukarman.
"Ok .. saya tahu, Pak Pri menolak tawaran saya, .. bila nanti ada kesulitan pekerjaan, ngomong saya, saya akan berusaha membantu"
"Trima kasih", aku seperti terbebas dari himpitan antara Nardi dan Sukarman.
Pembicaraan berlanjut.
...
Rokok yang tinggal beberapa batang.
Soft drink yang hampir habis
Malam yang makin dingin.
Nardi yang mulai menguap, menahan kantuk.
Padahal .. aku masih menunggu apalagi yang akan Nardi ceritakan padaku.
Tak bisa kupaksa Nardi untuk terus bercerita, tidak bisa juga kutolak, ketika sosok pria tinggi kecil ini mengajak pulang.
Kami meninggalkan bas stand, melewati perumahan Taman Gombak, belok kiri melewati 3 rumah penduduk kampung, dan menerobos hutan menyusuri jalan setapak, sebelum kami sampai dipintu belakang rumah.

...

Berikutnya : Gombak Base Camp (2)















Monday, February 10, 2014

Executive Coach (Bagian 2)

Pemulangan TKI Ilegal
Rabu, 06 Mei 1998


Seperti biasa, hari ini aku bangun subuh, yang tidak biasa .. selesai sholat aku akan membaca majalah, tapi pagi ini aku sudah sibuk membantu mengerjakan acara jamuan makan untuk tamu Bp. Konsul yang berlangsung sekitar jam 11.00 waktu Malaysia. Karena acaranya jamuan makan ya kerjaannya tentu saja berurusan dengan dapur, meskipun ada 3 wanita yang memang sudah ahli memasak, toh tenagaku masih juga bermanfaat, namanya juga membantu (apa lagi laki laki) tentu saja aku bagian yang disuruh suruh, disuruh ambil ini, bawa itu, iriskan ini, potongkan itu. Sementaraa Sugiyanto dan Pak Cik Pemotong rumput menyiapkan dan menata meja kursi. Sesekali Pak Konsul datang kedapur untuk melihat kesiapan pekerjaan kami.
Akhirnya, sebelum tamu berdatangan kami sudah menyelesaikan beban tanggung jawab kami. Semua sudah tertata rapi, meja makan yang penuh makanan (semuanya bercita rasa Indonesia), pecel, tahu dan tempe goreng, cha kangkung, kerupuk, ada juga ikan gurame sebesar bayi, entah dimasak apa yang kutahu masakan gurami itu berwarna kuning dengan bumbu yang diiris. Sudah disiapkan juga disetiap kursi dimeja makan ada piring tertelungkup, disebelah kanannya, sendok dan garpu beralas lap tangan berdapingan mangkok tempta cuci tangan, dikirinya gelas tinggi berisi air putih. Ditengah meja diletakkan juga 3 tempat lilin. Lilin dinyalakan bila tamu sudah datang.
...
Selesai acara makan siang, beramah tamah sebentar lalu bubar.
Saat dihalaman rumah, melalui Sugiyanto aku dipanggil menghadap Bp. Konsul yang sedang bercakap dengan Irjen Depnaker.
Aku mendekati mereka.
Bapak Bahrun (orang yang sangat kukagumi) berbicara :"Ini 'temannya teman' saya, dulu guru dan ingin bekerja disini, dokumen yang dia miliki cuma pasport dengan visa kunjungan .. "
Orang yang diajak berbicara langsung memotong kalimat Pak Bahrun dan berbicara padaku :"Anda ini seorang guru, apa kurang enak pekerjaan anda itu. TKI itu menurut anda itu enak ya, apalagi kalau cuma berbekal visa kunjungan. Tahu tidak, berapa banyak uang dikeluarkan pemerintah untuk ngurusi TKI ilegal yang dideportasi"; Tentu saja aku kaget mendapat semprotan beliau, ini diluar dugaanku, menjumpai beliau dan langsung mendapat amarah.
Bapak Konsul segera menengahi.
"Begini saja pak, ada PT. Mulia di Jakarta yang mengurusi pemberangkatan tenaga kerja keluar negeri, mungkin dengan rekomendasi dari Bapak, PT. Mulia bisa menerbitkan permit kerja untuk Pak Pri secepatnya, dan sementara ini biarlah Pak Pri tinggal disini sampai permitnya jadi".
"Begitupun bisa, paspor anda foto copy 2 lembar, nanti saya bawa ke Indonesia", begitu katanya padaku.
"Suruh Sugiyanto memfoto copy di kantor Pak Pri".
Aku mengangguk dan meninggalkan mereka, tapi masih kudengar tamu Bp. Konsul ini bertanya.
"Dari mana orang itu .. ?"
Sakit sekali hatiku mendengar pertanyaan itu, benar benar (menurutku) dipelupuk matanya aku ini makhluk selain manusia yang tidak punya perasaan. Sudah jelas aku pemakai pasport Indonesia, eh .. masih ditanya lagi dari mana, memangnya mukaku kaya alien dari planet diruang angkasa sana. Kalau saja bukan karena menghormati Bp. Konsul, tentu aku tidak akan muncul lagi membawa foto copyan yang dimintanya. Apa lagi aku merasa yakin .. seyakin yakinnya berkasku yang dimintanya sudah dilupakannya ketika beliau meninggalkan rumah konsul.
...
Rumah konsul sepi, padahal 5 menit yang lalu hiruk pikuk puluhan tetamu memenuhi ruangan rumah. Halaman rumah yang tapi penuh mobil juga lengang, tinggal sepeda motor matic milik Sugiyanto sendirian parkir disebelah pos scurity yang kosong (Security, berdarah Jawa asal Pacitan sedang didalam ruangan dapur, mungkin makan siang).
"Pak Pri ... Yok ke pelabuhan, lihat upacara pemulangan TKI", Sugiyanto mengajakku, aku mengangguk tanda setuju. Kemauanku mengikuti ajakannya bukan karena ingin melihat upacara, tapi aku ingin memposkan surat yang sudah 2 hari lalu kutulis untuk istri dan 3 anakku.
Sugiyanto mendorong motornya keluar pintu gerbang yang sudah dibuka dengan menggunakan remot yang ada diruangan pos jaga. Dalam pikiranku pintu gerbang ini akan tertutup sendiri setelah sekian menit. Nyatanya tidak begitu.
"Pak Pri tunggu dulu sebentar, saya tutup pintu dulu",
Sugiyanto kembali masuk.
Lho ... kalau ditutup lagi terus gimana keluarnya dia.
Diruangan pos jaga kulihat Sugiyanto menekan remot diarahkan kepintu pagar.
Pintu pagar bergerak menutup. Saat itulah Sugiyanto berlari kencang sejauh 10 meter. Dia harus sudah berada diluar pagar sebelum pintu tertutup habis. Ha .. ha .. aku tertawa mentertawai ketololanku, bagaimanapun canggihnya teknologi, akal manual manusia tetap harus digunakan, karena mesin (computer sekalipun) tetap tidak bisa mengerti keinginan manusia.
...
Dipelabuhan, terlihat upacara serah terima 1.100 TKI ilegal yang dipulangkan dengan menggunakan kapal milik TNI AL. Berita acara penyerahan terakhir diterima Kapten kapal menandakan berakhirnya acara seremorial. Kapten kapal menyalami wakil pejabat berwenang dari Negara Malaysia, Pak Bahrun, Lalu Bapak Irjen Depnaker. Kemudian dengan langkah tegap dengan diiringi 2 orang prajurit AL, beliau memasuki kapal. Tak berapa lama sauh terangkat naik, kapal bergerak meninggalkan pelabuhan diiringi lambaian tangan peserta upacara dan dibalas beberapa prajurit TNI AL yang berada dihaluan dan buritan kapal.
Aku dan Sugiyanto pergi meninggalkan pelabuhan.
"Ke Air Port dulu Pak Pri, ada teman pulang ke Indonesia".
Dari pelabuhan menuju Bandara, mataku tak berkedip mengagumi Kota Johor Bahru. Sugiyanto pun menjadi pemandu wisata yang baik. Sambil memegang stang motor maticnya mulutnya tak berhenti untuk menjelaskan sesuatu yang menurut dia perlu saya ketahui, akhirnya dia berkata :"Nah, kita 'dah memasuki komplek bandara".
Waktu perjumpaan yang sangat singkat karena 5 menit berikutnya teman Sugiyanto harus Check in dan mengambil Boarding Pass. Kamipun meluncur ke Wisma Konsul Indonsia, sebelumnya kami singgah di Post Office, untuk membeli stamp dan memasukkan surat di mail box.
"Pak Pri, malam nanti keluar, jalan jalan".
Aku tersenyum gembira mengiyakan ajakkannya.
...
Malam terang benderang oleh cahaya lampu jalan. Kami, aku dan Sugiyanto duduk menghadap Selat Johor yang memisahkan Pulau Singapura dirumah makan tanpa atap, ditrotor selebar 4 m (bisa jadi ini bukan trotoar, tapi halaman dari bangunan ruko dibelakangnya, karena siang tadi waktu aku lewat, meja dan kursi belum ada, masih hamparan luas tempat lalu lalang pejalan kaki).
Dari kursi tempat saya duduk Singapura nampak gemerlap bermandikan cahaya. Sambil menikmati Tom Yam (padahal rumah makannya bertuliskan Kedai Makan Thailand, sea food) masakan khas Negeri Gajah Putih, berupa sayur mayur berkuah dicampur potongan kecil ayam. Enak sekali rasanya, dan belakangan masakan ini jadi gemaranku  ketika harus makan diluar rumah selama di Malaysia. Aku dan Sugiyanto asyik bercerita, mataku tak lepas dari pulau diseberang selat yang dibentangi jembatan lebar. Angin dingin laut bertiup lembut, sementara gemercik air dipantai diseberang jalan terdengar pelan ditelingaku. Kebetulan pelayan rumah makan TKI dari Jawa, jadi terkadang dia ikut nimbrung dengan celutukannya yang lucu. Tak kurasakan aku ada dinegara orang, ya .. karena kami menggunakan Bahasa Jawa dengan keakraban khas perantau Jawa.
Belum puas rasanya aku memandangi Negara Singapura dari Negara Malaysia, Sugiyanto mengajakku berkeling kota Johor Bahru, melihat 2 istana kesultanan Johor dan Masjid Raya Johor Bahru, ketiga bangunan yang sangat megah, aku berdecak kagum dibuatnya.
...
Jum'at, 08 Mei 1998.
Aku menunggu bis yang akan membawaku ke Kuala Lumpur ditemani Sugiyanto. Dari tiket  yang kupegang, jadwal keberangkatan kurang 10 menit lagi. sempat kutanyakan kenapa harga yang tercantum ditiket begitu mahal Rp. 45.00, padahal waktu aku berangkat diantar Bu Tin tiket cuma Rp.12.00, mendapat pertanyaan demikian Sugiyanto cuma tersenyum. Senyuman dari seorang pemuda yang begitu baik hati meskipun kebersamaan kami cuma terhitung 4 hari, itupun tidak selalu bersama, kebanyakan diwaktu kami bersama mulai jam 3 sore sampai jam 9 malam.
Tanpa kusadari aku merenung (Sugiyanto saat itu lagi menelpon lewat telpon seluler-talipun bimbit). ....
Selesai mandi dan ganti baju yang terbaik, aku menghadap Bp. Konsul untuk berpamitan akn berangkat ke Kuala Lumpur. Beliau tidak terkejut, mungkin Sugiyanto sudah bercerita kalau aku mau ke KL dulu, masalah permit kerja juga sudah kuutarakan, kalau memang permitku jadi, tolong disimpan dulu, akan saya ambil. saya berjanji satu bulan lagi akan menelpon untuk menanyakan permit itu.
Pak Bahrun menyalamiku
"Pandai pandailah membawa diri dinegara orang, ingat peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kalau ada permasalah jangan ragu untuk memberi tahu Bapak, ini untuk pegangan Pak Pri, jangan dilihat nilai uangnya, tapi gunakan saat memang perlu untuk digunakan".
Aku menerima uang yang diberikannya, tipis sih .. tapi kalau ditukar kemata uang rupiah mungkin jadi tebal.
"Tidak usah beli tiket, nanti Sugiyanto yang membelikan".
"Terima kasih Pak, saya mohon pamit".
Pak Bahrun menepuk nepuk bahuku.
Tulus.
Jujur, aku sangat terharu.
...
"Hei .. ngelamun .. itu bisnya Pak Pri datang", Sugiyanto menyadarkan aku dari melamun.
"Pak Pri, ini kartu nama saya, telepon saya kalau ada sesuatu hal, jangan lupa kalau ke JB (Johor Bahru) singgah dan ini sedikit dari saya, jangan ditolak, tidak banyak memang siapa tahu bermanfaat".
Kuterima kartu nama dan sejumlah uang ringgit.
Kusalami dan kupeluk keponakannya Pak Bahrun ini.
"Selamat Tinggal, semoga kita bisa jumpa lagi".
Kujinjing tasku, aku berjalan dan menaiki bis. Aku duduk dibelakang pengemudi bis, hanya satu kursi duduk, disebelah kirikupun cuma satu bangku yang sudah diduduki wanita China tua. Oh .. inikah yang membuat harga tiket begitu mahal. Tak cuma itu, disebelah kananku tergantung head phone besar yang sudah terkonek disandaran tangan yang terdapat tombol digital untuk memilih tape atau radio dan tuis pencari signal radio. Masih ada lagi, setelah bis memasuki jalan bebas hambatan, seorang wanita muda cantik berseragam batik biru mudan dikombinasikan dengan celana biru tua (sama dengan seragam yang dipakai pengemudi, sesuai juga dengan warna bis yang dominan biru), dengan tersenyum dia menawarkan aku untuk memilih minum teh atau kopi, aku memilih teh. Tak berapa lama dia membawa nampan berisi teh, susu kotak kecil, satu gelas kecil berisi gula dan sepotong roti kering lalu meletakknya dimeja yang bisa dilipat disandaran kursi tangan.
"Silahkan dinikmati". katanya.
Aku menikmatinya memang, teh kucampur gula dan sedikit susu, roti tak kusentuh, aku tak begitu suka makan roti, jenis/rasa apapun.
Setengah jam kemudian, perempuan tadi memberesi meja dan melipatnya semula dan berkata :"Selamat beristirahat sambil mendengarkan musik dari kami, atau encik bisa memutar radio".
Begitu hebatnya service dari armada bis ini. Diantara kantuk yang mulai menyerang, kulihat pramugari (?) itu menyetel sandaran kursi dan sandaran kaki yang diduduki  perempuan tua disebelah kiriku yang  tertidur nyenyak.
...
Sampai di Kuala Lumpur, bis tak memasuki terminal Pudu Raya, karena mengikut arahan, didalam terminal bis penuh. Sekali lagi perempuan berseragam biru itu menunjukkan keramahannya. Dia ambilkan Tasku dibagasi atas seperti juga waktu naik, dia yang meletakkannya (bukannya aku tidak tahu tapi memang tasku dimintanya ketika aku memasuki bis)
"Selamat tiba KL, sampai jumpa lagi dan terima kasih".
Patutlah harga tiketnya mahal, sesuai dengan apa yang penumpang peroleh selama perjalanan, kenyamanan serta service yang boleh dikata berlebihan. Pokoknya memanusiakan manusialah.
Aku turun dari bis, sebelum pergi aku ingin membaca armada apa yang membawaku, siapa tahu aku masih berkesempatan menaikinya lagi.
Karena takut lupa sambil berjalan aku tulis nama bis itu dibuku agendaku EXECUTIVE COACH (diterjemahkan kebahasa setempat Bas Pesiaran Mewah).
...
(Berikutnya : Gedung Informasi)



















Sunday, January 5, 2014

Executive Coach (Bagian 1)

5 Hari dirumah Konjen Indonesia di Johor.
 
Aku bersama Bu Tin ke Johor Bahru untuk mengantarkan surat ke Bapak Banrun Subardjo (Kepala Konsulat Jendral Johor Bahru). Melewati Jalan Tol (dikenal dengan nama PLUS = Pelaburan Lebuh Raya Utara Selatan) sejauh 350 km lebih, memakan waktu tempuh 4 jam dari Kuala Lumpur kami tiba di Stesen bas Larkin, hari sudah menjelang malam. Dengan menggunakan telpon umum (talipun awam) Bu Tin menghubungi nomor telepon rumah kediaman Bapak Bahrun. Pembicaraan yang singkat dan padat, diakhir pembicaraan kudengar Bu Tin menyebutkan posisi kami saat ini.
 "Kita disuruh menunggu, ada pegawai konsul yang akan menjemput", kata Bu Tin selepas meletakkan gagang telpon.
Aku tertegun .. tak percaya, bagai mana tidak ? Orang nomor satu pemerintah Indonesia di Negara Bagian Johor, Malaysia ini menerima kami serta mengirimkan pegawainya untuk membawa kami dirumah beliau. Padahal Bu Tin sewaktu ditelpon tadi hanya berbicara, bahwa dia baru saja tiba dari Indonesia, dan ingin bertemu dengan bapak Konsul.
Teman .. Aku lebih heran lagi dengan kejadian berikut : Bapak Bahrun menyambut kedatangan kami dipintu masuk rumah besarnya, dengan tersenyum ramah beliau mengulurkan tangan mengajak kami bersalaman, sungguh .. genggaman tangannya erat dan hangat. Kepadaku beliau agak lama menggenggam tanganku sementara tangan kirinya menepuk nepuk bahuku, beliau berkata : Selamat malam, selamat datang diwilayah negaramu (sempat tadi ketika masuk halaman rumah yang sangat luas kulihat Bendera merah putih berkibar ditiang dengan gagahnya), jangan malu, silahkan masuk, tanganku belum dilepaskan beliau menarik saya masuk dan Bu Tin mengikuti kami dibelakang. Kami berdua dibawa keruangan tengah, bukan diruang tamu, diruangan ini kami duduk dikursi besar berukir (mungkin) dari Jepara. Dalam hitungan detik seorang wanita muda membawa 2 cangkir teh dan meletakkan didepanku dan But Tin. Kepada Bapak Konsul dia berkata, makan malamnya sudah tersedia pak ..
"Nah .. sekarang makan dulu, selesai makan baru kesini lagi untuk berbincang bincang",
"Mari bu, pak keruang makan", wanita muda pembawa minuman untuk kami tadi meminta kami untuk mengikutinya.
Kami berdua saja menghadapi hidangan yang disediakan, ada nasi, daging empal, sayur asem, sambal terasi yang tidak dipindahkan dari cobeknya, satu stoples kecil kerupuk dan 2 gelas besar air putih.
"Monggo dipun dahar", Bahasa Jawa kromo (halus) dia pakai untuk mempersilahkah kami menikmati makan malam.
Ditengah kami menikmati makan malam, Bapak Konsul muncul sebentar dan menyuruh kami  jangan malu untuk makan kenyang kenyang dengan menu lauk pauk seadanya.
 ...
Pak Bahrun duduk dihadapan kami, tenang, bersahabat namun tetap nampak wibawanya sebagai kepala Konsul. Postur yang tinggi besar, tidak kekar tapi gagah sekali seperti badan perwira menengah di ABRI kita, padahal beliau bukan orang angkatan, beliau dari sipil. Penampilan yang santai, berbaju kaos putih, dipadu kain sarun motif kotak warna biru bergaris putih, membuat kesegenanku sirna, kami ikut terbawa suasanya yang beliau ciptakan, rileks. Beliau berbasa basi menanyakan kami di Jawa dari daerah mana, tiba di Malaysia kapan, dan akhirnya sampai pada pertanyaan point : apakah ada permasalahan yang dihadapi kami di negara serantau ini, sehingga malam malam ingin bertemu dengan beliau. 
Bu Tin melihatku sekilas.
Aku mengerti, aku mengeluarkan amplop putih dari buku agenda didalam tasku tanpa mengeluarkan buku agenda dari bag travelku. Amplop putih yang kujaga selama 2 bulan semenjak aku meninggalkan kota Pati, hingga sekarang baru kukeluarkan lalu kuserahkan kepada Bapak Konjen Johor.
 "Maaf Pak, .. ada titipan surat dari Pak Nur Sahid, Lahar, ", aku menyebutkan nama pengirim surat dan nama desa asal pengirim surat agar beliau paham siapa pengirim surat yang tertera disampul surat. Dan dugaanku tepat, beliau menerima surat sambil berkata :" Oh dari Dik Sahid tho".
"Iya pak", aku menegaskan.
Sementara beliau membaca.
Aku dan Bu Tin diam.
Pikiranku tak karuan, aku takut akan reaksi beliau begitu beliau selesai membaca surat yang kubawa, aku takut dimarahi atau paling tidak beliau berubah antipati terhadapaku, karena isi surat tersebut menurut perkiraanku adalah masalah pekerjaan yang dimintakan Pak Nur Sahid kepada beliau untukku.
Hatiku deg degan.
Pak Bahrun melipat surat dan memasukkan kembali kedalam amplop, kemudian dia letakkan diatas meja, beliau tersenyum padaku, aku kembali tenang.
"Sudah lama mengajar di SMEA ?", tanyanya tetap dengan senyum simpatiknya, hatiku semakin tenang.
"Sudah lama pak, 11 tahun", dengan wajah menunduk.
"Kerja diradio juga sudah lama?"
"Mulai tahun '90 dan keluar tahun '97 bersamaan dengan keluarnya saya dari SMEA", jelasku agak panjang.
"Dua pekerjaan yang bagus, kenapa ditinggalkan, apa kurang penghasilannya dan memilih masuk Malaysia", beliau berhenti sejenak, setelah menarik nafas panjang beliau malanjutkan :"Kalau bekerja di kantor Pak Bahrun, tentu saja kalau dipaksakan bisa, tapi masalahnya gajinya tak lebih bagus dari dua penghasilan yang Pak Pri peroleh dari dua tempat Pak Pri Kerja dulu sewaktu di ... (agak lama terdiam,  mungkin mengingat ingat) Pati .. atau (Pak Bahrun hati hati sekali untuk meneruskan bicaranya) Bu .. bu siapa namanya?".
"Bu Tin .. ", jawabku.
"Ya .. hm .. atau Bu Tin .. punya rencana memberi pekerjaan untuk Pak Pri", matanya memandang agak menyelidik kearah Bu Tin, yang dipandang tentu saja gelagepan, kaget tak menduga mendapat pertanyaan seperti menyudutkan. Pertanyaan yang diajukan Pak Bahrun kepada Bu Tin jelas mengisyaratkan, bahwa beliau menduga Bu Tin seorang Tekong. (Sebelumnya Bu Tin berpesan kepadaku, bahkan sebelum keberangkatan kami meninggalkan kota Pati, supaya tidak mengatakan kepada siapapun bahwa dia adalah tekong TKI, pekerjaan tekong sangat riskan, kalau ketahuan bisa berurusan dengan pihak kepolisian baik polisi Indonesia atau Polis Diraja Malaysia).
"Begini saja Pak Pri", Beliau mencairkan keadaan, "2 hari lagi Irjen Depnaker datang kesini, untuk melepas kapal TNI AL yang mengangkut pulang ke Indonesia TKI yang terkena deportasi karena tak memiliki dokumen ketenakerjaan lengkap, nah nanti Pak Bahrun akan berbicara dengannya tentang masalah ini, Pak Pri tinggal saja disini, sampai selesai urusan".
"Nah Bu Tin .. sementara bermalam disini, besok pagi hari baru berangkat ke KL, hari sudah larut bisa jadi tak ada bis yang berangkat". Kalimat terakhir dari beliau ditujukan kepada Bu Tin bernada sangat tegas penuh wibawa, jelas beliau  merasa yakin wanita yang duduk didepannya seorang tekong, pembawa orang untuk diperkerjakan secara ilegal di Malaysia. Aku memandang Bu Tin, perasaanku tak enak mendengar ucapan Pak Bahrun yang menohoknya. Seperti yang sudah kuceritakan diawal kisah perjalanan ini, sosok Bu Tin adalah wanita sarat pengalaman, lama menekuni dunia pertekongan, pastilah ucapan sesinis apapun pernah dia terima (lain kali aku ceritakan keuletan Bu Tin membebaskan menantunya yang terkena kasus berat , pemalsuan dokumen paspor dan permit kerja). Kebetulan juga Bu Tin melihat kearahku, tersenyum memaklumi. Aku sedikit lega, karena dengan senyuman itu aku masih bisa mengharap bantuannya di Negara orang ini, aku tidak begitu terlalu berharap akan bisa bekerja dengan perantaraan Pak Bahrun.
...
Malam ini kami tidur diluar rumah induk, di paviliun, aku menempati paviliun sebelah kanan, Bu Tin sebelah kiri berdekatan gardu sekuriti yang berjaga secara shift selama 24 jam. Sebelum tidur aku mengunjungi bangunan kecil yang ditempati Bu Tin dan duduk diteras bersamanya.
"Jam berapa besok Bu Tin berangkat .. ?", aku bertanya, rupanya pengantarku ini akan berangkat ke Kuala Lumpur esok hari, anak dan anak menantunya sudah telpon, Bu Tin diminta untuk segera datang, pengurus pembuat paspor tembakan untuk kepulangan anak perempuannya  ke Indonesia sudah menunggunya.
"Jam 7, sebelum Pak Konsul berangkat ke kantor jadi ibu sempat berpamitan", kata beliau lalu berdiri dan masuk kedalam paviliun, sambil berkata : "Tunggu sebentar". Tak berapa lama beliau keluar lagi dan kembali duduk.
"Masih ingat 'kan jalan pulang ke Green Wood?",
"Masih "
"Ini uang Rm.40,00 ibu kasih untuk Pak Pri untuk pegangan Pak Pri selama disini dan  ongkos pulang ke KL kalau Pak Pri enggak dapat pekerjaan disini, menantu ibu, kemungkinan seminggu lagi mulai bekerja, jadi Pak Pri bisa ikut kerja, jangan lupa untuk telpon kalau ada apa apa", kuterima uang yang disodorkan padaku, kulipat dengan hati hati , tak ingin uang ringgit pertamaku ini terkoyak atau terlipat tak beraturan, lalu dengan gaya lucu kucium lipatan uang pemberian Bu Tin ini sambil melirik jenaka kearahnya, Bu Tertawa senang melihat kecerianku,  "Sudah ah .. , masukkan uang itu kekantongmu .. Sana kembali ketempatmu", Bu Tin memonyongkan mulutnya kearah paviliun tempatku tidur,  aku nurut, .. kumasukkan 4 lembar uang ringgit kesaku bajuku ... juga dengan sangat hati hati. Perlahan aku beranjak, berdiri, melangkah pergi meninggalkan Bu Tin duduk sendiri.
...
Gethuk Lindri, Gethuk Goreng dan Sambas

Aku sedang duduk membaca dimeja kamarku, ketika pintu kamar diketuk lembut dari luar.
"Pak Pri .., 'dah bangun belum?", suara Bu Tin.
Tanpa menjawab aku memutar handle pintu dan keluar mengambil tempat duduk terpisah meja kayu menyebelahi kursi yang diduduki Bu Tin. Kami belum sempat bercakap, Pak Bahrun keluar dari rumah induk menjumpai kami, aku segera berdiri, maksudku mempersilahkan beliau untuk menduduki kursiku. Hanya ada 2 kursi diteras paviliun. Tapi beliu melarangku berdiri, aku kembali menduduki kursiku.
Beliau tersenyum.
"Gimana tidurnya tadi malam ? Nyenyak ..?"
Sebelum kami menjawab Pak Bahrun meneruskan bicaranya :"3 hari lagi ada 1100 warga negara kita akan dijemput pulang menggunakan kapal TNI AL, jadi kami sangat sibuk belakangan ini, Pak Pri tinggal saja disini sampai selesai masalah pekerjaannya .. hm .. mudah mudahan dengan bantuan Pak Irjen pak Pri tidak lama lama menganggur".
Berhenti sejenak lalu memandang Bu Tin.
"Ibu sepertinya sudah bersiap ke Kuala Lumpur?"
"Benar .. saya mohon pamit sekarang juga"
"Baiklah, minum dan nikmati dulu kue yang sudah disediakan, sambil menunggu taksi yang akan menjemput".
Pak Bahrun menuju pos penjagaan dan berbicara pada sekuriti.
Lalu kembali menemui kami.
"Taksi akan datang. Hati hati diperjalanan bu. Selamat jalan".
Bu Tin berdiri dan menyalami Pak Bahrun.
Disebelah kami telah berdiri sekuriti, menawarkan diri untuk membawa tas besar yang berada diatas kursi teras paviliun tempat Bu Tin bermalam.
Aku berjalan dibelakang Bu Tin yang seiring dengan sekuriti. Sebelum kami melewati pintu gerbang yang terbuka secara otomatis taksi yang dipanggilpun tiba.
"Ke terminal bis Larkin", sekuriti berbicara pada sopir taksi.
Aku menyalami Bu Tin.
"Jangan lupa telpon", Bu Tin mengingatkan, aku mengangguk. Taksipun melesat meninggalkan aku dan sekuriti.
...
Sepeninggal Bu Tin aku kembali duduk diteras paviliun, membaca koran kemarin yang diberikan sekuriti. Membaca (News) paper Utusan aku harus mengulangi setiap kalimat yang kubaca, banyak kosa kata yang belum kutahu. Untungnya Bahasa Malaysia memiliki akar yang sama dengan Bahasa Indonesia, yakni Bahasa Melayu, jadi .. kesulitan untuk memahami tulisan dikoran setempat tidaklah begitu berarti, karena boleh dikata 90% masih mirip dengan Bahasa Indonesia. Namun ada juga kalimat yang mirip bahasa kita, tapi memiliki arti yang berbeda, seperti kalimat berikut : Semalam pukul 13.00 terjadi kemalangan di Lot 10 ... dst ...atau : Nasib baik motosikal boleh pusing balik, sehingga ... dst ... atau : Korban meninggal karena lemas di Sungai Gombak ... dst.
Aku membuka halaman demi halaman paper terbitan setempat mencari berita dari Indonesia, kudapat .. catatan perjalanan seorang budayawan populer Malaysia (Drs. M. Nasir, pencipta lagu Andalusia) dari Jakarta menuju Yogyakarta. Isinya tidak begitu bagus, bahkan terkesan mengolok, hal ini nampak pada uraian singkat akan istilah yang dipakai, seperti bis malam, AC executive,  kaca spion, juga tertulis betapa terganggunya sang penulis, karena semalaman pengemudi memutar lagu dangdut dengan keras, belum lagi disetiap berhentinya, bis diserbu penjual asongan dengan teriakannya, masih ditambah lagi pengamen yang dengan percaya diri bernyanyi dibagian depan didalam bis dengan tatapan tak sedap para penumpang. Membaca tulisan ini agak jengkel juga aku, walaupun memang begitu keadaannya.
Tiba tiba seseorang menyapa dengan mengucapkan salam sambil mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri :"Sugiyanto .."
"Priyo Hartono, biasa dipanggil Pak Pri", aku menyambut tangannya dengan hangat.
Sugiyanto duduk disebelahku.
"Kami akan kedatangan tamu penting besok, sejak 3 hari yang lalu kami dibikin sibuk mempersiapkan penyambutan mereka, untunglah segalanya sudah beres, ada sih sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan, itupun kami perkirakan malam nanti selesai".
"Kalau memang bisa saya kerjakan, saya akann senang sekali ikut menyelesai pekerjaan itu", kataku menawarkan diri :"biar enggak bengong sendirian", lanjutku sambil tersenyum.
...
Meja makan berukuran besar dari kayu inilah yang akan kami hias dengan penutup kain renda. Pertama kali meja ditutup kain renda warna putih, lalu dilapis plastik agak tebal transparan. Ditepi meja digantungkan kain renda warna cream, .. yang bikin lama pekerjaan, menggantungkannya dengan diwiru, harus sabar, teliti dan tekun. Entah karena tidak bisa atau karena kesibukan lain, orang yang membantu menghilang saru persatu, akhirnya aku yang bertahan dan menyelesaikan. Semua puas akan hasil kerjaku, mereka bilang biasanya yang mewiru itu ibu konsul (saat aku dirumah konsul, ibu konsul sedang berobat di AS, diatar anak laki-lakinya).
Ada  5 orang berada didalam rumah bekerja mempersiapkan untuk keperluan besok, mereka bukan dari luar rumah kecuali lelaki tua pemotong rumput. Mereka memiliki kisah yang unik dan menarik hingga mereka bisa sampai dirumah ini.
...
Sunarsih, wanita mungil berkulit kuning, rambut berombak agak kemerahan, pembawaannya ceria, berasal dari Magelang, Jawa Tengah (biasa dipanggil Indri, diambil dari nama makanan khas daerahnya yang memang terkenal .. Gethuk Lindri, kue yang terbuat dari ubi kayu dan dimakan dengan parutan kelapa). Menurut cerita Indri yang lulusan SMA, dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji Rm.400,00 perbulan, gajinya memang besar, tapi jam kerja yang diluar batas kemanusiaan membuatnya tidak betah. Akhirnya dia melarikan diri tanpa bekal dokumen kerja yang dia miliki.Aku salut akan keberanian Sunarsih, tanpa mengalami kesulitan berarti dia sampai di Gedung besar berbendera merah putih ini. 
"Kenapa permitnya tidak dibawa?", tanyaku heran, karena permit merupakan ijin tinggal untuk bekerja di Malaysia.
"Gimana mau dibawa, lha wong ditahan sama juragan".
...

Lain Sunarsih lain lagi cerita Maryati, Wanita muda tinggi semampai berambut panjang diikat karet gelang, agak pendiam, berbicara kalau ditanya dan jarang ketawa, senyumnyapun mahal,  keibuan, terkesan wanita lulusan SMEA amat sederhana. Jiji (huruf G, dibaca lafas Inggris, GG singkatan dari kata Gethuk Goreng, jajanan populer dari Sukaraja, Banyumas, Jawa Tengah tempat asal Maryati) menuturkan, dia sempat pindah kerja dibeberapa tempat, terakhir dalam keadaan  sakit dia dipaksa untuk ikut kepasar berbelanja, lalu ditinggal tuannya. Jiji saat itu sudah tak mampu untuk berdiri, dia tergolek ditengah pekan awam (mirip pasar tradisional di Indonesia). Untunglah pembeli dan penjual dipasar kebanyakan warga Malaysia keturunan Indonesia Jawa. Seorang wanita paruh baya menyibak orang yang mengerumuninya, lalu memangku kepala Jiji diharibaanya :"Dimana kamu tinggal nak ?"
Bersusah payah Jiji membuka mulutnya dan terpatah patah menyebut kata :  In .. do .. ne .. sia, lalu pinsan.  
Ketika sadar, Jiji berada dikamar luas dan bersih. Seorang wanita mungil dengan tersenyum mendapingi serta mengurut urut lengannya.
"mBak sudah aman, mbak anda di rumah Konsul Indonesia".
Jiji memaksa untuk tersenyum.
"mBak istirahat dulu. Kalau perlu apa-apa, bilang saja sama saya, Sunarsih".
...
Nama aslinya Nurdiana, teman teman serumah kompak memanggilnya Sambas (Nama daerah di Pulau Kalimatan, tempat asalnya). Suka bercelana panjang, rambut agak pendek, agak galak, kalau ngomong ketus, terkadang lucu, tapi dia merasa tidak sedang melucu, itu sebabnya sering jadi  bahan lelucon kawan kawannya. Sama halnya Indri dan Jiji, Sambas juga mengalami nasib naas, karena dia harus bekerja ditengah perkebunan kelapa sawit, tugasnya bersama 4 teman wanitanya memasak untuk puluhan buruh. Tugasnya ini membuat hampir tak bisa melihat matahari setiap hari. Sambas hanya memasak dan memasak, tak pernah beranjak dari dapur. Mereka selalu diancam bila kedapatan mau melarikan diri akan disiksa, dan (kata mandor untuk menakut-nakuti) yang lebih celaka belum sampai keluar hutan kelapa sawit nyawa melayang karena dibaham harimau.
9 bulan bekerja Sambas belum pernah digaji. Dia berencana mau melarikan diri, sendirian. Dia merancang sendiri pelariannya, dia takut temannya tak bisa pegang rahasia.
Saat yang dinantikanpun tiba.
Menjelang waktu sembayang maghrib, para buruh bersiap untuk melaksanakan sholat, dan para mandor berkumpul diteras rumah depan. Biasanya menjelang malam itulah truk pengangkut hasil perkebunan berangkat ke pabrik. Rencana Sambas dia akan naik truk dipintu belakang bak truk dengan cara menggandul. Ketika mesin truk berbunyi Sambas sudah menanti sekitar 30 meter jauhnya dari rumah. Truk melintas pelan didepannya, Sambas keluar dari persembunyiannya, lalu berlari kencang memburu truk, dia meloncat dan hap .. Sambas berhasil memegang pintu bak truk, dengan kekuatan penuh lengannya menarik badannya dibantu hentakan kakinya menginjak tanah, dalam hitungan detik kakinnya sudah berada dipalang rangka bak.
Sambas selalu menoleh kebelakang, dia tak ingin pelariannya cepat diketahui. Sambas akan merasa aman bila truk sudah berada dijalan beraspal, keinginannya terkabul, wanita nekad ini bisa bernafas lega 10 menit kemudian truk sudah melaju kencang dijalan raya. Ternyata rencananya menuju kantor polisi cepat terkabul, karena truk dihentikan polisi untuk diperiksa, setelah memeriksa surat seorang polisi berjalan kebelakang untuk memeriksa muatan, tentu saja pak polisi terkejut melihat sosok wanita menggantung dipintu bak belakang mobil.
"Hei .. apa awak buat ni ..?"
Masih menggantung Sambas menghiba :" Tolong saya pak polisi, saya orang Indonesia, saya mau pulang ke Indonesia".
(Dari cerita teman -teman penulis dan penulis sendiri mengalami, tidak sedikit polisi Malaysia yang masih memiliki rasa kasihan terhadap pendatang haram dari Indonesia. Bahkan mereka tak segan untuk menolong agar TKI ilegal yang dia dapat, justru dia selamatkan agar tidak ikut terbawa saat kena rasia).
"Cepat turun, menyorok dilongkang", Polis menyuruh sambas menyuruh sembunyi digot ditepi jalan :"tunggu disitu, nanti saya ambil".
Sambas menurut, dan dia mau menunggu hingga pak polisi mengambilnya, selanjutnya terserah pak polisi, mau dibawa kepenjara untuk dibuang kenegaranyapun Sambas pasrah.
Singkat cerita Sambas diantar kereta sapu menuju konsul Indonesia, atas kebaikan polisi Malaysia yang
 berhati nurani.
...
Berikutnya :
Executive Coach (Bagian 2)