Sore hari diteras GBC. Cuaca cerah, sedikit sinar matahari menerobos diantara rimbun daun rambutan depan rumah kami. Aku, Pak Cik Tua dan Sukarman duduk tenang menghadap meja dengan 3 gelas kopi pekat dan sepiring pisang goreng. Pak Cik Tua sudah selesai dengan keluhan tetapnya, Aku dan Sukarman hangat membicarakan tentang tender shuf yang dia peroleh dari Bang Zam. Pagi tadi Sukarman berangkat ke Sungai Pelong mellihat lokasi proyek. Keberangkatannya kelokasi, tujuannya untuk mempelajari situasi sekitar, aman atau tidaknya kami tinggal dikongsi (bedeng, untuk tinggal para pekerja selama proyek dalam pengerjaan), hal ini penting mengingat kami, 7 orang pekerja semuanya tidak memiliki dokumen resmi sebagai pekerja proyek. Sebenarnya situasi aman atau tidak hanya tergantung pada satu hal, yaitu ada jalan untuk melarikan diri apabila polisi datang mendatangi kami. Padahal kedatangan polisi tidak setiap hari. Terkadang sampai berminggu-minggu, bahkan sampai selesai pekerjaan tak ada seorang aparatpun yang datang mengacau. Sememangnya selama aku bekerja disini, tak pernah mengalami gangguan. Kami katakan gangguan, karena kedatangan mereka, hanya meminta duit, dan kalau toh sampai dibawa kekantor polisi, masih bisa ditebus, tentu dengan jumlah ringgit yang lumayan besar. Penangkapan secara besar-besaran biasanya dilakukan dimega proyek, dengan jumlah pekerja mencapai ratusan orang.
"Hari Senin, kita berangkat, sementara 4 orang dulu yang kerja, baru bikin pondasi", kata Sukarman.
"Yang lainnya siapa .. ?", tanyaku, setahuku anggota GBC, kecuali aku, sudah bekerja,
"Bukan dari GBC, Herman dan Dayat, mereka berdua sering main kesini, tapi tinggal didalam, 1 km dari sini".
"Herman ?"
"Ya, Herman dan Dayat".
Sungguh .. aku terheran heran dengan pikiranku saat itu, kenapa nama Herman, asal Banyuwangi ini melekat dalam pikiranku. Kenapa harus Herman, kenapa bukan Dayat. Padahal keduanya sama-sama belum kukenal sama sekali. Hm .. masih ada waktu untuk mengetahui siapa itu Herman, tentu teman di GBC tak akan pelit membantuku mengenal sosok pria yang entah mengapa mengganggu benakku. Untuk sementara kusimpan dulu rasa penasaraku.
Sepeninggal Pak Cik Tua, aku tanyakan hasil survei dilkokasi pekerjaan pada pak Karman, dijawab singkat saja, aman katanya. Aku senang atas jawabannya, karena jawaban itu masuk dalam pelajaran pertama cara aman hidup ilegal dinegara orang, yaitu bagaimana kita dapat menyelematkan diri bila dikejar polis. Contohnya rumah kami ini, walaupun tak pernah kena ras, tapi segalanya sudah dipersiapkan untuk kenyamanan kami, juga saat kami menyelamatkan diri dengan leluasa. Secara ringkas saya ceritakan untuk pembaca : Pintu depan rumah kami dibagian luarnya kami bikinkan kunci gembok besar, yang akan kami kunci bila malam hari kurang lebih pukul 20.00 waktu setempat, pemasangan gembok ini untuk mengelabui petugas, bahwa penghuni sedang tak ada dirumah. Setelah mengunci pintu, kami akan masuk rumah lewat pintu belakang melalui halaman samping. Halaman samping ini tak begitu luas (kurang lebih lebar 3 meter, dan memanjang kebelakang). Dihalaman ini, agak kebelakang setelah melawati tiang jemuran yang sengaja dibikin rendah, ada pagar melintang setinggi 2 meter, dan (juga) sengaja dibikin memanjang 2 meter masuk kekebun milik orang lain yang rimbun menyemak. Pintu pagar dibuat sempit, setiap orang yang mau lewat harus memiring badan dan setengah dipaksa masuk, daun pintunyapun harus dengan teknik khusus apabila ingin membukanya, sehingga orang yang terbiasa saja yang tidak mengalami kesulitan saat membukanya. Tujuannya kesemuanya itu pastilah pembaca sudah paham. Hal ini beda sekali dengan keadaan didalam rumah. Pintu kamar selalunya terbuka lebar, jalan menuju pintu belakang sangat leluasa, tak ada sembarang barang tergeletak disitu. Pintu belakang dibikinkan kunci dari kayu yang dipakukan dikusen, sehingga begitu mudahnya kami membuka dan mendorong pintu kearah luar bila terjadi keadaan darurat. Lalu .. dengan 3 langkah lebar sekeluar dari pintu, kami sudah berada dihutan belukar (betul2 hutan belukar, dengan pohon2 besar, dan belukar yang tingginya diatas kepala manusia dewasa). Perhitungan kami .. ketika kami sudah duduk santai ditempat persembunyian kami. Aparat yang hendak menggerebek kami, tentu masih bersusah payah masuk pintu pagar samping rumah.
Didalam pelajaran pertama cara aman hidup ilegal dinegara orang ini, tentu harus dipelajari situasi sekitar dan keadaan rumah dimana kami tinggal. Upaya pengamanan jelas akan berbeda bila kami tinggal didaerah perumahan (semacam perumnas atau sejenisnya), bila kami tinggal didaerah perumahan maka paling tidk ada ada satu keluarga (biasanya suami istri, bisa pekerja resmi atau orang indonesia) yang sudah memiliki IC/KTP Malaysia, padahal bagi pekerja resmi atau pemilik KTP setempat sangat beresiko bila ketahuan. Untuk menjaga kerahasiaan, biasanya cuma pekerja ilegal yang ada hubungan keluarga dengan pemilik rumahlah yang bisa tinggal disitu.
Kehadiran para pekerja ilegal disalah satu rumah dikawasan perumahan itupun tidak diketahui para tetangga, mereka akan memasuki dan keluar dari komplek manakala pintu rumah para tetangga dalam keadaan tertutup (menjelang hingga selesai shalat Maghrib dan sebelum matahari baru muncul dari ufuk Timur). Begitu para pekerja ilegal ini masuk rumah, mereka akan lansung mengambil tangga yang bisa dilipat dan memasang kemudian mendorong tepi plafon yang berada diruang tidur pemilik rumah. Begitu semua sudah berada diatas tangga ditarik naik. Disitulah mereka tinggal menghabiskan malam. Untuk menghilangkan kebosanan selama tinggal diatas plofon (sebetulnya plafon itu semacam pelapis saja, karena diatas plafon itu menyerupai lantai kayu rumah panggung) kami masih bisa bermain kartu ditemani satu ceret kopi. He .. he .. kalau toh ada ras, para petugas akan kembali dengan tangan hampa, tanpa menyadari kalau diatas rumah yang mereka cek, sekumpulan pekerja ilegal yang mereka cari tengah senyum senyum meledek kawannya yang terkena hukuman karena kalah main kartu.
Saya yakin, pasti ada pertanyaan dipikiraan pembaca, bagaimana kalau kami pengin buang air kecil, atau buang air besar. Mudah sekali, karena ada juga plafon lain yang bisa dibuka tepat diatas kamar mandi merangkap toilet. Lho kenapa nggak sekalian saja naik dan turunnya melalui tangga yang diletakkan dikamar mandi. Inilah kami, para pekerja ilegal tak mau kena tangkap dikarenakan polisi curiga ada tangga dirumah kami. Tangga kami sembunyikan dibawah ranjang pemilik rumah bila kami berangkat kerja.
Usaha penyelamatan lainnya selagi kami berada dirumah, dengan membuat dinding tambahan selebar setengah meter dari dinding yang sudah ada. Diruangan sempit inilah kami bersembunyi sampai pengecekan selesai. Namun nasib sial pernah dialami salah satu teman GBC, sewaktu dia bekerja di Petaling Jaya. Ditengah hari saat istirahat mendadak ada pengecekan dokumen dari aparat, teman kami sempat sembunyi diruangan diantara dinding. Kurang lebih 1 jam dia bersembunyi, seseorang memanggil dari balik dinding. "Cak, wis aman metuo". Teman kami keluar. Begitu kepalanya tersembul dari balik pintu rahasia. Seseorang berseragam hitam hitam dengan wajah garang menyambutnya. Teman kami lupa .. tidak sedikit warga asli Malaysia pintar berbahasa Jawa, termasuk polis yang menangkap teman kami itu.
...
Dikejauhan kulihat Pak Cik Samsyul datang dengan motor tuanya. Anak anaknya ... hapal sekali dengan suara motornya, walaupun masih jauh mereka sudah berhamburan keluar rumah menyambut kedatangannya. Tapi pria Padang ini acuh saja, tanpa masuk rumahmya dia menuju kerumah kami, Langkahnya lebar tergesa-gesa, ringan membawa badan kecilnya.
"Hitam ..! Awak boleh tolong saya?", Tanyanya pada Sukarman.
"Boleh, apa yang mesti saya bantu?", Sukarman menjawab rileks, memaklumi dirinya dipanggil Hitam, karena memang kulitnya berwarna sawo matang tua, padahal orang lain dengan tinggi badan yang sama dengannya biasa dipanggil Panjang (tinggi) dan tentu kedengaran sedikit lebih santun.
"Ada pekerjaan saya ripe-ripe, paling lama 2 hari, mudah pengerjaannya, siapa saja, tak masalah", Cik Syamsul menjelaskan, siapa saja bisa ikut, artinya walaupun tak punya ketrampilan kerja dibangunan dan yang lebih penting walaupun yang menemaninya kerja itu tanpa dokumen resmi.
"Mas Pri mau ..?" Sukarman melihat kearahku, tatapan matanya jelas mengisyaratkan kalau ikut kerja Pakcik Samsyul akan terjaga keamanannya.
"Sambil latihan kerja bangunan", dia melanjutkan sambil tersenyum simpul.
"Tentu saja aku mau dan sangat suka, cuma aku belum pernah lihat orang kerja ripe-ripe, gimana itu caranya?",
"Repair .. Mas Pri, perbaikan".
"Oalah .. itu tho, yap saya ikut"
Pakcik Samsyul tersenyum senang, dan tetap tersenyum ketika mengetahui aku belum pernah sama sekali kerja dikontreek.
"Tak apelah, tak kisah, bukan juga pekerjaanku ini parah sangat, dan lagi cuma membantu kerjaku saja, .. Hm .. di Indonesia apa kerja awak", tanyanya padaku.
Aku agak segan juga menyebut profesiku sebelumnya, bukannya apa, dalam pikiranku, kalau Pakcik tahu pekerjaanku di Jawa, nantinya hubungan kerja bos dan anak buah jadi canggung. Lebih parah lagi dia mengurungkan niatnya mengajak aku.
"Mas Pri sama seperti aku, dulunya seorang guru", Pak Karman menjelaskan.
"Cikgu pula", setengah berteriak, sembari mulutnya menganga dan dahi berkerut, keheranan.
...
Pagi hari berikutnya aku dah siap diteras rumah menunggu panggilan Pakcik Samsyul, ditemanani Sukarman. Sahabat baikku ini masih saja memberi semacam nasihat dan jalan keluar apabila aku berjumpa dengan polis, padahal petuahnya sudah berpuluh kali kudengar, bahkan teman di GBCpun mengatakannya padaku cara menghindari bila ketemu polis.
"Joom Cikgu", Pakcik Syamsul berteriak kearahku sambil menaiki motor tuanya. Hah .. aku dipanggil Cikgu? kenapa bukan Panjang (kebetulan aku tinggi), atau Putih, karena kulitku agak sedikit putih. Aku lihat kearah Sukarman yang biasa dipanggil Hitam. Aku makin tidak enak karena saat itu si pemilik kulit hitam mulutnya lagi melongo, mendapat kejutan pagi hari. Bagaimana tidak, sama-sama mantan guru, panggilannya dibedakan. Diskriminatif.
Aku berlari menghampiri motor tua yang sudah hilang bentuk aslinya, bahkan sebagian bautnya sudah diganti dengan ikatan kawat. Warna cetnyapun yang kuperkirakan biru tua, sudah mendekati putih. Yang bagusnya semua perlengkapannya masih lengkap kaca spion 2, lampu depan, belakang menyala, lampu signpuspun menyala sempurna, Surat ? ada. Ketaatan dan kedisipilan warga setempat yang patut dicontoh.
Aku duduk dijok yang tipis dan penutupnya yang sudah robek2 menunggu sang pemilik mengganti dengan jok yang baru, atau sekaligus ganti motor baru.
"Cikgu masih ada visa?", tanyanya tentang dokumenku.
"Masih 20 hari lagi".
"Kalau begitu, kita lewat jalan besar, lebih dekat".
Aku diam saja, namun sempat berfikir bahwa Pakcik yang membawaku kerja ini tentu lebih paham seluk beluk cara terbaik dan tak beresiko membawa orang asing, apalagi peraturan kerajaan Malaysia yang begitu ketat perihal melindungi pendatang haram, bisa kena denda Rm.10.000,00, bukan jumlah yang sedikit untuk pekerja serabutan macam Pakcik ini, apalagi dengan jumlah anggota keluarga yang lumayan banyak.
Kami melaju dikeramain pagi jalan besar Gombak. Tak begitu kencang, Pakcik memberi kesempatan kepada motor dan mobil dibelakangnnya untuk mendahuluinya dengan mengendarai motornya ketepi yang paling kiri.
"Meskipun motorku tua, tapi ini built up dari Jepang, ...", Pakcik menyebut merk motor yang memang terkenal juga di Indonesia, "Awak tengoklah Cikgu, kereta dan moto, semuanya keluaran tempatan". Memang semenjak masuk negeri ini merk mobil maupun motor yang saya lihat lalu lalang dijalan bisa dikata 99% keluaran pabrik Malaysia. Merk2 mobil yang mendominasi jalan2 di Indonesia disini bisa dihitung dengan jari. Nasionalis atau karena harganya yang sangat murah, cuma meraka yang tahu mengapa mereka membelinya.
Selama dalam perjalanan Pakcik Syamsul banyak bercerita, tak berujung pangkal, tapi ceritanya secuilpun tak masuk keotakku atau mungkin salahku juga karena aku lebih asyik menikmati perjalanan ini laksana seorang turis yang baru mengunjungi sebuah negeri impian.
"He .. he .. jadi turis sekaligus cari duit"
...
(Selanjutnya Basah Kuyup Peluhku)
"Hari Senin, kita berangkat, sementara 4 orang dulu yang kerja, baru bikin pondasi", kata Sukarman.
"Yang lainnya siapa .. ?", tanyaku, setahuku anggota GBC, kecuali aku, sudah bekerja,
"Bukan dari GBC, Herman dan Dayat, mereka berdua sering main kesini, tapi tinggal didalam, 1 km dari sini".
"Herman ?"
"Ya, Herman dan Dayat".
Sungguh .. aku terheran heran dengan pikiranku saat itu, kenapa nama Herman, asal Banyuwangi ini melekat dalam pikiranku. Kenapa harus Herman, kenapa bukan Dayat. Padahal keduanya sama-sama belum kukenal sama sekali. Hm .. masih ada waktu untuk mengetahui siapa itu Herman, tentu teman di GBC tak akan pelit membantuku mengenal sosok pria yang entah mengapa mengganggu benakku. Untuk sementara kusimpan dulu rasa penasaraku.
Sepeninggal Pak Cik Tua, aku tanyakan hasil survei dilkokasi pekerjaan pada pak Karman, dijawab singkat saja, aman katanya. Aku senang atas jawabannya, karena jawaban itu masuk dalam pelajaran pertama cara aman hidup ilegal dinegara orang, yaitu bagaimana kita dapat menyelematkan diri bila dikejar polis. Contohnya rumah kami ini, walaupun tak pernah kena ras, tapi segalanya sudah dipersiapkan untuk kenyamanan kami, juga saat kami menyelamatkan diri dengan leluasa. Secara ringkas saya ceritakan untuk pembaca : Pintu depan rumah kami dibagian luarnya kami bikinkan kunci gembok besar, yang akan kami kunci bila malam hari kurang lebih pukul 20.00 waktu setempat, pemasangan gembok ini untuk mengelabui petugas, bahwa penghuni sedang tak ada dirumah. Setelah mengunci pintu, kami akan masuk rumah lewat pintu belakang melalui halaman samping. Halaman samping ini tak begitu luas (kurang lebih lebar 3 meter, dan memanjang kebelakang). Dihalaman ini, agak kebelakang setelah melawati tiang jemuran yang sengaja dibikin rendah, ada pagar melintang setinggi 2 meter, dan (juga) sengaja dibikin memanjang 2 meter masuk kekebun milik orang lain yang rimbun menyemak. Pintu pagar dibuat sempit, setiap orang yang mau lewat harus memiring badan dan setengah dipaksa masuk, daun pintunyapun harus dengan teknik khusus apabila ingin membukanya, sehingga orang yang terbiasa saja yang tidak mengalami kesulitan saat membukanya. Tujuannya kesemuanya itu pastilah pembaca sudah paham. Hal ini beda sekali dengan keadaan didalam rumah. Pintu kamar selalunya terbuka lebar, jalan menuju pintu belakang sangat leluasa, tak ada sembarang barang tergeletak disitu. Pintu belakang dibikinkan kunci dari kayu yang dipakukan dikusen, sehingga begitu mudahnya kami membuka dan mendorong pintu kearah luar bila terjadi keadaan darurat. Lalu .. dengan 3 langkah lebar sekeluar dari pintu, kami sudah berada dihutan belukar (betul2 hutan belukar, dengan pohon2 besar, dan belukar yang tingginya diatas kepala manusia dewasa). Perhitungan kami .. ketika kami sudah duduk santai ditempat persembunyian kami. Aparat yang hendak menggerebek kami, tentu masih bersusah payah masuk pintu pagar samping rumah.
Didalam pelajaran pertama cara aman hidup ilegal dinegara orang ini, tentu harus dipelajari situasi sekitar dan keadaan rumah dimana kami tinggal. Upaya pengamanan jelas akan berbeda bila kami tinggal didaerah perumahan (semacam perumnas atau sejenisnya), bila kami tinggal didaerah perumahan maka paling tidk ada ada satu keluarga (biasanya suami istri, bisa pekerja resmi atau orang indonesia) yang sudah memiliki IC/KTP Malaysia, padahal bagi pekerja resmi atau pemilik KTP setempat sangat beresiko bila ketahuan. Untuk menjaga kerahasiaan, biasanya cuma pekerja ilegal yang ada hubungan keluarga dengan pemilik rumahlah yang bisa tinggal disitu.
Kehadiran para pekerja ilegal disalah satu rumah dikawasan perumahan itupun tidak diketahui para tetangga, mereka akan memasuki dan keluar dari komplek manakala pintu rumah para tetangga dalam keadaan tertutup (menjelang hingga selesai shalat Maghrib dan sebelum matahari baru muncul dari ufuk Timur). Begitu para pekerja ilegal ini masuk rumah, mereka akan lansung mengambil tangga yang bisa dilipat dan memasang kemudian mendorong tepi plafon yang berada diruang tidur pemilik rumah. Begitu semua sudah berada diatas tangga ditarik naik. Disitulah mereka tinggal menghabiskan malam. Untuk menghilangkan kebosanan selama tinggal diatas plofon (sebetulnya plafon itu semacam pelapis saja, karena diatas plafon itu menyerupai lantai kayu rumah panggung) kami masih bisa bermain kartu ditemani satu ceret kopi. He .. he .. kalau toh ada ras, para petugas akan kembali dengan tangan hampa, tanpa menyadari kalau diatas rumah yang mereka cek, sekumpulan pekerja ilegal yang mereka cari tengah senyum senyum meledek kawannya yang terkena hukuman karena kalah main kartu.
Saya yakin, pasti ada pertanyaan dipikiraan pembaca, bagaimana kalau kami pengin buang air kecil, atau buang air besar. Mudah sekali, karena ada juga plafon lain yang bisa dibuka tepat diatas kamar mandi merangkap toilet. Lho kenapa nggak sekalian saja naik dan turunnya melalui tangga yang diletakkan dikamar mandi. Inilah kami, para pekerja ilegal tak mau kena tangkap dikarenakan polisi curiga ada tangga dirumah kami. Tangga kami sembunyikan dibawah ranjang pemilik rumah bila kami berangkat kerja.
Usaha penyelamatan lainnya selagi kami berada dirumah, dengan membuat dinding tambahan selebar setengah meter dari dinding yang sudah ada. Diruangan sempit inilah kami bersembunyi sampai pengecekan selesai. Namun nasib sial pernah dialami salah satu teman GBC, sewaktu dia bekerja di Petaling Jaya. Ditengah hari saat istirahat mendadak ada pengecekan dokumen dari aparat, teman kami sempat sembunyi diruangan diantara dinding. Kurang lebih 1 jam dia bersembunyi, seseorang memanggil dari balik dinding. "Cak, wis aman metuo". Teman kami keluar. Begitu kepalanya tersembul dari balik pintu rahasia. Seseorang berseragam hitam hitam dengan wajah garang menyambutnya. Teman kami lupa .. tidak sedikit warga asli Malaysia pintar berbahasa Jawa, termasuk polis yang menangkap teman kami itu.
...
Dikejauhan kulihat Pak Cik Samsyul datang dengan motor tuanya. Anak anaknya ... hapal sekali dengan suara motornya, walaupun masih jauh mereka sudah berhamburan keluar rumah menyambut kedatangannya. Tapi pria Padang ini acuh saja, tanpa masuk rumahmya dia menuju kerumah kami, Langkahnya lebar tergesa-gesa, ringan membawa badan kecilnya.
"Hitam ..! Awak boleh tolong saya?", Tanyanya pada Sukarman.
"Boleh, apa yang mesti saya bantu?", Sukarman menjawab rileks, memaklumi dirinya dipanggil Hitam, karena memang kulitnya berwarna sawo matang tua, padahal orang lain dengan tinggi badan yang sama dengannya biasa dipanggil Panjang (tinggi) dan tentu kedengaran sedikit lebih santun.
"Ada pekerjaan saya ripe-ripe, paling lama 2 hari, mudah pengerjaannya, siapa saja, tak masalah", Cik Syamsul menjelaskan, siapa saja bisa ikut, artinya walaupun tak punya ketrampilan kerja dibangunan dan yang lebih penting walaupun yang menemaninya kerja itu tanpa dokumen resmi.
"Mas Pri mau ..?" Sukarman melihat kearahku, tatapan matanya jelas mengisyaratkan kalau ikut kerja Pakcik Samsyul akan terjaga keamanannya.
"Sambil latihan kerja bangunan", dia melanjutkan sambil tersenyum simpul.
"Tentu saja aku mau dan sangat suka, cuma aku belum pernah lihat orang kerja ripe-ripe, gimana itu caranya?",
"Repair .. Mas Pri, perbaikan".
"Oalah .. itu tho, yap saya ikut"
Pakcik Samsyul tersenyum senang, dan tetap tersenyum ketika mengetahui aku belum pernah sama sekali kerja dikontreek.
"Tak apelah, tak kisah, bukan juga pekerjaanku ini parah sangat, dan lagi cuma membantu kerjaku saja, .. Hm .. di Indonesia apa kerja awak", tanyanya padaku.
Aku agak segan juga menyebut profesiku sebelumnya, bukannya apa, dalam pikiranku, kalau Pakcik tahu pekerjaanku di Jawa, nantinya hubungan kerja bos dan anak buah jadi canggung. Lebih parah lagi dia mengurungkan niatnya mengajak aku.
"Mas Pri sama seperti aku, dulunya seorang guru", Pak Karman menjelaskan.
"Cikgu pula", setengah berteriak, sembari mulutnya menganga dan dahi berkerut, keheranan.
...
Pagi hari berikutnya aku dah siap diteras rumah menunggu panggilan Pakcik Samsyul, ditemanani Sukarman. Sahabat baikku ini masih saja memberi semacam nasihat dan jalan keluar apabila aku berjumpa dengan polis, padahal petuahnya sudah berpuluh kali kudengar, bahkan teman di GBCpun mengatakannya padaku cara menghindari bila ketemu polis.
"Joom Cikgu", Pakcik Syamsul berteriak kearahku sambil menaiki motor tuanya. Hah .. aku dipanggil Cikgu? kenapa bukan Panjang (kebetulan aku tinggi), atau Putih, karena kulitku agak sedikit putih. Aku lihat kearah Sukarman yang biasa dipanggil Hitam. Aku makin tidak enak karena saat itu si pemilik kulit hitam mulutnya lagi melongo, mendapat kejutan pagi hari. Bagaimana tidak, sama-sama mantan guru, panggilannya dibedakan. Diskriminatif.
Aku berlari menghampiri motor tua yang sudah hilang bentuk aslinya, bahkan sebagian bautnya sudah diganti dengan ikatan kawat. Warna cetnyapun yang kuperkirakan biru tua, sudah mendekati putih. Yang bagusnya semua perlengkapannya masih lengkap kaca spion 2, lampu depan, belakang menyala, lampu signpuspun menyala sempurna, Surat ? ada. Ketaatan dan kedisipilan warga setempat yang patut dicontoh.
Aku duduk dijok yang tipis dan penutupnya yang sudah robek2 menunggu sang pemilik mengganti dengan jok yang baru, atau sekaligus ganti motor baru.
"Cikgu masih ada visa?", tanyanya tentang dokumenku.
"Masih 20 hari lagi".
"Kalau begitu, kita lewat jalan besar, lebih dekat".
Aku diam saja, namun sempat berfikir bahwa Pakcik yang membawaku kerja ini tentu lebih paham seluk beluk cara terbaik dan tak beresiko membawa orang asing, apalagi peraturan kerajaan Malaysia yang begitu ketat perihal melindungi pendatang haram, bisa kena denda Rm.10.000,00, bukan jumlah yang sedikit untuk pekerja serabutan macam Pakcik ini, apalagi dengan jumlah anggota keluarga yang lumayan banyak.
Kami melaju dikeramain pagi jalan besar Gombak. Tak begitu kencang, Pakcik memberi kesempatan kepada motor dan mobil dibelakangnnya untuk mendahuluinya dengan mengendarai motornya ketepi yang paling kiri.
"Meskipun motorku tua, tapi ini built up dari Jepang, ...", Pakcik menyebut merk motor yang memang terkenal juga di Indonesia, "Awak tengoklah Cikgu, kereta dan moto, semuanya keluaran tempatan". Memang semenjak masuk negeri ini merk mobil maupun motor yang saya lihat lalu lalang dijalan bisa dikata 99% keluaran pabrik Malaysia. Merk2 mobil yang mendominasi jalan2 di Indonesia disini bisa dihitung dengan jari. Nasionalis atau karena harganya yang sangat murah, cuma meraka yang tahu mengapa mereka membelinya.
Selama dalam perjalanan Pakcik Syamsul banyak bercerita, tak berujung pangkal, tapi ceritanya secuilpun tak masuk keotakku atau mungkin salahku juga karena aku lebih asyik menikmati perjalanan ini laksana seorang turis yang baru mengunjungi sebuah negeri impian.
"He .. he .. jadi turis sekaligus cari duit"
...
(Selanjutnya Basah Kuyup Peluhku)
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete