Memaknai hidup dengan memberi arti untuk hal-hal yang kecil ..... Menjalani hidup dengan apa adanya ..... Mensyukuri dan menikamati kekurangan yang ada

Wednesday, October 7, 2015

Episode Akhir Sang Bomoh Sungai Pelong

Tahun 1997 - akhir 1998, negara-negara di Asia Tenggara mengalami krisis ekonomi, tak juga luput negara maju seperti Malaysia juga terkena. Menurut pakar ekonomi, musibah ini dikarenakan ulah seorang pialang asal negeri nun diseberang sana, George Soros, sampai-sampai, karena kesal dan kelewat jengkel, PM Malaysia, yang dikenal santun, bijak dan berwibawa, melontarkan perkataan mengejutkan, bahwa George Soros, adalah perampok. Untuk menyelematkan keuangan negaranya, PM. Tan Sri Mahathir Muhammad mengambil jurus jitu yang pro rakyat, rakyat diminta untuk menahan diri untuk berbelanja yang tidak perlu dan dihimbau untuk meminum teh tanpa gula hingga siutuasi ekonomi membaik. Sifatnya himbauan, tapi jangan salah anjuran ini ditaati oleh warga Malaysia. Kebijkasanaan yang diambil pemerintah sangat sederhana dan mudah untuk diterjemahkan oleh seluruh warganya, makanya  tidak heran kalau krisis ekonomi dinegara ini cepat teratasi. (Maaf, kalau saya sempat membandingkannya dengan anjuran Pemerintah Indonesia dalam pidatonya saat itu, bahwa rakyat Indonesia diminta untuk mengencangkan ikat pinggang. Saya mengartikannya, kami harys siap menahan lapar (?). Waduh ..)

Tidak bisa tidak, kami para pekerja dari Indonesiapun terkena imbas dari situasi ini, proyek binaan dihentikan semenatara, kami diistirahatkan. Bagi yang memiliki permit kerja masih menerima gaji separo perharinya, sedangkan yang pekerja ilegal, tidak menerima gaji sama sekali, hanya saja kami diberi pinjaman untuk keperluan sehari-hari yang akan dibayar ketika kami kerja nanti. Meskipun tak ada pekerjaan, tapi kami tak perlu mengencangkan ikat pinggang. masih ada uang pinjaman, walau kita harus pandai mengatur pengeluaran keuangan kami.

Aku.. diminta Herman untuk tinggal dirumahnya, Kg. Changkat,  kurang lebih 2 km masuk kedalam dari GBC (Gombak base Camp), ini sesuai rencananya sewaktu kami, aku dan Herman masih tinggal di Sungai Pelong. Sedangkan Om Anton, Sukarman dan Toni, tinggal diproyek binaan di Batu Caves, ikut Pak Mul, tangan kanan Touke A Kiong pemborong kerja kayu, yang lebih suka dipanggil A Pek. Kalau pekerjaan sudah berjalan Sukarman berjanji untuk menjemputku.
Rencana yang kami susun yaitu meneruskan profesiku (pura-pura) sebagai dukun. Kenapa harus dirumah Herman ? Ternyata disini pernah tinggal seorang dukun (kata Herman dukun palsu) Bentar namanya,  berasal dari satu daerah dengan Herman. Pertimbangannya dengan aku berdukun dirumahnya akan cepat dikenal, karena masih banyak pasien Bentar yang berdatangan untuk dimaterai,  padahal Sang Bomoh sudah lama pulang ke Indonesia. 
Ide yang cemerlang (he .. he .. ternyata aku mulai menikmati pekerjaan bohongku), aku menyetujuinya dengan satu syarat segala yang diakibatkan oleh ulahku ini akan ditanggung sendiri - sendiri tanpa melibatkan teman.

Aku buka praktek sore hari, sebelum azan maghrib aku sudahi pekerjaanku, kalau masih ada pasien, Herman yang bertugas penerima tamu (?) akan mempersilahkan datang esok hari, dengan saran untuk datang lebih awal. Dari hasil kerjaku ini, terasa hidupku tercukupi (hanya untuk hidup di Malaysia, tidak ada hasil dari berdukun ini kukirim ke Indonesia), bahkan lebih dari layak. Hal ini karena aku menggunakan aji mumpung dengan mengkomersilkan keahlianku mempengaruhi jalan pikiran mereka. Apa lagi yang datang kebanyakan bukan pasien sakit, tapi orang berduit yang  ingin beristri lagi, pengin tambah ditakuti bawahan, pengin diterima bekerja atau pengin naik jabatan. Jika yang datang ingin berobat, adalah tugas Herman untuk menolaknya. Ha .. karena aku sama sekali nggak paham tentang penyakit apalagi menyembuhkannya.

Untuk memuluskan usahaku, kepada para tamu aku tak segan-segan mengaku sebagai ajudan bomoh yang dulu pernah tinggal disini. Kuceritakan juga selama ini aku buka praktek di Sungai Pelong, lalu pindah ke Kp. Changkat untuk menggantikan Bentar. Karea aku orang dekat Bentar, mereka makin percaya keahlianku, ini bisa kutahu karena mereka berkali-kali datang. Hanya saja aku salah duga, pengakuanku yang kukira membuat aku makin sakti dimata mereka, ternyata  berujung celaka.

Seseorang diluar rumah mengucapkan salam. Herman membuka pintu dan mempersilahkan masuk ternyata bukan seorang tapi 3 orang tamu, semuanya pria. Aku mempersilahkan duduk, dikarpet. ruang tamu kami tidak bermeja dan berkursi tamu, bukan sekedar alasan praktis, lebih pada pertimbangan ekonomis. Kalau kami pindah rumah tak perlu kami repot mengusungnya, begitu juga  perabotan lainnya, kalau memang bisa dijual, kami jual, kalau tidak laku ya .. ditinggal.
Mula mula tamu kami ini bersifat ramah, mereka mengatakan perihal kedatangannya, rupanya mereka merasa menjadi korban Bentar, yang dimintai uang mahar untuk sebongkah batu yang berkasiat,  sayangnnya hingga sekarang azimat itu tidak pernah mereka terima. Dan aku sebagai ajudannya diminta untuk bertanggung jawab harus mengembalikan uang mereka. Aku tidak langsung menolak permintaan mereka, kawatir terjadi keributan. Kusuruh mereka bersabar, bulan depan Bentar akan datang dari Indonesia (satu alasan yang kucari-cari, tidak ada kebenarannya sama sekali). Ke-3 orang ini tidak mau tahu, pokoknya malam ini juga mereka harus pulang dengan membawa tuntutan mereka.

Terjadi perdebatan. Situasi memanas. Tiba-tiba dengan kecepatan layaknya pesilat tangguh, tamu yang tepat didepanku melesat dan mencengkeram kerah bajuku dan tangan kanannya mengancam mukaku dengan kepalan tinjunya.
"Nak ini ..!", teriaknya.
Herman langsung melompat dan duduk diantara aku dan penantangku, lalu mendorong lelaki yang mau meninjuku, hingga terjatuh telentang, namun dengan sigap dia berdiri, disusul Herman ikut berdiri. Situasi tambah runyam, karena dua laki-laki lainnya ikut berdiri dan mulai mengepung Herman.
Ditengah suasana genting, tak disangka 4 orang masuk dalam rumah yang tak tertutup pintunya. Dengan tampang seram 4 orang yang baru masuk ini matanya melotot kearah dan mendorong-dorong keluar ketiga tamuku tadi.
"Pulanglah, tak payah balik sini lagi",
"Ok, kami pulang, tapi persoalan belum lagi selesai".
"Hah .. apa awak cakap ? Awak nak ugut kami, Jangan awak tampakkan batang hidung awak di Changkat ini kalau nak selamat. Camkan ini", kali ini giliran sipenolongku yang mengacam.
Dua orang kawannya cepat menarik keluar, dari pada perekelahian tak seimbang, mundur tentu saja lebih aman.
"Padam muke ..", Herman dengan logat kental kejawa-timurannya berteriak tertahan.

Esok harinya, aku dan Herman bersiap pergi, pintu sudah kami gembok. Sementara kami akan mengungsi dulu di GBC.
"Jum .. berangkat",
"Jum .."
Aku masih terpaku didepan pintu, membaca lagi tulisan disecarik karton yang kami siapkan tadi malam : BOMOH TAK BERLESEN, MASUK LOKAP, artinya dukun tak berijin dipenjara.

***
(Berikutnya : Sukarman Menyerahkan Diri)

Catatan :
Siapakah keempat penolongku tadi ?
Mereka adalah anak-anak kampung yang berlagak preman. Hampir setiap malam mereka datang mengunjungi kami, untuk sekedar merokok, minum air tin serta kue. Kami tak keberatan dengan kedatangan mereka, toh .. rokok, air tin dan kue yang kami suguhkanpun kami peroleh dengan gratis dari tetamu kami.













1 comment: