Rabu, 06 Mei 1998
Seperti biasa, hari ini aku bangun subuh, yang tidak biasa .. selesai sholat aku akan membaca majalah, tapi pagi ini aku sudah sibuk membantu mengerjakan acara jamuan makan untuk tamu Bp. Konsul yang berlangsung sekitar jam 11.00 waktu Malaysia. Karena acaranya jamuan makan ya kerjaannya tentu saja berurusan dengan dapur, meskipun ada 3 wanita yang memang sudah ahli memasak, toh tenagaku masih juga bermanfaat, namanya juga membantu (apa lagi laki laki) tentu saja aku bagian yang disuruh suruh, disuruh ambil ini, bawa itu, iriskan ini, potongkan itu. Sementaraa Sugiyanto dan Pak Cik Pemotong rumput menyiapkan dan menata meja kursi. Sesekali Pak Konsul datang kedapur untuk melihat kesiapan pekerjaan kami.
Akhirnya, sebelum tamu berdatangan kami sudah menyelesaikan beban tanggung jawab kami. Semua sudah tertata rapi, meja makan yang penuh makanan (semuanya bercita rasa Indonesia), pecel, tahu dan tempe goreng, cha kangkung, kerupuk, ada juga ikan gurame sebesar bayi, entah dimasak apa yang kutahu masakan gurami itu berwarna kuning dengan bumbu yang diiris. Sudah disiapkan juga disetiap kursi dimeja makan ada piring tertelungkup, disebelah kanannya, sendok dan garpu beralas lap tangan berdapingan mangkok tempta cuci tangan, dikirinya gelas tinggi berisi air putih. Ditengah meja diletakkan juga 3 tempat lilin. Lilin dinyalakan bila tamu sudah datang.
...Selesai acara makan siang, beramah tamah sebentar lalu bubar.
Saat dihalaman rumah, melalui Sugiyanto aku dipanggil menghadap Bp. Konsul yang sedang bercakap dengan Irjen Depnaker.
Aku mendekati mereka.
Bapak Bahrun (orang yang sangat kukagumi) berbicara :"Ini 'temannya teman' saya, dulu guru dan ingin bekerja disini, dokumen yang dia miliki cuma pasport dengan visa kunjungan .. "
Orang yang diajak berbicara langsung memotong kalimat Pak Bahrun dan berbicara padaku :"Anda ini seorang guru, apa kurang enak pekerjaan anda itu. TKI itu menurut anda itu enak ya, apalagi kalau cuma berbekal visa kunjungan. Tahu tidak, berapa banyak uang dikeluarkan pemerintah untuk ngurusi TKI ilegal yang dideportasi"; Tentu saja aku kaget mendapat semprotan beliau, ini diluar dugaanku, menjumpai beliau dan langsung mendapat amarah.
Bapak Konsul segera menengahi.
"Begini saja pak, ada PT. Mulia di Jakarta yang mengurusi pemberangkatan tenaga kerja keluar negeri, mungkin dengan rekomendasi dari Bapak, PT. Mulia bisa menerbitkan permit kerja untuk Pak Pri secepatnya, dan sementara ini biarlah Pak Pri tinggal disini sampai permitnya jadi".
"Begitupun bisa, paspor anda foto copy 2 lembar, nanti saya bawa ke Indonesia", begitu katanya padaku.
"Suruh Sugiyanto memfoto copy di kantor Pak Pri".Aku mengangguk dan meninggalkan mereka, tapi masih kudengar tamu Bp. Konsul ini bertanya.
"Dari mana orang itu .. ?"
Sakit sekali hatiku mendengar pertanyaan itu, benar benar (menurutku) dipelupuk matanya aku ini makhluk selain manusia yang tidak punya perasaan. Sudah jelas aku pemakai pasport Indonesia, eh .. masih ditanya lagi dari mana, memangnya mukaku kaya alien dari planet diruang angkasa sana. Kalau saja bukan karena menghormati Bp. Konsul, tentu aku tidak akan muncul lagi membawa foto copyan yang dimintanya. Apa lagi aku merasa yakin .. seyakin yakinnya berkasku yang dimintanya sudah dilupakannya ketika beliau meninggalkan rumah konsul.
...
Rumah konsul sepi, padahal 5 menit yang lalu hiruk pikuk puluhan tetamu memenuhi ruangan rumah. Halaman rumah yang tapi penuh mobil juga lengang, tinggal sepeda motor matic milik Sugiyanto sendirian parkir disebelah pos scurity yang kosong (Security, berdarah Jawa asal Pacitan sedang didalam ruangan dapur, mungkin makan siang).
"Pak Pri ... Yok ke pelabuhan, lihat upacara pemulangan TKI", Sugiyanto mengajakku, aku mengangguk tanda setuju. Kemauanku mengikuti ajakannya bukan karena ingin melihat upacara, tapi aku ingin memposkan surat yang sudah 2 hari lalu kutulis untuk istri dan 3 anakku.
Sugiyanto mendorong motornya keluar pintu gerbang yang sudah dibuka dengan menggunakan remot yang ada diruangan pos jaga. Dalam pikiranku pintu gerbang ini akan tertutup sendiri setelah sekian menit. Nyatanya tidak begitu.
"Pak Pri tunggu dulu sebentar, saya tutup pintu dulu",Sugiyanto kembali masuk.
Lho ... kalau ditutup lagi terus gimana keluarnya dia.
Diruangan pos jaga kulihat Sugiyanto menekan remot diarahkan kepintu pagar.
Pintu pagar bergerak menutup. Saat itulah Sugiyanto berlari kencang sejauh 10 meter. Dia harus sudah berada diluar pagar sebelum pintu tertutup habis. Ha .. ha .. aku tertawa mentertawai ketololanku, bagaimanapun canggihnya teknologi, akal manual manusia tetap harus digunakan, karena mesin (computer sekalipun) tetap tidak bisa mengerti keinginan manusia.
...
Dipelabuhan, terlihat upacara serah terima 1.100 TKI ilegal yang dipulangkan dengan menggunakan kapal milik TNI AL. Berita acara penyerahan terakhir diterima Kapten kapal menandakan berakhirnya acara seremorial. Kapten kapal menyalami wakil pejabat berwenang dari Negara Malaysia, Pak Bahrun, Lalu Bapak Irjen Depnaker. Kemudian dengan langkah tegap dengan diiringi 2 orang prajurit AL, beliau memasuki kapal. Tak berapa lama sauh terangkat naik, kapal bergerak meninggalkan pelabuhan diiringi lambaian tangan peserta upacara dan dibalas beberapa prajurit TNI AL yang berada dihaluan dan buritan kapal.
Aku dan Sugiyanto pergi meninggalkan pelabuhan. "Ke Air Port dulu Pak Pri, ada teman pulang ke Indonesia".
Dari pelabuhan menuju Bandara, mataku tak berkedip mengagumi Kota Johor Bahru. Sugiyanto pun menjadi pemandu wisata yang baik. Sambil memegang stang motor maticnya mulutnya tak berhenti untuk menjelaskan sesuatu yang menurut dia perlu saya ketahui, akhirnya dia berkata :"Nah, kita 'dah memasuki komplek bandara".
Waktu perjumpaan yang sangat singkat karena 5 menit berikutnya teman Sugiyanto harus Check in dan mengambil Boarding Pass. Kamipun meluncur ke Wisma Konsul Indonsia, sebelumnya kami singgah di Post Office, untuk membeli stamp dan memasukkan surat di mail box.
"Pak Pri, malam nanti keluar, jalan jalan".Aku tersenyum gembira mengiyakan ajakkannya.
...
Malam terang benderang oleh cahaya lampu jalan. Kami, aku dan Sugiyanto duduk menghadap Selat Johor yang memisahkan Pulau Singapura dirumah makan tanpa atap, ditrotor selebar 4 m (bisa jadi ini bukan trotoar, tapi halaman dari bangunan ruko dibelakangnya, karena siang tadi waktu aku lewat, meja dan kursi belum ada, masih hamparan luas tempat lalu lalang pejalan kaki).
Dari kursi tempat saya duduk Singapura nampak gemerlap bermandikan cahaya. Sambil menikmati Tom Yam (padahal rumah makannya bertuliskan Kedai Makan Thailand, sea food) masakan khas Negeri Gajah Putih, berupa sayur mayur berkuah dicampur potongan kecil ayam. Enak sekali rasanya, dan belakangan masakan ini jadi gemaranku ketika harus makan diluar rumah selama di Malaysia. Aku dan Sugiyanto asyik bercerita, mataku tak lepas dari pulau diseberang selat yang dibentangi jembatan lebar. Angin dingin laut bertiup lembut, sementara gemercik air dipantai diseberang jalan terdengar pelan ditelingaku. Kebetulan pelayan rumah makan TKI dari Jawa, jadi terkadang dia ikut nimbrung dengan celutukannya yang lucu. Tak kurasakan aku ada dinegara orang, ya .. karena kami menggunakan Bahasa Jawa dengan keakraban khas perantau Jawa.
Belum puas rasanya aku memandangi Negara Singapura dari Negara Malaysia, Sugiyanto mengajakku berkeling kota Johor Bahru, melihat 2 istana kesultanan Johor dan Masjid Raya Johor Bahru, ketiga bangunan yang sangat megah, aku berdecak kagum dibuatnya.
...Jum'at, 08 Mei 1998.
Aku menunggu bis yang akan membawaku ke Kuala Lumpur ditemani Sugiyanto. Dari tiket yang kupegang, jadwal keberangkatan kurang 10 menit lagi. sempat kutanyakan kenapa harga yang tercantum ditiket begitu mahal Rp. 45.00, padahal waktu aku berangkat diantar Bu Tin tiket cuma Rp.12.00, mendapat pertanyaan demikian Sugiyanto cuma tersenyum. Senyuman dari seorang pemuda yang begitu baik hati meskipun kebersamaan kami cuma terhitung 4 hari, itupun tidak selalu bersama, kebanyakan diwaktu kami bersama mulai jam 3 sore sampai jam 9 malam.
Tanpa kusadari aku merenung (Sugiyanto saat itu lagi menelpon lewat telpon seluler-talipun bimbit). ....
Selesai mandi dan ganti baju yang terbaik, aku menghadap Bp. Konsul untuk berpamitan akn berangkat ke Kuala Lumpur. Beliau tidak terkejut, mungkin Sugiyanto sudah bercerita kalau aku mau ke KL dulu, masalah permit kerja juga sudah kuutarakan, kalau memang permitku jadi, tolong disimpan dulu, akan saya ambil. saya berjanji satu bulan lagi akan menelpon untuk menanyakan permit itu.
Pak Bahrun menyalamiku
"Pandai pandailah membawa diri dinegara orang, ingat peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kalau ada permasalah jangan ragu untuk memberi tahu Bapak, ini untuk pegangan Pak Pri, jangan dilihat nilai uangnya, tapi gunakan saat memang perlu untuk digunakan".
Aku menerima uang yang diberikannya, tipis sih .. tapi kalau ditukar kemata uang rupiah mungkin jadi tebal.
"Tidak usah beli tiket, nanti Sugiyanto yang membelikan"."Terima kasih Pak, saya mohon pamit".
Pak Bahrun menepuk nepuk bahuku.
Tulus.
Jujur, aku sangat terharu.
...
"Hei .. ngelamun .. itu bisnya Pak Pri datang", Sugiyanto menyadarkan aku dari melamun.
"Pak Pri, ini kartu nama saya, telepon saya kalau ada sesuatu hal, jangan lupa kalau ke JB (Johor Bahru) singgah dan ini sedikit dari saya, jangan ditolak, tidak banyak memang siapa tahu bermanfaat".
Kuterima kartu nama dan sejumlah uang ringgit.Kusalami dan kupeluk keponakannya Pak Bahrun ini.
"Selamat Tinggal, semoga kita bisa jumpa lagi".
Kujinjing tasku, aku berjalan dan menaiki bis. Aku duduk dibelakang pengemudi bis, hanya satu kursi duduk, disebelah kirikupun cuma satu bangku yang sudah diduduki wanita China tua. Oh .. inikah yang membuat harga tiket begitu mahal. Tak cuma itu, disebelah kananku tergantung head phone besar yang sudah terkonek disandaran tangan yang terdapat tombol digital untuk memilih tape atau radio dan tuis pencari signal radio. Masih ada lagi, setelah bis memasuki jalan bebas hambatan, seorang wanita muda cantik berseragam batik biru mudan dikombinasikan dengan celana biru tua (sama dengan seragam yang dipakai pengemudi, sesuai juga dengan warna bis yang dominan biru), dengan tersenyum dia menawarkan aku untuk memilih minum teh atau kopi, aku memilih teh. Tak berapa lama dia membawa nampan berisi teh, susu kotak kecil, satu gelas kecil berisi gula dan sepotong roti kering lalu meletakknya dimeja yang bisa dilipat disandaran kursi tangan.
"Silahkan dinikmati". katanya.Aku menikmatinya memang, teh kucampur gula dan sedikit susu, roti tak kusentuh, aku tak begitu suka makan roti, jenis/rasa apapun.
Setengah jam kemudian, perempuan tadi memberesi meja dan melipatnya semula dan berkata :"Selamat beristirahat sambil mendengarkan musik dari kami, atau encik bisa memutar radio".
Begitu hebatnya service dari armada bis ini. Diantara kantuk yang mulai menyerang, kulihat pramugari (?) itu menyetel sandaran kursi dan sandaran kaki yang diduduki perempuan tua disebelah kiriku yang tertidur nyenyak.
...
Sampai di Kuala Lumpur, bis tak memasuki terminal Pudu Raya, karena mengikut arahan, didalam terminal bis penuh. Sekali lagi perempuan berseragam biru itu menunjukkan keramahannya. Dia ambilkan Tasku dibagasi atas seperti juga waktu naik, dia yang meletakkannya (bukannya aku tidak tahu tapi memang tasku dimintanya ketika aku memasuki bis)
"Selamat tiba KL, sampai jumpa lagi dan terima kasih".
Patutlah harga tiketnya mahal, sesuai dengan apa yang penumpang peroleh selama perjalanan, kenyamanan serta service yang boleh dikata berlebihan. Pokoknya memanusiakan manusialah.
Aku turun dari bis, sebelum pergi aku ingin membaca armada apa yang membawaku, siapa tahu aku masih berkesempatan menaikinya lagi.
Karena takut lupa sambil berjalan aku tulis nama bis itu dibuku agendaku EXECUTIVE COACH (diterjemahkan kebahasa setempat Bas Pesiaran Mewah).
...(Berikutnya : Gedung Informasi)
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete