Memaknai hidup dengan memberi arti untuk hal-hal yang kecil ..... Menjalani hidup dengan apa adanya ..... Mensyukuri dan menikamati kekurangan yang ada

Friday, March 7, 2014

Gombak Base Camp 1

Bangunan rumah sewa dua pintu tempat kami tinggal berdiri diantara rapatnya rumah penduduk, hutan lebat dibelakang rumah dan semak belukar disamping kanan. Rumah kami dan disekitar kami tanpa pagar, menghadap kesatu arah, kehalaman luas yang ditumbuhi beberapa pohon rambutan besar berdaun rimbun, biasanya, pada malam hari halaman rumah menjadi tempat parkir mobil pemilik rumah. Tidak semua pemilik rumah kami kenal kenal akrab, paling kalau berpapasan saja kami saling menyapa, belum pernah berlama lama berbicara apalagi duduk semeja bercerita ngalor ngidul. Dari sekian puluh keluarga disatu komplek di Kp. Changkat, Gombak, Federal Territory of Kuala Lumpur ini hanya ada 4 keluarga yang kami kenal dekat, disamping mereka berasal dari Indonesia, mereka juga bersangkut paut dengan pekerjaan dan keberadaan kami sebagai pendatang haram, pekerja ilegal yang cuma berbekal dokumen berupa paspor dengan visa kunjungan, itupun sudah lama habis masa ijin tinggalnya.
Bang Zaim, selisih tiga rumah dari rumah kami, muda, gagah, enerjik, pekerja keras. Pemborong bangunan yang selalu kebanjiran order, darinyalah kami tidak pernah berhenti bekerja, tak jarang karena padatnya orderan, kami dipercaya untuk ngeshuf borongannya. Tidak hanya dengan beliau, kamipun sangat akrab dengan keluarganya. Bang Zam hidup satu rumah dengan ibunya, dua adiknya, istri dan satu putrinya, Fauziah yang comel. Ibunya selau meminta Bang Zam, kalau memberi gaji, kami diminta datang kerumahnya. Ibu berusia 60 tahun ini akan menemani kami (meskipun urusan penerimaan gaji telah selesai), dan melepas kerinduannya akan Pulau Jawa (yang hanya dia kenal lewat cerita orang tuanya), dengan mengajak kami berbicara menggunakan bahasa ibunya, Bahasa Jawa. Terkadang disela kami seronok bersembang, air matanya menetes, tersirat keinginannya, diusia tuanya ingin mengunjungi tanah leluhurnya.
Encik Mahmud, tinggal disebelah kanan rumah kami, hamparan semak belukar mengantarainya. Pria paruh baya berasal dari Padang, beristrikan wanita mungil asal Thayland ini bekerja serabutan, apa saja pekerjaan dia sanggupi, bukan sekali dua kali saja dia minta bantuan kami karena tak memiliki keahlian untuk mengerjakannya. Dan kami dengan senang hati akan menolongnya, ya .. benar benar menolong karena kami harus cuti beberapa hari dari pekerjaan kami untuk membantunya menyelesaikan pekerjaannya, dengan resiko kami akan dimarahi kepala kerja atau kerani kami. Kami merasa iba pada Encik Mahmud, dia sendirian terseok seok mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, Akak Rahima, istrinya, tidak memiliki sembarang dokumen, sehingga dia tak ada keberanian untuk bekerja keluar rumah. Sementara Along (panggilan untuk anak pertama - anak sulong), tidak pula memiliki akta kelahiran, dia tidak dapat meneruskan pendidikannya, selepas sekolah darjah (setingkat SD), dia mengisi kegiatan hariannya dengan menjadi pengajar tulisan jawi (Arab Melayu), disekolah sore dikampung ini, sisa waktunya dipergunakan untuk menjaga 6 adiknya.
Nama lengkapnya Sutan Nuridi, tinggal satu gedung dengan kami beda pintu, Suami istri asal padang ini berniaga kue. Mobil van yang dia modifikasi sedemikian rupa sehingga seperti toko kue berjalan, sebelum matahari terbit Pak Padang (begitu biasa kami memanggilnya, dan dia nampak suka dengan panggilan itu) bersama mobilnya sudah meninggalkan komplek rumah tinggal Kp. Changkat. Agak pendiam, dan jarang tersenyum. Kami sangat berhutang budi pada beliau, dialah benteng keselamatan kami, bila kami terkena masalah baik diluar kampung, maupun didalam kampung dia akan ringan tangan membantu kami, meskipun cara yang dipakai untuk menolong kami tergolong 'aneh'. Pernah kami didatangi 2 polis sekitar jam sembilan malam, karena ada warga yang komplain kami bermain gitar terlalu malam, mereka merasa terganggu. Kebetulan Pak Padang masih duduk diteras rumahnya. Dengan sigap dia bergegas kearah kami yang mulai ketakutan. Sebelum polis sempat bertanya. Pak Padang marah dan membanting gitar kami hingga berhamburan.
"Sekali lagi awak buat bising, bukan setakat gitar yang pecah, awak semua kubagi tumbuk satu persatu", sambil matanya melotot, dan mengarahkan kepalannya kepada kami.
Kedua polis tak jadi menanyai  kami, malah sibuk menenangkan Pak Padang yang panas baran, nampak garang sekali.
"Aku 'dah cakap ngan dia orang, tapi mereka tak pernah dengar pun", Pak Padang mengomel dengan logat Melayu kental.
Mungkin karena kesal Pak Padang tak berhenti mengomel, ke2 polis akhirnya balik kanan, pergi. Tapi masih juga mengancam kami :"Camkan itu cakap Pak Cik, .. jangan lagi nak buat bising ditengah malam".
Sepeninggal kedua petugas berseragam hitam-hitam, Pak Padang tersenyum tipis :"Kalian belillah gitar yang baru, Gitar yang kupecah tadipun sudah buruk sekali".
"Iya pak, terima kasih atas pertolongannya", jawab kami serempak, kami lega, apa jadinya kalau Pak Padang tadi tidak segera datang, kemungkinan besar kami akan dibawa kekantor polis, urusannyapun bisa jadi kemasalah dokumen. Jadi .. patut jugalah kami berterima kasih, walau gitar kami harus jadi korban.
Tetangga kami yang kami kenal akrab berikutnya, seorang pria tua, kurus, rambut putih rata, selalu  memakai kaos singlet dan bercelana olah raga yang panjang. Rumahnya dibagian depan lorong dekat jalan besar, agak jauh, tapi rajin berkunjung. Setiap jam 5 petang hampir setiap hari dia berada diteras rumah kami, karena sudah seringnya berkunjung, terkadang dia duduk sendirian tanpa harus ditemani. Pak Cik Tua ternampak nyaman menikmati sore dengan kepulan asap rokok dan tegukan kopi panas yang kami suguhkan. Kami tak merasa terganggu dengan kedatangannya, kamipun tak peduli apa yang  dia pikirkan kalau kami tak duduk menemani. Kalau toh kami temani selalu saja berkeluh kesah tentang istrinya yang banyak cakap, selalu merepek atau ketiga anak dan cucu-cucunya yang tak kunjung datang menjenguk, bila azan menjelang sholat maghrib berkumandang pegawai kerajaan yang telah bersara ini berpamitan, pulang. Langkahnya pendek dan tertatih-tatih membawa tubuhnya yang mulai membungkuk.
...
Rumah sewa 2 pintu ini populer dengan nama Gombak Base Camp (GBC, Ji Bi Si, abjad diucapkan dalam Bahasa Inggris), penghuni tetapnya cuma 3 orang kakak beradik, yang lainnya tersebar keseluruh penjuru Malaysia. Sebagian besar penghuni berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, yang lainnya dari daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Aku, Sukarman, Gito, Pak Yo (yang sering pulang), sisanya 7 orang jarang pulang berasal dari satu daerah, Kab. Pati. Kalau dijumlah keseluruhan ada 27 orang yang terdaftar tinggal di BGC, namun belum pernah selama 3,5 tahun aku disini seisi rumah berkumpul, walaupun hari lebaran iedul Fitri. Aku pernah pulang waktu lebaran, yang pulang cuma 9 orang, dan  .. ini lucunya, sabagian dari kami ada yang baru sekali ketemu, jadi sesama penghuni GBC, baru pertama kali berjabat tangan untuk berkenalan setelah sekian bulan menempati rumah sewa 2 pintu ini. Disini untungnya .. rumah yang tidak begitu besar, tapi mampu ditinggali keluarga sangat besar. Entah apa jadinya kalau kami semua bekerja di Kuala Lumpur, pasti rumah yang memiliki 2 kamar tidur, 1 ruang tamu dan 1 dapur yang disekat dinding untuk kamar mandi akan kewalahan memuat kami. 
Aku sendiri baru dua 2 minggu menjadi penghuni Gombak Base Camp. Disini aku banyak belajar dari banyak teman yang datang silih berganti. Dari mereka aku dapatkan berbagai cara bagaimana hidup nyaman dinegara orang dengan status ilegal alien. Aku menerima sepenuh hati saran, motivasi maupun nasehat mereka. Alasannya mudah saja .. masuk diakalku, dan itu dibuktikan dengan keberadaan mereka di Malaysia yang sudah lebih dari 10 tahun, dan (tentu saja) kehidupan keluarga mereka dikampung halaman yang terangkat secara ekonomi. Hm .. sebenarnya mengherankan, kenapa bisa, teman2 mampu bertahan di Malaysia dengan status pendatang haram hingga puluhan tahun, sementara kalau mendengarkan atau membaca berita derita hidup mereka dikoran, televisi Indonesia sangat memilukan, yang disiksa majikan, tidur dihutan, dikejar-kejar polisi, dipulangkan secara paksa, atau dideportasi pemerintah Malaysia. Pembelajaran yang kuterima dari mereka memacu semangatku, aku terobsesi ingin menundukkan kejamnya hidup di Negara Semenjung. 
...
Bas Stand Green Wood.
Malam mulai turun, udara cerah, agak panas, terasa gerah dibadan. Hanya ada satu Intra Kota yang akan menuju ke Central Market parkir agak jauh dari tempat kami duduk. Aku dan Nardi berada dikedai makan Nasi Goreng Padang. Sehabis sholat maghrib tadi Nardi mengajakku keluar makan malam. Aku mengiyakan setelah mendapat ijin dari Bu Tin dan Sukarman. Aku memang harus ijin dulu dari Sukarman, aku belum kenal dekat dengan Pria asal Ds. Prawoto, kec. Sukolilo, Kab. Pati. Meskipun satu daerah kita harus pahami dulu siapa dia, bukannya sedikit, orang satu daerah tega memakan kita, pesan Sukarman.
"Silahkan disantap, bila rasa tak sedap awak boleh komplein", Pak Cik Kedai mempersilahkan kami memakan nasi gorengnya.
"Yook .. dimakan !", Nardi memulai menyuap, "Disini (maksudnya Negara Malaysia), kalau kita merasa tak sesuai dengan keinginan, kita bisa komplein (Complain). Kalau nasi gorengnya kurang kering, kita bisa minta digoreng lagi, atau es teh kita kurang gula, kita bisa minta tambahan gula".
Aku mendengarkan, sementara tanganku tak berhenti menyuap dan mengaduk-aduk nasi goreng.
"Anak-anak GBC, pernah didatangi petugas Bandar Raya. Menurut kami, masalahnya sepele, tapi tidak bagi warga setempat. Kami jarang meminta kembalian bila belanja dikedai runcit didepan lorong itu, kami menganggap kembalian 20 atau 10 sen, hal yang biasa saja, kami tidak mempersoalkannya. Berawal dari situ, Pemilik kedai runcit mendahulukan melayani kami, bila kami kebetulan bersamaan belanja dengan warga melayu, tentu saja warga melayu tersinggung, lalu melapor, laporannya langsung ditanggapi dengan mengirim petugas Bandar Raya untuk menegur kami".
Aku diam, tapi otakku bekerja, ini sesuatu yang  berharga untukku, komplein warga akan ditanggapi positif tanpa harus ditampung dulu.
Masih di area bas stand, aku dan Nardi pindah tempat duduk ditempat yang aman untuk merokok.
"Kapan mulai kerja?", tanya Nardi.
"Kata Sukarman, lusa".
"Dimana?"
"Sungai Pelong, dekat Sungai Buloh".
"Aku pulang ini, sebenarnya cari tenaga kerja 3 orang, tadi kutanya Mas Roni, katanya ada teman kita yang sudah selesai kerjanya di Pahang, besok pulang tapi cuma 2 orang. Gimana kalau Pak Pri ikut saya, enggak jauh kok, bisa pulang kalau sore, atau kalau mau tinggal dikongsi juga bisa?, aman, sudah ada jaminan dari kerani, tidak ada ras (pengecekan dokumen secara mendadak oleh petugas gabungan, polis, emigrasi, bandar raya dibantu rela, semacam hansip)".
Aku menghisap dalam asap rokok kretek merk terkenal, asli dari Indonesia yang diselundupkan. Aku gembira mendapat tawaran pekerjaan ini, artinya aku segera bisa mendapat penghasilan. Hanya .. aku tidak enak juga dengaan Sukarman.
"Ok .. saya tahu, Pak Pri menolak tawaran saya, .. bila nanti ada kesulitan pekerjaan, ngomong saya, saya akan berusaha membantu"
"Trima kasih", aku seperti terbebas dari himpitan antara Nardi dan Sukarman.
Pembicaraan berlanjut.
...
Rokok yang tinggal beberapa batang.
Soft drink yang hampir habis
Malam yang makin dingin.
Nardi yang mulai menguap, menahan kantuk.
Padahal .. aku masih menunggu apalagi yang akan Nardi ceritakan padaku.
Tak bisa kupaksa Nardi untuk terus bercerita, tidak bisa juga kutolak, ketika sosok pria tinggi kecil ini mengajak pulang.
Kami meninggalkan bas stand, melewati perumahan Taman Gombak, belok kiri melewati 3 rumah penduduk kampung, dan menerobos hutan menyusuri jalan setapak, sebelum kami sampai dipintu belakang rumah.

...

Berikutnya : Gombak Base Camp (2)















2 comments:

  1. Trim's kepada 'pengunjung' tulisan saya ini (dari 8 postingan, halaman inilah yang banyak dibuka, hingga kini ada 110 kunjungan).
    Bila 'pengunjung' suka dengan tulisan2 saya, mohon dibagikan ke teman2 anda (atau BERI KOMENTAR ANDA UNTUK PENYEMANGAT meneruskan tulisan pengalaman saya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete