Memaknai hidup dengan memberi arti untuk hal-hal yang kecil ..... Menjalani hidup dengan apa adanya ..... Mensyukuri dan menikamati kekurangan yang ada

Sunday, October 4, 2015

Bomoh Sungai Pelong (Bagian 3)

Dari Kuala Lumpur ke Sungai Pelong kami bisa naik kereta api (KTM) atau Bis PO. Selangor. Kami lebih memilih naik bis dari pada kereta api dengan pertimbangan bis akan berhenti di bas stop Sungai Pelong, selain itu, ini yang utama, bila kami naik kereta api, turun di Stasiun Sungai Buloh, lalu berjalan kaki ke bus stop, jalannya sih tidak jauh, tapi dipenantian bis Selangor itu yang membuat jantung kami terpacu cepat, harus waspada, bergaya seperti cuek tapi mata mengawasi setiap mobil yang akan melewati kami, siapa tahu yang akan melintas itu mobil polisi. Padahal kemunculan bis yang akan membawa kami ke Sungai Pelong berkisar 15 menit bahkan lebih, waktu yang kami rasa sangat lama, mengingat (menurut kami pendatang haram) situasi kami anggap genting. 

Aku dan Sukarman turun dari bis, kemudian berbalik arah menuju lorong kampung, pas dimulut lorong ada kedai kopi dan juadah berupa kari pap dan ubi goreng, bila sore hari aku atau Sukaraman akan singgah dan meminum segelas kopi serta beberapa kue. Pemilik kedai seorang lelaki 35 an tahun, sangat ramah kepada kami, tak pernah sekalipun dalam setiap pembicaraannya menyinggung kami yang pendatang haram, dengan menanyakan dokumen kelengkapan kerja. Hal mana yang sering dilakukan oleh sembarang Orang Melayu, padahal bagi mereka tidak ada kepentingannya. Pakcik kedai kopi ini menunggu warungnya hanya sore hari, pagi dan siangnya pakcik dinas dikesatuannya, ya .. pakcik seorang asykar (Tentara Diraja Malaysia).

"Dari KL ..?"
"Iye pakcik"
"Dah hampir siap binaan 'tu"
"Iye .. dah siapun, setakat ripe-ripe yang kami kerje"
"Dimane lagi kerje selepas ni ..?
"Lum ade lagi".
Sambil bercerita, pakcik tak beringsut dan tetap sibuk dengan acara goreng menggorengnya. Kamipun begitu asyik dengan menikmati seduhan kopi dan kue hasil gorengan pakcik asykar.

Dalam menjalin keakraban dengan warga setempat, kami harus memilih mana yang benar-benar tulus terhadap kami. Tidak asal berteman. Kami mau mereka baik selagi kami ada ataupun tiada dihadapan mereka. Sebenarnya keakraban yang yang kami bina untuk membangun tameng / perisai keselamatan kami selama tinggal disuatu tempat di Tanah Melayu ini. Kami berharap mereka paham dari pembicaraan yang kami lakukan, mereka berkesimpulan, bahwa kami orang yang benar-benar bekerja, tidak bikin kekacauan atau bikin kes jenayah (tindakan kriminal). Sudah terbiasa dinegeri ini pencurian kecil2an dilakukan oleh para penagih dadah, yang sering terjadi .. hilangnya pakaian yang sedang dijemur. Katakanlah semacam tindakan prefentif agar mereka berpikir 1000 kali bila ingin menuduh kami.

Namaku di Sungai Pelong sudah cukup dikenal sebagai dukun. Sudah banyak warga yang minta bantuan kepadaku. Permintaan yang kadang membuat hatiku tertawa, hanya karena kambingnya sering mengembik tengah malah, katanya kambingnya diganggu hantu. Ada juga yang rumahnya minta diberi pagar gaib. Dan ini yang bikin aku geli pohon dukunya berbuah jarang, eh .. datang juga pemilik pohon minta pohonya dido'akan agar berbuah lebat dan paling manis rasanya dibanding duku lainnya. Semua keinginan mereka kupenuhi, enggak masalah, 'kan mereka memberi imbalan berupa ringgit meski jumlah nggak seberapa, yang penting dapur kami tetap berasap dengan aroma bukan hanya nasi goreng dan mie instan. 
Setiap aku pulang dari panggilan untuk praktek, Sukarman akan memujiku, bahwa cara berdukunku makin maju, makin halus, dan selalu ada trik baru yang aku pakai. Sehingga orang makin tersugesti akan kemampuanku untuk menangami keluhan mereka, tanpa mereka sadari bahwa kesembuhan/keluhannya terselesaikan oleh diri mereka sendiri.
"Hm .. hebat", kata Sukarman sambil mengangkat jempol tangan kanannya.
...
Sore itu aku berada didalam bangunan yang belum jadi, duduk bersandar dinding, ditemani Om Anton, Herman dan Sukarman pergi keseberang jalan raya membetulkan dan memasang keramik kamar mandi, milik Makcik Leha (Warga Negara Malaysia keturunan Pacitan, Jawa Timur). Om Anton, sosok pria desa dengan pembawaan khas masyarakat pedesaan, tidak neko-neko, jujur dan lugu. Karena keluguan dan kejujurannya ini, sering membuat kami tertawa padahal Om Aton tidak sedang melucu. Seperti sore ini, aku dibikin tergelak, karena dia menceritakan kejadian lucu teman kampungnya. Ceritanya tidak begitu menggelitik, hanya saja banyak ceritanya yang diulang, pengulangannya tidak berobah sama sekali dengan caranya bertutur sebelumnya. Jadi sepertinya aku sedang mendengarkan kaset di tape recorder. Lebih lucu lagi, saat dia bercerita sering kami potong dengan pertanyaan (dan pertanyaannyapun sama dengan pertanyaan sebelumnya), Om Anton akan menjawab dengan senang hati juga serius. Dia merasa senang karena ceritanya disimak dengan baik oleh pendengarnya.
Ditengah keasyikan kami, Sukarman datang, tergopoh-gopoh sekali.
"Pak Pri, sekarang juga kamu pulang ke KL", katanya diantara sengal nafasnya.
"Kenapa ..?"
"Ada kes pecah rumah"
"Apa itu ..?"
"Rumah Pakcik Asykar dimasuki pencuri".
"Lho .. jadi aku yang dituduh pencurinya?"
"Bukan, Pakcik askar minta tolong kekamu untuk menemukan pencurinya"
Aku berpikir sejenak, tak sengaja aku memandang wajah Om Anton, pucat pasi.
"Kalau aku pulang ke KL, bisa jadi dikira aku pencurinya, justru dengan kepulanganku kalian akan menghadapi masalah".
"Jadi kamu mau kerumah pakcik askar? mau menemukan pencurinya lewat manteramu, .. ah Pak Pri .. Pak Pri bukankah selama ini kamu cuma berlagak orang pintar, berlakon jadi bomoh".
"Semoga dengan kedatanganku dirumah pakcik askar, kita berempat akan selamat. Yook Pak Karman .. kita berdua kesana", tanpa menunggu jawaban, aku tarik tangannya.

Askar ramah ini menyambut kedatangan kami,  tak ada tanda curiga disorot matanya, aman. Memakan waktu cukup lama pakcik askar bercerita awal kejadiannya. Sepulang dari dinas pintu rumahnya sudah terbuka, TV serta tape recorder jenis mini compo sudah tidak ada ditempatnya, diangkut pencuri.
"Baiklah pakcik, tolong sediakan minyak kelapa serta bubuk lada, ditaruh dipinggan". Kataku memulai ritual. Aku berpura-pura membaca matera, lalu kutiup mangkok yang berisi minyak kelapa dan lada.
"Tolong pakcik, ambilkan tanah bekas pijakan kaki sipencuri untuk kucampurkan disini, kalau sudah tercampur dalam satu malam kakinya seperti terbakar yang amat sangat, paginya dia akan antar balik barangan pakcik yang dicuri".
"Aduh .. macam mana ini, dah banyak orang berkunjung kesini dan puluhan pasang kaki memijak pekarangan rumah, hm ... bagaimana kalau aku salah ambil .. apakah akan kesakitan juga kakinya ?"
"Pastinya pakcik, oleh karenanya jangan salah ambil".
"Jangan teruskan .. pakcik iklas, barangan pakcil hilang tak mengapa, dari pada kaki orang kena sakit, aku pula nanti yang menanggung azab. Selesai sudah, batalkan saja ritualnya".
 "Betul iklas pakcik?" tanyaku menegaskan
"Iklas .. iklas luar dalam"

Aku dan Pak Karman jalan beriringan pulang.
Pak Karman menepuk-nepuk pundakku.
"Trikmu makin halus .."
Aku cuma tersenyum
"Jangan-jangan kamu memang dukun?"
"Ngarang .. !" teriakku sambil menendang pantat kawanku ini. Sukarman menghidar, terus berlari dengan tawa lepasnya.
"Awas kamu .. !"
Sukarman makin tergelak.
Akupun ikutan tertawa lepas.
Ha ..ha .. !
Kami lupa, ini negara orang.
Kami lupa, kami pekerja ilegal.

***
Berikutnya :Episod akhir Bomoh Sungai Pelong
















































No comments:

Post a Comment