Cuaca hari pertamaku di Malaysia sangat bersahabat. Seharusnya dengan kondisi geografis yang tidak berbeda dengan Indonesia jam jam segini ini sedang teriknya matahari, namun hari ini tidak, awan diatas Kota Pontian mampu menahan cahaya matahari tidak sampai kebumi, sementara angin berhembus semilir menerpa lembut riap rambutku yang agak panjang, Aku duduk tenang dibangku panjang dengan pandangan menghadap tempat parkir bis, lenggang. Jam 4 sore bis baru berangkat, kata Bu Tin tadi sehabis dari loket pembelian tiket bis, 2 jam lagi, kataku dalam hati.
Dibangku panjang aku masih sendirian, Bu Tin pergi ke Surau di komplek terminal, aku sendiri sudah menjalankan kewajibanku sesampainya kami tiba di terminal bis. Kuputar pandanganku mengelilingi terminal,
Hamparan luas dengan bangunan ruang tunggu nyaman (seperti) berada ditengah tengah, dibelakang tempat aku duduk, tempat masuk, parkir dan keluar kereta sapu, lahannya sedikit kurang luas dibanding dengan
tempat pemberangkatan bis, komplek terminal yang terjaga kebersihannya, benar benar bersih tanpa sampah berserakan, lantaipun berkeramik putih mengkilat, pasti tiap hari tak lupa untuk dipel, kalau saja ada abu rokok jatuh dilantai pasti akan nampak. Ditempat strategis dan mudah dilihat orang terpampang tulisan besar : No Smoking Area, atau Clean and Carry, yang saya lihat orang orang yang ada disini patuh, dari tadi tidak ada kulihat orang menghisap rokok. Anak kecil yang duduk dibangku, 'rela' berjalan menuju tempat sampah membuang bungkus kembang gulanya.
Selama aku duduk, sudah beberapa bis masuk untuk menurunkan penumpang, lalu menaikkan penumpang, kemudian keluar meninggalkan terminal. Dari papan trayeknya kubaca, jurusan Johor Bahru dan Muar. Penumpang yang turun dan naik tidak begitu banyak, kuperhatikan dari bis yang pertama hingga terakhir (sebelum bis yang akan membawaku ke Kuala Lumpur datang) paling banyak 5 orang. Dari kebiasaanku belajar dari melihat inilah aku memperoleh pelajaran cara memasuki bis. Orang pertama berdiri agak kebelakang didepan pintu masuk supaya tak menghalangi penumpang yang turun, orang kedua akan menyusul berdiri dibelakang orang pertama, orang ketiga dibelakang orang kedua begitu seterusnya. Mereka baru naik setelah penumpang yang turun sudah tidak ada lagi. .. Tertib dan disiplin (taat pada peraturan), belakangan aku mengetahui kebiasaan yang diwarisi Inggris ini sudah tertanam dan berurat berakar pada warga Malaysia dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.
Karena kebiasaan antri ini sudah membudaya bagi penduduk Malaysia, mereka secara otomatis akan sabar menunggu hingga kegilirannya tiba, tanpa harus dipaksa tertib misalnya antrian dijaga satpam seperti di Indonesia (he .. he ..). Jadi .. kalau toh ada tulisan SILA BERATUR didepan loket pembelian tiket bis Naela, mungkin hanya pemanis saja atau diperuntukkan bagi warga negara lain yang tidak biasa mengantri. Lain halnya dengan Bu Tin yang memang syarat pengalaman hidup di Malaysia. Dia tetap menunggu giliran dibelakang orang yang sedang dilayani penjual tiket, padahal bisa saja berdiri disamping orang pertama tadi, karena pembeli tiket waktu itu cuma 2 orang.
Kegemaran akan bacaan dan atau tulisan apa saja dan dimana saja ada tulisan pasti akan kubaca, dan sedikit banyak membuat aku berusaha untuk memahami arti tulisan tersebut. Nah .. ketika Bu Tin menyodorkan 2 tiket untuk kubawa. Aku membaca tulisan yang ada ditiket. Lembaran tiketnya sih sama seperti tiket bis di Indonesia, berupa formulir (borang orang sini bilang) yang harus diisi nama penumpang, tujuan kemana, dari mana, berangkat tanggal dan jam, Nopol bis. Yang beda pada keterangan dibawahnya : Bas Tak Berhenti Henti (Patas-Indonesia), Bas Berhawa Dingin (AC-Indonesia), yang membuat aku geli adalah : Beli 10 tiket, percuma 1, maksudnya beli tiket 10, gratis 1 tiket.
10 menit sebelum pukul 4 sore, Bis Naela memasuki terminal.
"Ayo Pak Pri, itu bisnya datang", Bu Tin mengajakku berjalan kearah bis mengikuti calon penumpang lainnya.
Satu persatu kami memasuki Bis yang akan mengantar kami ke Ibu Kota Negara. Aku dan Bu Tin mendapat tempat agak ketengah. Setelah penumpang naik semua, ada pengecekan, tak berapa lama Bis meluncur meninggalkan Kota Pontian tepat jam 4 waktu setempat.
Kalau kelelahan fisik sih tak seberapa, mungkin karena pikiranku yang terbebani selama dipenampungan para calon TKI ilegal ini yang membuat otakku luar biasa capai, ini kerugian bagiku karena aku kehilangan kesempatan untuk menikmati perjalanku. Ya .. aku tertidur pulas diatas Bas Tak Berhenti Henti dan Berhawa Dingin.
...
(Berikutnya : BisKota itu Intra Kota)
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete