Waktu kami turun dari Bis Naela, jam masih menunjukkan pukul 9 malam, masih belum larut, kami keluar dari Bas Stasen (begitu memang tulisannya) Pudu Raya melalui jalan tempat jalur bis tadi masuk, sebetulnya ada tangga naik kelantai atas ketempat ruang tunggu penumpang yang akan menaiki bis, dari ruangan ini kita bisa keluar terminal dan langsung ketempat pengantrian taksi.
"Ambil jalan pintas", kata Bu Tin
Aku diam saja, toh aku tidak tahu mana jalan pintas, mana jalan bukan pintas, dan lagi mana aku paham mau kemana tujuan perjalanan berikutnya.
Jalan keluar dari terminal ini agak mendaki, tempat parkir bis berada di home base, begitu sampai diluar aku terpana .. didepanku terang benderang diterangi lampu jalan tanpa centang perenang kabel listrik. Pandanganku berkeliling melihat gedung bertingkat yang tersusun rapi, warna cet yang belum memudar, rapi, bersih, memang kesan terawat jelas kentara sekali. Kendaraan yang melintas tidak begitu banyak, masih cukup jariku untuk menghitung jumlah kendaraan yang melintasi jalan dibundaran taman asri berdiameter kurang lebih 100 m, sementara pejalan kaki berjalan ditrotoar lebar sekitar 2 m, itupun tak ramai, padahal malam belum begitu kelam. Sekali lagi aku dapat pelajaran bagaimana cara mematuhi tata tertib berjalan ditempat umum. Bayangkan kendaraan yang melintas tidak ada, sementara lampu merah untuk penyeberang jalan menyala merah, tanpa menoleh kiri atau kanan (maksudnya kalau tidak ada polisi terus saja menyeberang) seorang lelaki muda berhenti, kamipun berhenti pula dibelakangnya menunggu lampu warna hijau menyala. Anggapanku (pada saat itu) .. ini hal yang SANGAT luar biasa, bahkan ANEH.
"Pak Pri jalannya agak cepat", Bu Tin berbicara menyuruhku mengimbangi langkahnya.
Hebat memang wanita paruh baya ini, aku yang laki laki, jauh lebih muda dari dia, tidak juga aku membawa beban berat keculai travel bagku yang berisi tak penuh. kewalahan mengikkuti laju jalannya, terkadang aku tertinggal hingga 5 meter. Apa memang harus begini cara jalan dikota besar, langkah lebar dengan tempo pendek, persis serasa dikejar atau mengejar sesuatu.
Sesampai diseberang bundaran, kami belok kekiri, menyusuri jalan sejauh 200 meter, kami sampai ditempat (jalan) sedikit lebih lembar, kulihat 2 baris orang mengantri, aku sendiri tidak tahu apa yang mereka antri, didepan mereka tidak kuliat apapun, toko saja pintunya sudah tertutup.
"Exquisme, tumpang tanye .., dimana berdiri beratur 4D", Bu Tin berbicara dengan seorang wanita yang berdiri paling belakang.
"Kat depan sane aunti ..", wanita tadi menunjuk barisan yang lebih panjang didepan.
"Terima kasih, .. "
"Pak Pri antriannya dibagian depan", lanjutnya padaku.
Benar teman, aku tidak bohong .. aku tidak tahu mengapa kita harus mengantri, sedangkan pengantri diujung depanpun cuma berdiri tenang, namun kusimpan saja keingin-tahuanku, nanti 'kan tahu sendiri, masak mau semalaman berdiri saja menunggu pagi,
Tak perlu waktu lama, rasa penasaranku terjawab sudah, berselang 5 menit kemudian muncul bis bertuliskan Intra Kota, Green wood-4D. Aku menepuk jidatku sendiri, bis belum datang saja penumpangnya sudah berbaris tertib. Antrian mulai bergerak lambat, bahkan lambat sekali. Kenapa ya ..? Hm .. pokoknya hari pertamaku di Malaysia isinya cuma penasaran saja. Namun .. seperti yang sudah sudah, langsung kudapatkan penyebabnya, Nah .. kenapa antrian calon penumpang berjalan lambat, karena mereka berhenti sejenak untuk membayar karcis dan mengambil karcis dari mesin karcis yang berada disebelah kiri pengemudi bis.
Mesinnya sih nggak otomatis amat, manual malah (menurutku). Bu Tin memasukkan 2 duit Selling (koin 1 ringgit) untuk tambang (ongkos) kami berdua, pengemudi melihat jumlah duit yang masuk (box mesin bagian depan transparan) untuk memastikan jumlah duit yang masuk kedalam mesin, lalu dia menekan tombol warna hijau 2 kali, keluarlah karcis 2 lembar. Untukku dan Bu Tin.
Kami mendapat tempat duduk dideretan ke 3 dari depan sebelah kiri, dideretan sebelah kananku persis bangkunya agak beda, bangkunya memanjang cukup untuk duduk 4 orang menghadap kearah lorong, diatasnya dijendela kaca bis terdapat 2 tulisan, yang pertama : "BAGI ORANG YANG KURANG UPAYA SAHAJA", apa lagi maksud tulisan ini, bingung juga aku dibuatnya untuk menterjemahkannya. Silahkan teman membuat kalimat Indonesianya, aku belum menemukan kata kata yang tepat, tapi aku paham tujuan penulisannya, .. sebab sebelum bis berangkat ada seorang nenek yang sudah agak bungkuk, berjalan tertatih2 dituntun cucunya menduduki bangku yang menghadapku. Pantas .. meskipun bangku itu kosong penumpang terus saja kebelakang walau mereka harus berdiri (penumpang Intra kota juga ada yang berdiri seperti di Jakarta, bedanya, kondisi intra kota sangat layak, memenuhi syarat kenyamanan, keselamatan segabai angkutan umum), sedangkan tulisan yang kedua berbunyi : HATI HATI. RAMAI PENYELUK SAKU, kuperkirakan ini peringatan, bahwa kita harus hati hati dengan adanya pencopet.
Seperti saya katakan diawal penulisan ini, kota Kuala Lumpur sepi dari kendaraan lalu lalang, tetapi bis bergerak dengan kecepatan terukur, mengikuti arahan tulisan didepan kaca bis HAD LAJU 50 KM/JAM.
Sepanjang jalan, mataku tak lepas memandang keluar, kedepan, kesamping kiri, kesamping kanan, mengagumi malam terang di Kuala Lumpur. di Bas Top, pertigaan Jl. Semarang (ya .. Jl. Semarang) bis berhenti agak lama, banyak penumpang naik. Aku melihat lagi keluar, mataku meluncur mengikuti kearah jauh Jl. Semarang .. Nun disana Terpancak gagah seperti Monas, Menara Kuala Lumpur, Tiang persegi 8nya terang disinari lampu sorat dari bawah, sedang diatasnya seperti UFO (dicerita2 komik lho ya) berjendela melingkari tiang menara. Pada masanya, Menara KL dulu merupakan Icon Negara Malaysia sebelum Menara Kembar Petronas (KLCC- Kuala Lumpur City Center) berdiri. Dalam hati aku berkata : tunggu saja, lain waktu aku akan berdiri tepat dibawahmu.
Disisa perjalannku menaiki Intra Kota ini, tak ada hal yang menarik lagi, tapi ada juga bekal 'ilmu' yang saya dapatkan yang berguna bila aku suatu saat nanti pergi sendirian, Atau siapa tahu teman memiliki kesempatan ke Kuala Lumpur, ikuti tip cara meniaki bis (khususnya Intra Kota) di Malaysia dibawah ini.
1. Bis hanya berhenti di Bas Stop, Bas Stand atau Bas Stesen,
2. Pastikan dipemberhentian berikut ada turun, tekan bel yang berada dikap mobil, diatas tempat duduk.
20 meter sebelum pemberhentian.
3. Apabila bis betul2 sudah berhenti dan pintu sudah terbuka, baru kita tinggalkan tempat duduk.
4. Bila kita akan naik, dahulukan penumpang bis yang turun hingga habis.
5. Bayar ongkos perjalanan dimesin karcis yang terletak disamping kiri pengemudi, gunakan uang pas saja, Begitu, .. kalau kita ikuti petunjuk diatas, kita terhindar dari cemoohan orang.
Akhirnya, Intra Kota sampai ditujuannya (disini orang bilang destinasi)
Bas stand sunyi, lampupun tidak begitu terang, tapi tidak juga suram
Kami (para punumpang bis) turun dengan tertib, tenang, tidak terburu-buru. Terkadang pengemudi tersenyum kepada penumpang kadang juga berbicara memberikan ucapan :
"Terime kasih ..", atau
"Sampi jumpe lagi ..", (pengucapan Lnya hampir tak kentara), atau
"Selamat malam .."
Khusus kepadaku (Bu Tin cuma dapat senyuman), si pengemudi berucap : "Selamat Datang di Kuala Lumpur .. "
Mulutku sempat melongo, tapi .. ah peduli amat, karena tas travelku inilah dia mengira aku dari luar kota, atau bahkan dia sememangnya tahu aku baru datang dari Indonesia.
Ha .. a
Sekali lagi Aku tidak peduli.
...
(berikutnya : Naik Kereta Api Komuter)
"Ambil jalan pintas", kata Bu Tin
Aku diam saja, toh aku tidak tahu mana jalan pintas, mana jalan bukan pintas, dan lagi mana aku paham mau kemana tujuan perjalanan berikutnya.
Jalan keluar dari terminal ini agak mendaki, tempat parkir bis berada di home base, begitu sampai diluar aku terpana .. didepanku terang benderang diterangi lampu jalan tanpa centang perenang kabel listrik. Pandanganku berkeliling melihat gedung bertingkat yang tersusun rapi, warna cet yang belum memudar, rapi, bersih, memang kesan terawat jelas kentara sekali. Kendaraan yang melintas tidak begitu banyak, masih cukup jariku untuk menghitung jumlah kendaraan yang melintasi jalan dibundaran taman asri berdiameter kurang lebih 100 m, sementara pejalan kaki berjalan ditrotoar lebar sekitar 2 m, itupun tak ramai, padahal malam belum begitu kelam. Sekali lagi aku dapat pelajaran bagaimana cara mematuhi tata tertib berjalan ditempat umum. Bayangkan kendaraan yang melintas tidak ada, sementara lampu merah untuk penyeberang jalan menyala merah, tanpa menoleh kiri atau kanan (maksudnya kalau tidak ada polisi terus saja menyeberang) seorang lelaki muda berhenti, kamipun berhenti pula dibelakangnya menunggu lampu warna hijau menyala. Anggapanku (pada saat itu) .. ini hal yang SANGAT luar biasa, bahkan ANEH.
"Pak Pri jalannya agak cepat", Bu Tin berbicara menyuruhku mengimbangi langkahnya.
Hebat memang wanita paruh baya ini, aku yang laki laki, jauh lebih muda dari dia, tidak juga aku membawa beban berat keculai travel bagku yang berisi tak penuh. kewalahan mengikkuti laju jalannya, terkadang aku tertinggal hingga 5 meter. Apa memang harus begini cara jalan dikota besar, langkah lebar dengan tempo pendek, persis serasa dikejar atau mengejar sesuatu.
Sesampai diseberang bundaran, kami belok kekiri, menyusuri jalan sejauh 200 meter, kami sampai ditempat (jalan) sedikit lebih lembar, kulihat 2 baris orang mengantri, aku sendiri tidak tahu apa yang mereka antri, didepan mereka tidak kuliat apapun, toko saja pintunya sudah tertutup.
"Exquisme, tumpang tanye .., dimana berdiri beratur 4D", Bu Tin berbicara dengan seorang wanita yang berdiri paling belakang.
"Kat depan sane aunti ..", wanita tadi menunjuk barisan yang lebih panjang didepan.
"Terima kasih, .. "
"Pak Pri antriannya dibagian depan", lanjutnya padaku.
Benar teman, aku tidak bohong .. aku tidak tahu mengapa kita harus mengantri, sedangkan pengantri diujung depanpun cuma berdiri tenang, namun kusimpan saja keingin-tahuanku, nanti 'kan tahu sendiri, masak mau semalaman berdiri saja menunggu pagi,
Tak perlu waktu lama, rasa penasaranku terjawab sudah, berselang 5 menit kemudian muncul bis bertuliskan Intra Kota, Green wood-4D. Aku menepuk jidatku sendiri, bis belum datang saja penumpangnya sudah berbaris tertib. Antrian mulai bergerak lambat, bahkan lambat sekali. Kenapa ya ..? Hm .. pokoknya hari pertamaku di Malaysia isinya cuma penasaran saja. Namun .. seperti yang sudah sudah, langsung kudapatkan penyebabnya, Nah .. kenapa antrian calon penumpang berjalan lambat, karena mereka berhenti sejenak untuk membayar karcis dan mengambil karcis dari mesin karcis yang berada disebelah kiri pengemudi bis.
Mesinnya sih nggak otomatis amat, manual malah (menurutku). Bu Tin memasukkan 2 duit Selling (koin 1 ringgit) untuk tambang (ongkos) kami berdua, pengemudi melihat jumlah duit yang masuk (box mesin bagian depan transparan) untuk memastikan jumlah duit yang masuk kedalam mesin, lalu dia menekan tombol warna hijau 2 kali, keluarlah karcis 2 lembar. Untukku dan Bu Tin.
Kami mendapat tempat duduk dideretan ke 3 dari depan sebelah kiri, dideretan sebelah kananku persis bangkunya agak beda, bangkunya memanjang cukup untuk duduk 4 orang menghadap kearah lorong, diatasnya dijendela kaca bis terdapat 2 tulisan, yang pertama : "BAGI ORANG YANG KURANG UPAYA SAHAJA", apa lagi maksud tulisan ini, bingung juga aku dibuatnya untuk menterjemahkannya. Silahkan teman membuat kalimat Indonesianya, aku belum menemukan kata kata yang tepat, tapi aku paham tujuan penulisannya, .. sebab sebelum bis berangkat ada seorang nenek yang sudah agak bungkuk, berjalan tertatih2 dituntun cucunya menduduki bangku yang menghadapku. Pantas .. meskipun bangku itu kosong penumpang terus saja kebelakang walau mereka harus berdiri (penumpang Intra kota juga ada yang berdiri seperti di Jakarta, bedanya, kondisi intra kota sangat layak, memenuhi syarat kenyamanan, keselamatan segabai angkutan umum), sedangkan tulisan yang kedua berbunyi : HATI HATI. RAMAI PENYELUK SAKU, kuperkirakan ini peringatan, bahwa kita harus hati hati dengan adanya pencopet.
Seperti saya katakan diawal penulisan ini, kota Kuala Lumpur sepi dari kendaraan lalu lalang, tetapi bis bergerak dengan kecepatan terukur, mengikuti arahan tulisan didepan kaca bis HAD LAJU 50 KM/JAM.
Sepanjang jalan, mataku tak lepas memandang keluar, kedepan, kesamping kiri, kesamping kanan, mengagumi malam terang di Kuala Lumpur. di Bas Top, pertigaan Jl. Semarang (ya .. Jl. Semarang) bis berhenti agak lama, banyak penumpang naik. Aku melihat lagi keluar, mataku meluncur mengikuti kearah jauh Jl. Semarang .. Nun disana Terpancak gagah seperti Monas, Menara Kuala Lumpur, Tiang persegi 8nya terang disinari lampu sorat dari bawah, sedang diatasnya seperti UFO (dicerita2 komik lho ya) berjendela melingkari tiang menara. Pada masanya, Menara KL dulu merupakan Icon Negara Malaysia sebelum Menara Kembar Petronas (KLCC- Kuala Lumpur City Center) berdiri. Dalam hati aku berkata : tunggu saja, lain waktu aku akan berdiri tepat dibawahmu.
Disisa perjalannku menaiki Intra Kota ini, tak ada hal yang menarik lagi, tapi ada juga bekal 'ilmu' yang saya dapatkan yang berguna bila aku suatu saat nanti pergi sendirian, Atau siapa tahu teman memiliki kesempatan ke Kuala Lumpur, ikuti tip cara meniaki bis (khususnya Intra Kota) di Malaysia dibawah ini.
1. Bis hanya berhenti di Bas Stop, Bas Stand atau Bas Stesen,
2. Pastikan dipemberhentian berikut ada turun, tekan bel yang berada dikap mobil, diatas tempat duduk.
20 meter sebelum pemberhentian.
3. Apabila bis betul2 sudah berhenti dan pintu sudah terbuka, baru kita tinggalkan tempat duduk.
4. Bila kita akan naik, dahulukan penumpang bis yang turun hingga habis.
5. Bayar ongkos perjalanan dimesin karcis yang terletak disamping kiri pengemudi, gunakan uang pas saja, Begitu, .. kalau kita ikuti petunjuk diatas, kita terhindar dari cemoohan orang.
Akhirnya, Intra Kota sampai ditujuannya (disini orang bilang destinasi)
Bas stand sunyi, lampupun tidak begitu terang, tapi tidak juga suram
Kami (para punumpang bis) turun dengan tertib, tenang, tidak terburu-buru. Terkadang pengemudi tersenyum kepada penumpang kadang juga berbicara memberikan ucapan :
"Terime kasih ..", atau
"Sampi jumpe lagi ..", (pengucapan Lnya hampir tak kentara), atau
"Selamat malam .."
Khusus kepadaku (Bu Tin cuma dapat senyuman), si pengemudi berucap : "Selamat Datang di Kuala Lumpur .. "
Mulutku sempat melongo, tapi .. ah peduli amat, karena tas travelku inilah dia mengira aku dari luar kota, atau bahkan dia sememangnya tahu aku baru datang dari Indonesia.
Ha .. a
Sekali lagi Aku tidak peduli.
...
(berikutnya : Naik Kereta Api Komuter)
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete