Memaknai hidup dengan memberi arti untuk hal-hal yang kecil ..... Menjalani hidup dengan apa adanya ..... Mensyukuri dan menikamati kekurangan yang ada

Sunday, January 5, 2014

Executive Coach (Bagian 1)

5 Hari dirumah Konjen Indonesia di Johor.
 
Aku bersama Bu Tin ke Johor Bahru untuk mengantarkan surat ke Bapak Banrun Subardjo (Kepala Konsulat Jendral Johor Bahru). Melewati Jalan Tol (dikenal dengan nama PLUS = Pelaburan Lebuh Raya Utara Selatan) sejauh 350 km lebih, memakan waktu tempuh 4 jam dari Kuala Lumpur kami tiba di Stesen bas Larkin, hari sudah menjelang malam. Dengan menggunakan telpon umum (talipun awam) Bu Tin menghubungi nomor telepon rumah kediaman Bapak Bahrun. Pembicaraan yang singkat dan padat, diakhir pembicaraan kudengar Bu Tin menyebutkan posisi kami saat ini.
 "Kita disuruh menunggu, ada pegawai konsul yang akan menjemput", kata Bu Tin selepas meletakkan gagang telpon.
Aku tertegun .. tak percaya, bagai mana tidak ? Orang nomor satu pemerintah Indonesia di Negara Bagian Johor, Malaysia ini menerima kami serta mengirimkan pegawainya untuk membawa kami dirumah beliau. Padahal Bu Tin sewaktu ditelpon tadi hanya berbicara, bahwa dia baru saja tiba dari Indonesia, dan ingin bertemu dengan bapak Konsul.
Teman .. Aku lebih heran lagi dengan kejadian berikut : Bapak Bahrun menyambut kedatangan kami dipintu masuk rumah besarnya, dengan tersenyum ramah beliau mengulurkan tangan mengajak kami bersalaman, sungguh .. genggaman tangannya erat dan hangat. Kepadaku beliau agak lama menggenggam tanganku sementara tangan kirinya menepuk nepuk bahuku, beliau berkata : Selamat malam, selamat datang diwilayah negaramu (sempat tadi ketika masuk halaman rumah yang sangat luas kulihat Bendera merah putih berkibar ditiang dengan gagahnya), jangan malu, silahkan masuk, tanganku belum dilepaskan beliau menarik saya masuk dan Bu Tin mengikuti kami dibelakang. Kami berdua dibawa keruangan tengah, bukan diruang tamu, diruangan ini kami duduk dikursi besar berukir (mungkin) dari Jepara. Dalam hitungan detik seorang wanita muda membawa 2 cangkir teh dan meletakkan didepanku dan But Tin. Kepada Bapak Konsul dia berkata, makan malamnya sudah tersedia pak ..
"Nah .. sekarang makan dulu, selesai makan baru kesini lagi untuk berbincang bincang",
"Mari bu, pak keruang makan", wanita muda pembawa minuman untuk kami tadi meminta kami untuk mengikutinya.
Kami berdua saja menghadapi hidangan yang disediakan, ada nasi, daging empal, sayur asem, sambal terasi yang tidak dipindahkan dari cobeknya, satu stoples kecil kerupuk dan 2 gelas besar air putih.
"Monggo dipun dahar", Bahasa Jawa kromo (halus) dia pakai untuk mempersilahkah kami menikmati makan malam.
Ditengah kami menikmati makan malam, Bapak Konsul muncul sebentar dan menyuruh kami  jangan malu untuk makan kenyang kenyang dengan menu lauk pauk seadanya.
 ...
Pak Bahrun duduk dihadapan kami, tenang, bersahabat namun tetap nampak wibawanya sebagai kepala Konsul. Postur yang tinggi besar, tidak kekar tapi gagah sekali seperti badan perwira menengah di ABRI kita, padahal beliau bukan orang angkatan, beliau dari sipil. Penampilan yang santai, berbaju kaos putih, dipadu kain sarun motif kotak warna biru bergaris putih, membuat kesegenanku sirna, kami ikut terbawa suasanya yang beliau ciptakan, rileks. Beliau berbasa basi menanyakan kami di Jawa dari daerah mana, tiba di Malaysia kapan, dan akhirnya sampai pada pertanyaan point : apakah ada permasalahan yang dihadapi kami di negara serantau ini, sehingga malam malam ingin bertemu dengan beliau. 
Bu Tin melihatku sekilas.
Aku mengerti, aku mengeluarkan amplop putih dari buku agenda didalam tasku tanpa mengeluarkan buku agenda dari bag travelku. Amplop putih yang kujaga selama 2 bulan semenjak aku meninggalkan kota Pati, hingga sekarang baru kukeluarkan lalu kuserahkan kepada Bapak Konjen Johor.
 "Maaf Pak, .. ada titipan surat dari Pak Nur Sahid, Lahar, ", aku menyebutkan nama pengirim surat dan nama desa asal pengirim surat agar beliau paham siapa pengirim surat yang tertera disampul surat. Dan dugaanku tepat, beliau menerima surat sambil berkata :" Oh dari Dik Sahid tho".
"Iya pak", aku menegaskan.
Sementara beliau membaca.
Aku dan Bu Tin diam.
Pikiranku tak karuan, aku takut akan reaksi beliau begitu beliau selesai membaca surat yang kubawa, aku takut dimarahi atau paling tidak beliau berubah antipati terhadapaku, karena isi surat tersebut menurut perkiraanku adalah masalah pekerjaan yang dimintakan Pak Nur Sahid kepada beliau untukku.
Hatiku deg degan.
Pak Bahrun melipat surat dan memasukkan kembali kedalam amplop, kemudian dia letakkan diatas meja, beliau tersenyum padaku, aku kembali tenang.
"Sudah lama mengajar di SMEA ?", tanyanya tetap dengan senyum simpatiknya, hatiku semakin tenang.
"Sudah lama pak, 11 tahun", dengan wajah menunduk.
"Kerja diradio juga sudah lama?"
"Mulai tahun '90 dan keluar tahun '97 bersamaan dengan keluarnya saya dari SMEA", jelasku agak panjang.
"Dua pekerjaan yang bagus, kenapa ditinggalkan, apa kurang penghasilannya dan memilih masuk Malaysia", beliau berhenti sejenak, setelah menarik nafas panjang beliau malanjutkan :"Kalau bekerja di kantor Pak Bahrun, tentu saja kalau dipaksakan bisa, tapi masalahnya gajinya tak lebih bagus dari dua penghasilan yang Pak Pri peroleh dari dua tempat Pak Pri Kerja dulu sewaktu di ... (agak lama terdiam,  mungkin mengingat ingat) Pati .. atau (Pak Bahrun hati hati sekali untuk meneruskan bicaranya) Bu .. bu siapa namanya?".
"Bu Tin .. ", jawabku.
"Ya .. hm .. atau Bu Tin .. punya rencana memberi pekerjaan untuk Pak Pri", matanya memandang agak menyelidik kearah Bu Tin, yang dipandang tentu saja gelagepan, kaget tak menduga mendapat pertanyaan seperti menyudutkan. Pertanyaan yang diajukan Pak Bahrun kepada Bu Tin jelas mengisyaratkan, bahwa beliau menduga Bu Tin seorang Tekong. (Sebelumnya Bu Tin berpesan kepadaku, bahkan sebelum keberangkatan kami meninggalkan kota Pati, supaya tidak mengatakan kepada siapapun bahwa dia adalah tekong TKI, pekerjaan tekong sangat riskan, kalau ketahuan bisa berurusan dengan pihak kepolisian baik polisi Indonesia atau Polis Diraja Malaysia).
"Begini saja Pak Pri", Beliau mencairkan keadaan, "2 hari lagi Irjen Depnaker datang kesini, untuk melepas kapal TNI AL yang mengangkut pulang ke Indonesia TKI yang terkena deportasi karena tak memiliki dokumen ketenakerjaan lengkap, nah nanti Pak Bahrun akan berbicara dengannya tentang masalah ini, Pak Pri tinggal saja disini, sampai selesai urusan".
"Nah Bu Tin .. sementara bermalam disini, besok pagi hari baru berangkat ke KL, hari sudah larut bisa jadi tak ada bis yang berangkat". Kalimat terakhir dari beliau ditujukan kepada Bu Tin bernada sangat tegas penuh wibawa, jelas beliau  merasa yakin wanita yang duduk didepannya seorang tekong, pembawa orang untuk diperkerjakan secara ilegal di Malaysia. Aku memandang Bu Tin, perasaanku tak enak mendengar ucapan Pak Bahrun yang menohoknya. Seperti yang sudah kuceritakan diawal kisah perjalanan ini, sosok Bu Tin adalah wanita sarat pengalaman, lama menekuni dunia pertekongan, pastilah ucapan sesinis apapun pernah dia terima (lain kali aku ceritakan keuletan Bu Tin membebaskan menantunya yang terkena kasus berat , pemalsuan dokumen paspor dan permit kerja). Kebetulan juga Bu Tin melihat kearahku, tersenyum memaklumi. Aku sedikit lega, karena dengan senyuman itu aku masih bisa mengharap bantuannya di Negara orang ini, aku tidak begitu terlalu berharap akan bisa bekerja dengan perantaraan Pak Bahrun.
...
Malam ini kami tidur diluar rumah induk, di paviliun, aku menempati paviliun sebelah kanan, Bu Tin sebelah kiri berdekatan gardu sekuriti yang berjaga secara shift selama 24 jam. Sebelum tidur aku mengunjungi bangunan kecil yang ditempati Bu Tin dan duduk diteras bersamanya.
"Jam berapa besok Bu Tin berangkat .. ?", aku bertanya, rupanya pengantarku ini akan berangkat ke Kuala Lumpur esok hari, anak dan anak menantunya sudah telpon, Bu Tin diminta untuk segera datang, pengurus pembuat paspor tembakan untuk kepulangan anak perempuannya  ke Indonesia sudah menunggunya.
"Jam 7, sebelum Pak Konsul berangkat ke kantor jadi ibu sempat berpamitan", kata beliau lalu berdiri dan masuk kedalam paviliun, sambil berkata : "Tunggu sebentar". Tak berapa lama beliau keluar lagi dan kembali duduk.
"Masih ingat 'kan jalan pulang ke Green Wood?",
"Masih "
"Ini uang Rm.40,00 ibu kasih untuk Pak Pri untuk pegangan Pak Pri selama disini dan  ongkos pulang ke KL kalau Pak Pri enggak dapat pekerjaan disini, menantu ibu, kemungkinan seminggu lagi mulai bekerja, jadi Pak Pri bisa ikut kerja, jangan lupa untuk telpon kalau ada apa apa", kuterima uang yang disodorkan padaku, kulipat dengan hati hati , tak ingin uang ringgit pertamaku ini terkoyak atau terlipat tak beraturan, lalu dengan gaya lucu kucium lipatan uang pemberian Bu Tin ini sambil melirik jenaka kearahnya, Bu Tertawa senang melihat kecerianku,  "Sudah ah .. , masukkan uang itu kekantongmu .. Sana kembali ketempatmu", Bu Tin memonyongkan mulutnya kearah paviliun tempatku tidur,  aku nurut, .. kumasukkan 4 lembar uang ringgit kesaku bajuku ... juga dengan sangat hati hati. Perlahan aku beranjak, berdiri, melangkah pergi meninggalkan Bu Tin duduk sendiri.
...
Gethuk Lindri, Gethuk Goreng dan Sambas

Aku sedang duduk membaca dimeja kamarku, ketika pintu kamar diketuk lembut dari luar.
"Pak Pri .., 'dah bangun belum?", suara Bu Tin.
Tanpa menjawab aku memutar handle pintu dan keluar mengambil tempat duduk terpisah meja kayu menyebelahi kursi yang diduduki Bu Tin. Kami belum sempat bercakap, Pak Bahrun keluar dari rumah induk menjumpai kami, aku segera berdiri, maksudku mempersilahkan beliau untuk menduduki kursiku. Hanya ada 2 kursi diteras paviliun. Tapi beliu melarangku berdiri, aku kembali menduduki kursiku.
Beliau tersenyum.
"Gimana tidurnya tadi malam ? Nyenyak ..?"
Sebelum kami menjawab Pak Bahrun meneruskan bicaranya :"3 hari lagi ada 1100 warga negara kita akan dijemput pulang menggunakan kapal TNI AL, jadi kami sangat sibuk belakangan ini, Pak Pri tinggal saja disini sampai selesai masalah pekerjaannya .. hm .. mudah mudahan dengan bantuan Pak Irjen pak Pri tidak lama lama menganggur".
Berhenti sejenak lalu memandang Bu Tin.
"Ibu sepertinya sudah bersiap ke Kuala Lumpur?"
"Benar .. saya mohon pamit sekarang juga"
"Baiklah, minum dan nikmati dulu kue yang sudah disediakan, sambil menunggu taksi yang akan menjemput".
Pak Bahrun menuju pos penjagaan dan berbicara pada sekuriti.
Lalu kembali menemui kami.
"Taksi akan datang. Hati hati diperjalanan bu. Selamat jalan".
Bu Tin berdiri dan menyalami Pak Bahrun.
Disebelah kami telah berdiri sekuriti, menawarkan diri untuk membawa tas besar yang berada diatas kursi teras paviliun tempat Bu Tin bermalam.
Aku berjalan dibelakang Bu Tin yang seiring dengan sekuriti. Sebelum kami melewati pintu gerbang yang terbuka secara otomatis taksi yang dipanggilpun tiba.
"Ke terminal bis Larkin", sekuriti berbicara pada sopir taksi.
Aku menyalami Bu Tin.
"Jangan lupa telpon", Bu Tin mengingatkan, aku mengangguk. Taksipun melesat meninggalkan aku dan sekuriti.
...
Sepeninggal Bu Tin aku kembali duduk diteras paviliun, membaca koran kemarin yang diberikan sekuriti. Membaca (News) paper Utusan aku harus mengulangi setiap kalimat yang kubaca, banyak kosa kata yang belum kutahu. Untungnya Bahasa Malaysia memiliki akar yang sama dengan Bahasa Indonesia, yakni Bahasa Melayu, jadi .. kesulitan untuk memahami tulisan dikoran setempat tidaklah begitu berarti, karena boleh dikata 90% masih mirip dengan Bahasa Indonesia. Namun ada juga kalimat yang mirip bahasa kita, tapi memiliki arti yang berbeda, seperti kalimat berikut : Semalam pukul 13.00 terjadi kemalangan di Lot 10 ... dst ...atau : Nasib baik motosikal boleh pusing balik, sehingga ... dst ... atau : Korban meninggal karena lemas di Sungai Gombak ... dst.
Aku membuka halaman demi halaman paper terbitan setempat mencari berita dari Indonesia, kudapat .. catatan perjalanan seorang budayawan populer Malaysia (Drs. M. Nasir, pencipta lagu Andalusia) dari Jakarta menuju Yogyakarta. Isinya tidak begitu bagus, bahkan terkesan mengolok, hal ini nampak pada uraian singkat akan istilah yang dipakai, seperti bis malam, AC executive,  kaca spion, juga tertulis betapa terganggunya sang penulis, karena semalaman pengemudi memutar lagu dangdut dengan keras, belum lagi disetiap berhentinya, bis diserbu penjual asongan dengan teriakannya, masih ditambah lagi pengamen yang dengan percaya diri bernyanyi dibagian depan didalam bis dengan tatapan tak sedap para penumpang. Membaca tulisan ini agak jengkel juga aku, walaupun memang begitu keadaannya.
Tiba tiba seseorang menyapa dengan mengucapkan salam sambil mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri :"Sugiyanto .."
"Priyo Hartono, biasa dipanggil Pak Pri", aku menyambut tangannya dengan hangat.
Sugiyanto duduk disebelahku.
"Kami akan kedatangan tamu penting besok, sejak 3 hari yang lalu kami dibikin sibuk mempersiapkan penyambutan mereka, untunglah segalanya sudah beres, ada sih sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan, itupun kami perkirakan malam nanti selesai".
"Kalau memang bisa saya kerjakan, saya akann senang sekali ikut menyelesai pekerjaan itu", kataku menawarkan diri :"biar enggak bengong sendirian", lanjutku sambil tersenyum.
...
Meja makan berukuran besar dari kayu inilah yang akan kami hias dengan penutup kain renda. Pertama kali meja ditutup kain renda warna putih, lalu dilapis plastik agak tebal transparan. Ditepi meja digantungkan kain renda warna cream, .. yang bikin lama pekerjaan, menggantungkannya dengan diwiru, harus sabar, teliti dan tekun. Entah karena tidak bisa atau karena kesibukan lain, orang yang membantu menghilang saru persatu, akhirnya aku yang bertahan dan menyelesaikan. Semua puas akan hasil kerjaku, mereka bilang biasanya yang mewiru itu ibu konsul (saat aku dirumah konsul, ibu konsul sedang berobat di AS, diatar anak laki-lakinya).
Ada  5 orang berada didalam rumah bekerja mempersiapkan untuk keperluan besok, mereka bukan dari luar rumah kecuali lelaki tua pemotong rumput. Mereka memiliki kisah yang unik dan menarik hingga mereka bisa sampai dirumah ini.
...
Sunarsih, wanita mungil berkulit kuning, rambut berombak agak kemerahan, pembawaannya ceria, berasal dari Magelang, Jawa Tengah (biasa dipanggil Indri, diambil dari nama makanan khas daerahnya yang memang terkenal .. Gethuk Lindri, kue yang terbuat dari ubi kayu dan dimakan dengan parutan kelapa). Menurut cerita Indri yang lulusan SMA, dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji Rm.400,00 perbulan, gajinya memang besar, tapi jam kerja yang diluar batas kemanusiaan membuatnya tidak betah. Akhirnya dia melarikan diri tanpa bekal dokumen kerja yang dia miliki.Aku salut akan keberanian Sunarsih, tanpa mengalami kesulitan berarti dia sampai di Gedung besar berbendera merah putih ini. 
"Kenapa permitnya tidak dibawa?", tanyaku heran, karena permit merupakan ijin tinggal untuk bekerja di Malaysia.
"Gimana mau dibawa, lha wong ditahan sama juragan".
...

Lain Sunarsih lain lagi cerita Maryati, Wanita muda tinggi semampai berambut panjang diikat karet gelang, agak pendiam, berbicara kalau ditanya dan jarang ketawa, senyumnyapun mahal,  keibuan, terkesan wanita lulusan SMEA amat sederhana. Jiji (huruf G, dibaca lafas Inggris, GG singkatan dari kata Gethuk Goreng, jajanan populer dari Sukaraja, Banyumas, Jawa Tengah tempat asal Maryati) menuturkan, dia sempat pindah kerja dibeberapa tempat, terakhir dalam keadaan  sakit dia dipaksa untuk ikut kepasar berbelanja, lalu ditinggal tuannya. Jiji saat itu sudah tak mampu untuk berdiri, dia tergolek ditengah pekan awam (mirip pasar tradisional di Indonesia). Untunglah pembeli dan penjual dipasar kebanyakan warga Malaysia keturunan Indonesia Jawa. Seorang wanita paruh baya menyibak orang yang mengerumuninya, lalu memangku kepala Jiji diharibaanya :"Dimana kamu tinggal nak ?"
Bersusah payah Jiji membuka mulutnya dan terpatah patah menyebut kata :  In .. do .. ne .. sia, lalu pinsan.  
Ketika sadar, Jiji berada dikamar luas dan bersih. Seorang wanita mungil dengan tersenyum mendapingi serta mengurut urut lengannya.
"mBak sudah aman, mbak anda di rumah Konsul Indonesia".
Jiji memaksa untuk tersenyum.
"mBak istirahat dulu. Kalau perlu apa-apa, bilang saja sama saya, Sunarsih".
...
Nama aslinya Nurdiana, teman teman serumah kompak memanggilnya Sambas (Nama daerah di Pulau Kalimatan, tempat asalnya). Suka bercelana panjang, rambut agak pendek, agak galak, kalau ngomong ketus, terkadang lucu, tapi dia merasa tidak sedang melucu, itu sebabnya sering jadi  bahan lelucon kawan kawannya. Sama halnya Indri dan Jiji, Sambas juga mengalami nasib naas, karena dia harus bekerja ditengah perkebunan kelapa sawit, tugasnya bersama 4 teman wanitanya memasak untuk puluhan buruh. Tugasnya ini membuat hampir tak bisa melihat matahari setiap hari. Sambas hanya memasak dan memasak, tak pernah beranjak dari dapur. Mereka selalu diancam bila kedapatan mau melarikan diri akan disiksa, dan (kata mandor untuk menakut-nakuti) yang lebih celaka belum sampai keluar hutan kelapa sawit nyawa melayang karena dibaham harimau.
9 bulan bekerja Sambas belum pernah digaji. Dia berencana mau melarikan diri, sendirian. Dia merancang sendiri pelariannya, dia takut temannya tak bisa pegang rahasia.
Saat yang dinantikanpun tiba.
Menjelang waktu sembayang maghrib, para buruh bersiap untuk melaksanakan sholat, dan para mandor berkumpul diteras rumah depan. Biasanya menjelang malam itulah truk pengangkut hasil perkebunan berangkat ke pabrik. Rencana Sambas dia akan naik truk dipintu belakang bak truk dengan cara menggandul. Ketika mesin truk berbunyi Sambas sudah menanti sekitar 30 meter jauhnya dari rumah. Truk melintas pelan didepannya, Sambas keluar dari persembunyiannya, lalu berlari kencang memburu truk, dia meloncat dan hap .. Sambas berhasil memegang pintu bak truk, dengan kekuatan penuh lengannya menarik badannya dibantu hentakan kakinya menginjak tanah, dalam hitungan detik kakinnya sudah berada dipalang rangka bak.
Sambas selalu menoleh kebelakang, dia tak ingin pelariannya cepat diketahui. Sambas akan merasa aman bila truk sudah berada dijalan beraspal, keinginannya terkabul, wanita nekad ini bisa bernafas lega 10 menit kemudian truk sudah melaju kencang dijalan raya. Ternyata rencananya menuju kantor polisi cepat terkabul, karena truk dihentikan polisi untuk diperiksa, setelah memeriksa surat seorang polisi berjalan kebelakang untuk memeriksa muatan, tentu saja pak polisi terkejut melihat sosok wanita menggantung dipintu bak belakang mobil.
"Hei .. apa awak buat ni ..?"
Masih menggantung Sambas menghiba :" Tolong saya pak polisi, saya orang Indonesia, saya mau pulang ke Indonesia".
(Dari cerita teman -teman penulis dan penulis sendiri mengalami, tidak sedikit polisi Malaysia yang masih memiliki rasa kasihan terhadap pendatang haram dari Indonesia. Bahkan mereka tak segan untuk menolong agar TKI ilegal yang dia dapat, justru dia selamatkan agar tidak ikut terbawa saat kena rasia).
"Cepat turun, menyorok dilongkang", Polis menyuruh sambas menyuruh sembunyi digot ditepi jalan :"tunggu disitu, nanti saya ambil".
Sambas menurut, dan dia mau menunggu hingga pak polisi mengambilnya, selanjutnya terserah pak polisi, mau dibawa kepenjara untuk dibuang kenegaranyapun Sambas pasrah.
Singkat cerita Sambas diantar kereta sapu menuju konsul Indonesia, atas kebaikan polisi Malaysia yang
 berhati nurani.
...
Berikutnya :
Executive Coach (Bagian 2)







1 comment: