Berempat kami (aku, Om Anton, Sukarman dan Herman) duduk tepekur memandangi bangunan yang kami kerja mendekati selesai dari teras depan tempat kami tinggal sementara selama bekerja di Kampung Sungai Pelong. Otak kami dipenuhi dengan persoalan masing-masing, kami sekelompok orang yang berkumpul tapi seperti beraktifitas sendirian. Sesekali terdengar tarikan nafas seperti ingin melepas beban berat atau masalah yang menghimpit. Memang kami semua (saat ini) memiliki persoalan hidup yang hampir sama, ingin memperoleh uang secepatnya, berapapun, kemudian segera meninggalkan bangunan 3/4 jadi yang kami kerja, sebelum sesuatu yang sangat menakutkan menimpa kami. Menurut cerita dari mulut kemulut, yang akhirnya sampai juga ketelingaku. Apabila bangunan yang dikerja para pendatang haram mendekati selesai pemilik bangunan atau pemborong bangunan tak ingin membayar kami, mereka akan memanggil polis. Bisa ditebak apa jadinya kalau polis datang ? Tentu pekerja ilegal akan berlarian berusaha menyelamatkan diri dari tangkapan polis. Ujung-ujungnya hilanglah lembaran ringgit hak kami selama bekerja, karena .. tak mungkin kami berani datang lagi kelokasi binaan untuk meminta gaji. Lebih baik hilang uang dari pada dipaksa pulang ke Indonesia.
Sudah 2 minggu lebih kami menganggur, menunggu bahan untuk menyelesaikan pekerjaan sekaligus menunggu gaji kami yang belum dibayar untuk sain kad (dari kata sign card-berupa absensi kehadiran) yang lalu. Selama penantian ini perasaan was-was selalu menghantui kami, terutama malam hari, kewaspadaan kami tingkatkan. Jangankan lampu motor atau mobil dari jalan yang berjarak 100 meter dari kami, sedangkan tentangga sebelah menghidupkan lampu saja sudah membuat kami berempat diam terpaku, saling pandang dalam gelap mengambil keputusan cepat bersama secara kilat dan kalau memang situasi memang benar genting bersiap untuk ancang-ancang mengambil langkah seribu.
Hari menjelang Isya, kami masih duduk diteras rumah sambil meminum teh setelah selesai makan malam.
"Bagaimana ini, pak ?" aku membuka percakapan.
"Tunggu, dalam 2 hari tak ada bahan dan gaji, kita pulang ke KL", Pak Sukarman mengerti arah pertanyaanku.
"Bagaimana ini, pak ?" aku membuka percakapan.
"Tunggu, dalam 2 hari tak ada bahan dan gaji, kita pulang ke KL", Pak Sukarman mengerti arah pertanyaanku.
Kembali kami diam, dengan mata tetap mengarah kelorong menuju rumah kami. Lorong itu agak remang-remang terkena bias sinar lampu rumah sebelah jalan.
"Sstt .. waspada", Herman berbisik memberi peringatan.
"Dimana .. ?".
"Sstt .. waspada", Herman berbisik memberi peringatan.
"Dimana .. ?".
"Dilorong .. mengarah kesiani."
Mata kami melihat ujung lorong, Seseorang berjalan kearah rumah kami.
"Kalian bertiga kesamping rumah, tunggu kode dari aku", perintah sukarman. Kami menurut. Bertiga kami kesamping rumah. Kalau terjadi sesuatu, enak saja kami melesat menuju semak dan masuk kedalam belukar. Sukarman sendiri sebetulnya hanya bermodal berani dan kehebatan serta kelincahannya berlari, diapun sama seperti kami pekerja ilegal. Masih mending aku, karena visa tinggal melancongku masih hidup 5 hari.
Sunyi.
Tegang.
Suara binatang malang bersahutan, bukannya bising tapi malah suasana makin mencekam.
Mata kami melihat ujung lorong, Seseorang berjalan kearah rumah kami.
"Kalian bertiga kesamping rumah, tunggu kode dari aku", perintah sukarman. Kami menurut. Bertiga kami kesamping rumah. Kalau terjadi sesuatu, enak saja kami melesat menuju semak dan masuk kedalam belukar. Sukarman sendiri sebetulnya hanya bermodal berani dan kehebatan serta kelincahannya berlari, diapun sama seperti kami pekerja ilegal. Masih mending aku, karena visa tinggal melancongku masih hidup 5 hari.
Sunyi.
Tegang.
Suara binatang malang bersahutan, bukannya bising tapi malah suasana makin mencekam.
"Silahkan merokok pak cik .."
Itu kode untuk kami dari Sukarman.
Herman dan Om Anton masih takut untuk keluar, aku berjalan menuju depan.
Baru saja aku ternampak oleh Sukarman dan tamunya. Sahabat karibku ini langsung berkicau :"Inilah pak cik, bomoh dari Pulau Jawa yang baru saja aku ceritekan kat pak cik". Pakcik langsung berdiri menyambutku dan dengan hormat mengajakku berjabat tangan serta mengucapkan salam.
"Ini kawan aku, biase tolong orang, dia ni bomoh populair di Jawa sana", Sukarman berkicau lagi dan berkicau lagi, kali ini kepadaku:"Pak cik anaknya sakit, kalau malam sering menangis, dia cari bomoh, lalu kutunjukkan kalau kamu itu bomoh".
"Bomoh ..? apa itu bomoh ..?"tanyaku bingung.
"Dukun, .. orang pintar"
"Ha a a h ..!".
Aku terkejut dan terhenyak dikursi.
Om Anton dan Herman terkejut juga, tak lama, kemudian tersengih.
(Berikutnya bomoh Sungai Pelong bag. 2)
Itu kode untuk kami dari Sukarman.
Herman dan Om Anton masih takut untuk keluar, aku berjalan menuju depan.
Baru saja aku ternampak oleh Sukarman dan tamunya. Sahabat karibku ini langsung berkicau :"Inilah pak cik, bomoh dari Pulau Jawa yang baru saja aku ceritekan kat pak cik". Pakcik langsung berdiri menyambutku dan dengan hormat mengajakku berjabat tangan serta mengucapkan salam.
"Ini kawan aku, biase tolong orang, dia ni bomoh populair di Jawa sana", Sukarman berkicau lagi dan berkicau lagi, kali ini kepadaku:"Pak cik anaknya sakit, kalau malam sering menangis, dia cari bomoh, lalu kutunjukkan kalau kamu itu bomoh".
"Bomoh ..? apa itu bomoh ..?"tanyaku bingung.
"Dukun, .. orang pintar"
"Ha a a h ..!".
Aku terkejut dan terhenyak dikursi.
Om Anton dan Herman terkejut juga, tak lama, kemudian tersengih.
(Berikutnya bomoh Sungai Pelong bag. 2)
No comments:
Post a Comment