"Dukun. .. Orang pintar".
"Ha ..a ..ah .. !".
Aku terkejut dan terhenyak dikursi.
Om Anton dan Herman terkejut juga, kemudian tersengih.
"Pak cik tunggu saja kami dirumah, selesai shalat Isya kami kesana".
Begitu agak stabil dari rasa terkejut, aku protes dengan 'keanehan' otak sahabatku ini.
"Kamu ngawur kok om, kapan kamu lihat aku jadi dukun".
"Kan kamu biasa sowan ketempat mBah Yai".
"Aku ke mBah Yai itu belajar agama, bukan pengin jadi dukun".
"Dah lah .. kamu dulu penyiar radio, pasti biasa main sandiwara. Nah sekarang anggap saja kamu sekarang sedang main sandiwara berperan sebagai dukun, jangan sia-siakan kesempatan, duit lho ini", Sukarman memberi penekanan pada kalimat akhir. Duit .. duit, ya kami sudah berhari hari tak memegang uang, makan selalunya cuma 2 menu, nasi goreng dan nasi dengan sayur + lauk mie instan.
"Kalau ketahuan, gimana?", aku masih ragu.
"Hanya kita berempat yang tahu, rahasia terpegang teguh, Ya 'kan Om?", yang diminta penegasan Om Anton, Hermanpun tak kalah sigap, dia anggukkan kepalanya dengan mantab. Kedua orang ini sememangnya begitu, mengikuti apa kata boss, dalam hal ini ya Sukarman. "Tu .. 'kan..!, mereka siap menyimpan rahasia". Lalu ditambah lagi dengan kalimat klasik :"Rahasiamu adalah rahasia kita, apapun yang terjadi, kami akan tetap pegang teguh dan simpan kuat2 rahasia ini". Kami berempat diam, berpikir apa yang akan terjadi setelah kami tiba dirumah pasien. Pembekalan cara berdukun diberikan Sukarman berupa petunjuk praktis, yaitu : Aku disuruh mengingat kembali film Indonesia yang banyak menampilkan sosok dukun yang sedang praktek.
"Hanya kita berempat yang tahu, rahasia terpegang teguh, Ya 'kan Om?", yang diminta penegasan Om Anton, Hermanpun tak kalah sigap, dia anggukkan kepalanya dengan mantab. Kedua orang ini sememangnya begitu, mengikuti apa kata boss, dalam hal ini ya Sukarman. "Tu .. 'kan..!, mereka siap menyimpan rahasia". Lalu ditambah lagi dengan kalimat klasik :"Rahasiamu adalah rahasia kita, apapun yang terjadi, kami akan tetap pegang teguh dan simpan kuat2 rahasia ini". Kami berempat diam, berpikir apa yang akan terjadi setelah kami tiba dirumah pasien. Pembekalan cara berdukun diberikan Sukarman berupa petunjuk praktis, yaitu : Aku disuruh mengingat kembali film Indonesia yang banyak menampilkan sosok dukun yang sedang praktek.
Pakcik yang tadi bertandang kerumah kami, membalas salam kami sambil membuka pintu dan mempersilahkan aku dan Sukarman masuk kedalam rumahnya. Aku melangkah masuk diikuti Sukarman dan tuan rumah menyusul dibelakang setelah sebelumnya menutup pintu dengan deritan engsel yang cukup keras. Sedikit heran, aku memperhatikan ruangan, semuanya serba sederhana dan seperti dikemas dengan terburu-buru, mungkin karena kami akan datang kesini. Aku duduk ditikar bersebelahan Sukarman, didepan kami duduk pakcik pemilik rumah, wanita setengah baya, dan seorang ibu muda sambil memangku seorang bocah perempuan berusia sekitar 2 tahun. Kami berbasa-basi, sebenarnya bukan kami, karena aku sendiri lebih banyak diam mengingat Bahasa Melayu baru beberapa hari ini aku 'akrabi'.
"Ini Izzah, yang kurang enak badan dan kalau malam selalu saja menangis",
Aku memandangi Izzah dan melempar senyum bersahabat, sementara mata bening sicomel ini menatapku, secara naluri aku merasakan anak ini menerima kehadiranku dirumahnya. Dan sambil tak melepas pandangan matanya, tiba-tiba diluar dugaanku, anak ini tersenyum malu lalu menyembunyikan wajahnya diketiak ibunya. Semua yang ada diruang tamu menyambut kelakuan Izzah dengan tertawa lepas. Kembali anak cantik ini menoleh kearahku dan kembali melepas senyuman, kali ini Izzah tak menyembunyikan wajahnya. Entah karena dorongan dari mana, aku menjulurkan kedua tanganku meraihnya, Izzah berdiri dan menurut saja. Sesaat kemudian dia sudah ada dipangkuanku. Kali ini semua mata tertuju kearahku, aku tak peduli, aku masih berkomunikasi dengan anak ini, dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang aku mengusap usap kening sibocah, diluar kesadaranku aku meniup ubun-ubun anak ini, lalu aku miminta segelas air putih. Bergegas ibu anak ini mengambilkan permintaanku.
Segelas air putih didepanku kuambil dan aku berkomat komit seperti mbah dukun membaca mantera, lalu kutiup air dalam gelas ini dan mengucapkan Al Fatihah. Kami berlima membaca surat Al Fatihah dengan khusu. "Bila Izzah bangun nanti, minumkan air ini, berhentilah apa bila dia selesai meminumnya", kataku berpetuah.
Kusorongkan Izzah keemaknya. Kami berpamitan hendak pulang, kusalami mereka semua, khusus untuk Izzah aku mengusap pipinya sambil berucap :"Izzah bobok ya, .. jangan nangis lagi". Sebelum aku melangkah melewati pintu pakcik memasukkan sesuatu disaku bajuku, sambil berterima kasih padaku karena sudah sudi menolongnya.
Aku memandangi Izzah dan melempar senyum bersahabat, sementara mata bening sicomel ini menatapku, secara naluri aku merasakan anak ini menerima kehadiranku dirumahnya. Dan sambil tak melepas pandangan matanya, tiba-tiba diluar dugaanku, anak ini tersenyum malu lalu menyembunyikan wajahnya diketiak ibunya. Semua yang ada diruang tamu menyambut kelakuan Izzah dengan tertawa lepas. Kembali anak cantik ini menoleh kearahku dan kembali melepas senyuman, kali ini Izzah tak menyembunyikan wajahnya. Entah karena dorongan dari mana, aku menjulurkan kedua tanganku meraihnya, Izzah berdiri dan menurut saja. Sesaat kemudian dia sudah ada dipangkuanku. Kali ini semua mata tertuju kearahku, aku tak peduli, aku masih berkomunikasi dengan anak ini, dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang aku mengusap usap kening sibocah, diluar kesadaranku aku meniup ubun-ubun anak ini, lalu aku miminta segelas air putih. Bergegas ibu anak ini mengambilkan permintaanku.
Segelas air putih didepanku kuambil dan aku berkomat komit seperti mbah dukun membaca mantera, lalu kutiup air dalam gelas ini dan mengucapkan Al Fatihah. Kami berlima membaca surat Al Fatihah dengan khusu. "Bila Izzah bangun nanti, minumkan air ini, berhentilah apa bila dia selesai meminumnya", kataku berpetuah.
Kusorongkan Izzah keemaknya. Kami berpamitan hendak pulang, kusalami mereka semua, khusus untuk Izzah aku mengusap pipinya sambil berucap :"Izzah bobok ya, .. jangan nangis lagi". Sebelum aku melangkah melewati pintu pakcik memasukkan sesuatu disaku bajuku, sambil berterima kasih padaku karena sudah sudi menolongnya.
Malam ini aku gelisah, tak bisa tidur memikirkan kejadian pertama kali dalam hidupku, (berpura-pura) jadi dukun. Karena nasehat Sukarmanlah yang aku bisa agak sedikit tenang. Kalau besok terjadi sesuatu kita hadapi bersama-sama dengan resiko terberat ditangkap polis dan dipaksa pulang ke Indonesia.
Pagi hari aku duduk didepan rumah memadang matahari yang menyembul diatas bukit sebelah Timur, sendirian. Perasaanku tak karuan, ketakutan masih menghantuiku karena ulahku tadi malam, bisa jadi pakcik jengkel padaku karena sibocah justru nangisnya kian menjadi, lalu melapor ke polis. Macam2 pikiran jelek juga kuarahkan ke Sukarman dan Om Anton (istri mereka bersaudara), sewaktu bangunku mereka sudah tidak ada dirumah, jangan-jangan mereka sudah melarikan diri. Ditengah kekalutanku ternampak Sukarman dan Om Anton mendorong gerobah sambil tertawa-tawa.
"Dari Datuknya Izza, subuh tadi datang dan mengajak aku kekebunnya".
Aku melongok kedalam gerobok... wow gerobak penuh rambutan merah ranum.
Sukarman berbisik kearahku :"Pakai do'a apa kamu ? Izzah tadi malam tidur nyenyak".
"Dari Datuknya Izza, subuh tadi datang dan mengajak aku kekebunnya".
Aku melongok kedalam gerobok... wow gerobak penuh rambutan merah ranum.
Sukarman berbisik kearahku :"Pakai do'a apa kamu ? Izzah tadi malam tidur nyenyak".
"Iye ke ?"
"He'eh"
"Alhamdulillah", tanpa kusadari kedua tanganku menengadah keatas.
"Alhamdulillah", tanpa kusadari kedua tanganku menengadah keatas.
***
Berikutnya : Bomoh Sungai Pelong (bag.3)
No comments:
Post a Comment